Syarat-Syarat Sah Puasa Ramadhan

9
1831

BincangSyariah.Com – Berpuasa di bulan Ramadhan sudah menjadi rutinitas bagi setiap muslim di manapun berada. Karena hal ini merupakan kewajiban dari Allah Swt. Sebagaimana termaktub dalam surah Albaqarah ayat 183

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Namun sebelum menunaikan kewajiban puasa di bulan Ramadhan ada empat syarat sahnya puasa yang harus diperhatikan. Empat hal itu sebagaimana tersebut dalam kitab Attahrir karya Syekh Zakariya al Anshari (juz. 1 Assyarqawi Attahrir, halaman 419-420) berikut ini:

(شَرْطُ صِحَّتِهِ) أَرْبَعَةُ أَشْياَءَ (اِسْلاَمٌ وَعَقْلٌ وَنَقَاْءٌ مِنْ  نَحْوِ حَيْضٍ) كَنِفَاسٍ (وَعِلْمٌ بِالْوَقْتِ) وَهَذَا عَدَّهُ الْأَصْلُ مِنْ فُرُوْضِهِ الْآتِيَةِ وَعَبَّرَ عَنْهُ بِالْعِلْمِ بِالشَّهْرِ فَلاَيصح صوم كافر ولامجنون ولا مغمى عليه لم يفق لحظة من نهاره ولا نحو حائض ولا من جهل دخول وقت الصوم.

Syarat sebelum melakukan puasa itu ada empat:

Pertama. Islam. Maka puasa tidaklah sah dilakukan bagi orang kafir murni sejak lahir, atau bagi orang murtad (keluar dari agama Islam), sekalipun di pertengahan melaksanakan puasa ia keluar dari agama Islam, maka puasanya tidak sah atau batal.

Kedua, berakal. Maka bagi orang yang mengidap penyakit gila, atau  epilepsi (ayan) yang tidak memiliki kesadaran sedikit pun di siang hari, jika mereka melaksanakan puasa maka puasanya tidak sah. Namun, jika ada seseorang yang tidur seharian, maka puasanya tidak batal, karena ia masih memiliki kendali akal yang sehat meskipun dalam keadaan tidur.

Ketiga, bersih dari haid dan nifas. Syarat yang ketiga ini ditujukan bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Jika mereka sengaja menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum dengan niat puasa, maka puasanya tetap tidak sah. Karena dia masih menanggung hadas besar yakni haid dan nifas.

Puasa boleh dilakukan bagi keduanya jika telah suci dari haid dan nifas. Namun, misalnya ada seseorang wanita yang sudah berpuasa, namun di siang harinya sekitar jam 12 siang ia mengeluarkan darah haid, maka seketika itu puasanya batal. Bahkan lima menit sebelum azan pun, jika ia mengeluarkan darah, puasanya tetap batal meskipun ia telah lakukan hampir mendekati azan maghrib.

Baca Juga :  Panduan Lengkap dan Praktis Ibadah Umrah (1)

Keempat. Mengetahui waktu puasa. Maka wajib bagi orang yang melakukan puasa mengetahui jika telah memasuki tanggal satu Ramadhan, baik cara mengetahuinya dengan sempurnanya bulan Sya’ban atau dengan cara ru’yatul hilal.

Di Indonesia, telah diorganisir oleh menteri agama dari pemerintahan yang akan mengumumkan penetapan tanggal satu Ramadhan, maka cukuplah bagi kita untuk dapat mengetahui waktu puasa dengan mengikuti penetapan pemerintah tersebut.

Pengertian syarat sahnya puasa yakni mengetahui waktu puasa juga diartikan bahwa seseorang tersebut mengetahui akan waktu-waktu yang diperbolehkan puasa. Jadi ia tidak akan berpuasa di waktu-waktu yang diharamkan untuk berpuasa.

Seperti puasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, puasa di hari-hari tasyrik, 11, 12, dan 13 Dzulhijah atau hari yang diragukan yakni tanggal 30 Sya’ban, karena dikhawatirkan pada tanggal tersebut, ada seseorang yang telah melihat bulan/ru’yah. Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi setiap muslim yang akan melaksanakan ibadah puasa.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

 

9 KOMENTAR

  1. Apabila waktu berhubungan intim, belum mandi junub hingga matahari terbit, jam 6 lewat saat bulan Ramadhan, sah kah puasanya ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here