Tafsir Surat Yasin [36] 15-19: Jangan Membantah Ajakan Kebaikan Seperti Ashabul Qaryah, Begini Akibatnya!

0
252

BincangSyariah.Com- Kisah Ashabul Qaryah dalam surat Yasin dimulai dari ayat ke-13. Nabi Muhammad memberikan peringatan kepada kaum Quraisy dengan mencontoh kisah Ashabul Qaryah, penduduk suatu negeri yang sebagian Tafsir menyebut berada di negeri Anthakiah dan di masa Nabi Isa as. Mereka merupakan penduduk yang membantah dakwah utusan Nabi Isa dan mendebatkan ajakan kebaikan, kemudian di akhir kisahnya, Ashabul Qaryah pun dibumihanguskan oleh Allah.

Potret Ashabul Qaryah membantah ajakan kebaikan dari para utusan Nabi Isa dan menyebutnya sebagai pendusta terekam pada surat Yasin [36] ayat 15-19, sebagai berikut,

قَالُوا۟ مَاۤ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرࣱ مِّثۡلُنَا وَمَاۤ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ مِن شَیۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ١٥ قَالُوا۟ رَبُّنَا یَعۡلَمُ إِنَّاۤ إِلَیۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ١٦ وَمَا عَلَیۡنَاۤ إِلَّا ٱلۡبَلَـٰغُ ٱلۡمُبِینُ ١٧ قَالُوۤا۟ إِنَّا تَطَیَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَىِٕن لَّمۡ تَنتَهُوا۟ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَیَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِیمࣱ ١٨  قَالُوا۟ طَـٰۤىِٕرُكُم مَّعَكُمۡ أَىِٕن ذُكِّرۡتُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمࣱ مُّسۡرِفُونَ  ١٩

“Mereka (Ashabul Qaryah) menjawab, ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka. Mereka (para utusan) berkata, “Tuhan kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”

Mereka (Ashabul Qaryah) menjawab, ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami.’  Para utusan berkata, ‘Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenanya kamu adalah kaum yang meampaui batas’.”

Sebelumnya, utusan ketiga yakni Syam’un yang menyamar layaknya pengikut raja Anthakiah telah terungkap identitas aslinya, setelah Bersama dua utusan lain membangunkan orang mati atas permintaan Sang Raja. Karena inilah, Ashabul Qaryah marah dan menyangkal para utusan itu, mereka mengingkari kerasulan para utusan.

Baca Juga :  Bagaimana Hukum Mencukur Rambut Kemaluan?

Lagi-lagi, para utusan itu menjelaskan bahwa Allah-lah yang mengutus mereka dan mendapatkan tugas untuk berdakwah kepada Ashabul Qaryah. Masih dengan ke-ngeyelan, Ashabul Qaryah menyebut bahwa karena kedatangan para utusan itu, negerinya menjadi sengsara.

Muqatil dalam Tafsir Al-Qurthubi menyebut bahwa keadaan negeri tersebut tidak menerima hujan selama 3 tahun, ada juga yang menyebut mereka tinggal di negeri itu selama sepuluh tahun. Sedangkan Tafsir Al-Ibriz dan Tafsir Yasin Hamami menyebut bahwa keadaan kekeringan tanpa hujan diiringi dengan banyaknya penyakit dan suasana lainnya berubah menjadi tidak nyaman, setelah para utusan itu datang.

Ashabul Qaryah mengatakan bahwa jika para utusan itu tidak berhenti mengajak kepada kebaikan, mengajak menyembah Allah, justru Ashabul Qaryah akan merajam dan akan menyiksa mereka. Qatadah dalam Tafsir Al-Qurthuby berkata “Ia tetap berarti rajam, yaiu melempar dengan batu.” Sedangakan Al-Farra’ berkata bahwa mereka akan dibunuh. Ini juga maksud dari siksa yang jauh lebih pedih.

Lantas, para utusan mengatakan bahwa perbuatan Ashabul Qaryah sendirilah yang menyebabkan keadaan mereka menjadi sial dan sengsara. M. Quraish Shihab menyebut bahwa, lafadz tathayyarna dan Thairukum yang berarti nasib merujuk pada kata thair yang artinya burung.

Masyarakat jahiliyah biasa melepas burung sebelum bepergian. Bila burung terbang dari arah kanan ke kiri mereka percaya nasibnya akan baik, sedangkan jika burung terbang dari arah kiri ke kanan mereka percaya nasibnya akan buruk.

Masih menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, biasanya orang-orang yang menganut kepercayaan sial dan mujur dengan menyandarkan sebab-sebab terjadinya peristiwa kepada hal-hal yang bersamaan dengan peristiwa itu. Mereka hanya mencari kambing hitam, bukan faktor-faktor benyebab yang sebenarnya.

Baca Juga :  Surah Alquran yang Sunah Dibaca pada Hari Arafah

Dalam konteks ayat ini, para penduduk yang durhaka itu menganggap bahwa seluruh kesialan, kesengsaraan dan hal-hal buruk yang terjadi mereka alami karena kehadiran para rasul yang ajarannya mereka tolak. Anehnya jika mereka mendapatkan sesuatu yang positif, mereka enggan menyebut kehadiran para rasul sebagai penyebabnya, tetapi mencari sebab lain yang berbarengan dengan kejadian itu.

Akhirnaya, para utusan itu menyebut bahwa penduduk negeri (Ashabul Qaryah) adalah orang-orang yang melampaui batas. Qatadah dalam Tafsir Al-Qurthuby menyebut bahwa mereka melampaui batas tentang ungkapan nasib malangnya, sedangkan Yahya bin Salim menyebut mereka melampaui batas dalam kekufuran mereka.

Setelah ayat ini, singkat cerita para utusan itu didatangi Habib An-Najjar seorang penduduk asli Anthakiah. Ia pun mengajak para penduduk negeri untuk menyembah Allah. Sayangnya, Ashabul Qaryah itu justru membunuh para utusan dan Habib An-Najjar.

Lantas, Allah menghancurkan Ashabul Qaryah.

Wallahu A’lam bi al-Shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here