Syarat-syarat menjadi Wali Nikah

0
522

BincangSyariah.Com – Salah satu rukun nikah adalah adanya wali. Lalu apa saja syarat-syarat menjadi wali nikah?

Di dalam kitab Al Fiqh Al Manhaji Ala Madzhab Al Imam Al Syafii disebutkan bahwa ada tujuh hal syarat menjadi wali nikah.

Pertama, beragama Islam. Maka wali yang tidak beragama Islam tidak boleh menikahkan wanita muslimah. Hal ini berdasarkan firman Allah swt.:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (Q.S. Annisa’:141).

Alasan lainnya juga adalah karena perbedaan agama itu menjadi penghalang untuk mewariskan harta, yakni muslim dan nonmuslim tidak boleh saling mewariskan harta. Oleh karena itu, mereka pun tidak memenuhi syarat menjadi wali nikah.

Kedua, adil. Maksud dari adil disini adalah wali tersebut bukan orang yang pernah melakukan salah satu dosa-dosa besar, bukan orang yang selalu melakukan dosa kecil serta bukan orang yang melakukan sesuatu yang dapat merusak harga diri, seperti kencing sembarang di jalanan, berjalan dengan telanjang dan lain-lain.

Oleh karena itu, tidak boleh orang yang fasik (dengan ciri-ciri tersebut) menikahkan wanita mukminah, tetapi hendaknya hak perwaliannya itu diserahkan kepada pihak yang boleh menjadi wali lainnya yang lebih adil.

Hal ini berdasarkan pada atsar sahabat Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan:

 لا نكاح إلا بولي مرشد وشاهدي عدل

Tidak ada nikah kecuali dengan wali yang mursyid (adil) dan adanya dua orang saksi yang adil. (Musnad Asy Syafii).

Ketiga, balig. Bagi anak kecil tidak boleh menjadi wali nikah, karena tidak adanya sifat kewalian pada dirinya, maka ia pun tidak boleh menjadi wali untuk selain dirinya.

Baca Juga :  Hukum Sujud Tilawah

Keempat, berakal. Maka orang gila tidak boleh menjadi wali, karena ia tidak memiliki sifat kewalian, yakni menjadi wali untuk dirinya sendiri saja tidak bisa apalagi menjadi wali orang lain.

Kelima, selamat dari sakit yang disebabkan oleh pandangan.  Maka tidak boleh menjadi wali, seseorang yang sakit pandangannya (kabur), sebab faktor usia yang tua, atau mabuk. Karena lemahnya mereka dari memilih sesuatu yang berkualitas. Namun, jika ia hanya sakit kemudian pingsan atau sakit epilepsi, maka ia tetap boleh menjadi wali setelah ia sadar karena sakit tersebut mudah hilang seperti tidur.

Keenam, ia bukan orang yang mengalami keterbelakangan mental. Yakni orang yang suka menghambur-hamburkan uang, sehingga ia tidak bisa menjadi wali untuk dirinya sendiri apalagi menjadi wali orang lain.

Ketujuh, ia bukan orang yang sedang ihram haji atau umrah. Maka bagi orang yang sedang ihram, ia tidak boleh menikahkan orang lain. Hal ini berdasarkan hadis

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم:لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ

Dari Usman bin Affan r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang sedang ihram tidak boleh menikahkan dan dinikahkan serta tidak boleh meminang.” (HR. Muslim).

Demikianlah syarat-syarat wali nikah, dimana jika wali yang dekat itu tidak memenuhi syarat, maka hak wali itu berpindah pada pihak yang boleh menjadi wali-wali berikutnya. Wa Allahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.