Syarat-syarat Sah Shalat

0
1534

BincangSyariah.Com – Shalat memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap orang Islam sebelum dilakukan. sehingga jika syarat-syarat tersebut belum terpenuhi, maka hal ini akan mempengarui terhadap keabsahan shalat, karena syarat yang harus dipenuhi belum lengkap.

5 Syarat Sah Shalat

Imam Abu Syuja’ di dalam kitab Taqrib-nya menjelaskan bahwa syarat-syarat sebelum hendak melaksanakan shalat itu ada lima:

وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء طهارة الأعضاء من الحدث والنجس وستر العورة بلباس طاهر والوقوف على مكان طاهر والعم بدخول الوقت واستقبال القبلة, ويجوز ترك القبلة في حالتين: في أشد الخوف وفي النافلة في السفر على الراحلة.

Pertama, sucinya anggota badan dari hadas dan najis, baik hadas besar (hadas yang mewajibkan mandi seperti haid, nifas dan junub) atau hadas kecil (hadas yang tidak mewajibkan mandi besar, cukup dengan wudhu, seperti kencing dan kentut). Dan hal ini tatkala ia mampu melaksanakannya, yakni ketika dalam kondisi dan situasi yang normal).

Adapun bagi orang yang tidak mampu melakukan bersuci dari hadas besar dan kecil (karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan), maka shalatnya tetap sah, namun harus diulang kembali shalatnya setelah situasi dan kondisi normal). Misalnya, ketika kita pergi ke suatu tempat dan tidak menemukan air ataupun debu untuk bersuci dari hadas, maka kita tetap diwajibkan shalat. Shalat yang kita kerjakan itu dalam istilah fikih disebut dengan shalat li hurmatil waqti. Jadi, shalat yang kita kerjakan tersebut harus diulang ketika kita sudah mendapati air atau debu. Selain  suci dari hadas, orang yang hendak shalat juga harus suci dari najis yang tidak bisa ditolerir, seperti najis kotoran hewan ataupun manusia.

Baca Juga :  Melihat Bangkai Nyamuk Menempel di Baju saat Salat, Apakah Salat Sah?

Kedua, menutup aurat dengan pakaian yang suci. Menutup aurat harus dilakukan bagi setiap orang Islam yang hendak melaksanakan shalat ketika dalam keadaan memungkinkan, meskipun ia berada di tempat yang gelap. Dan seandainya ia tidak mampu menutup aurat, karena tidak mempunyai pakaian misalnya, maka ia diperbolehkan shalat dalam keadaan telanjang dan tidak ada keharusan untuk mengulang kembali.

Adapun auratnya laki-laki muslim adalah antara pusar dan lutut. Sedangkan bagi wanita, maka auratnya yang harus ditutup ketika shalat adalah seluruh anggota badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan bagian depan dan belakang sampai pergelangan tangan.

Ketiga, berdiri di tempat yang suci. Jadi, bagi setiap muslim ketika hendak melaksanakan shalat harus memastikan tempat yang ia gunakan untuk shalat itu bersih dan terhindar dari najis. Keempat, memastikan waktu shalat sudah masuk, atau setidaknya ia menduga dengan ijtihad, seperti melihat jam atau tanda-tanda alam, bahwa waktu shalat telah masuk. Jika ada seseorang yang melaksanakan shalat tanpa memastikan masuknya waktu shalat, maka shalatnya tidak sah.

Kelima, menghadap kiblat. Maka bagi setiap muslim yang hendak melaksanakan shalat harus menghadap kiblat. Namun diperbolehkan tidak menghadap kiblat ketika dalam dua keadaan. Pertama, dalam keadaan yang sangat menghawatirkan, misalnya di dalam peperangan (yang diperbolehkan agama) baik shalat fardhu maupun shalat sunah. Termasuk dalam hal ini juga ketika kita sedang shalat, kemudian ada banjir bandang datang atau ada hewan buas mendekat, dan lain sebagainya. Kedua, dalam shalat sunah yang dilakukan sewaktu sedang berpergian dan posisi di atas kendaraan. Maka bagi orang yang sedang berpergian yang diperbolehkan dalam syariat (yakni tidak bertujuan maksiat) meskipun jaraknya sangat dekat diperbolehkan shalat sunah di atas kendaraan dengan menghadap ke arah tempat tujuannya. Demikianlah lima hal yang harus dipenuhi setiap muslim yang hendak melaksanakan shalat. Wa Alahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here