Sunnah Shalat Gerhana Bulan Penumbra pada 6 Juni 2020

3
1529

BincangSyariah.Com- Syariat Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk melaksanakan beberapa ibadah seperti shalat gerhana, sedekah, zikir serta perbuatan baik lainnya ketika terjadinya gerhana. Perintah untuk beribadah pada saat terjadi gerhana ini merupakan wujud pengagungan terhadap kekuasaan Allah yang bisa dilihat secara nyata dalam peristiwa gerhana yang luar biasa ini.

Adanya pensyariatan ibadah ketika terjadi gerhana ini ditunjukan dengan adanya anjuran dari Nabi Muhammad dalam beberapa sabdanya. Salah satu riwayat mengenai ibadah ketika terjadi gerhana ini adalah hadis dari Ibnu Umar yang menceritakan dari Nabi Muhammad SAW:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا

“Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kehidupannya (kelahirannya). Akan tetapi keduanya adalah dua tanda diantara tanda-tanda kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya (mengalami gerhana), maka shalatlah”. (HR. Bukhari: 1042)

Shalat gerhana, sebagaimana dalam hadis ini, diperintahkan kepada umat Islam apabila melihat Matahari atau Bulan sedang mengalami gerhana (roaitumuha). Dengan demikian penyebab dari adanya kesunahan untuk melaksanakan shalat gerhana ini adalah melihat gerhana Matahari atau Bulan. Apabila tidak melihat, maka tidak ada kesunahan untuk melaksanakan shalat gerhana karena dalam fiqih terdapat sebuah kaidah bahwa ada atau tidaknya hukum tergantung dari ada atau tidaknya sebab (illat) dari hukum tersebut.

الحكم يدور مع علته وجودًا وعدمًا

“Hukum itu berputar bersama illatnya mengenai ada atau tidaknya”

Tidak adanya kesunahan shalat gerhana ini seperti ketika terjadi gerhana Matahari di negara lain sedangkan wilayah Indonesia tidak mengalami gerhana ini, maka masyarakat yang ada di Indonesia tidak bisa melihat gerhana tersebut. Oleh karena itu bagi masyarakat Indonesia tidak ada kesunahan untuk melaksanakan shalat gerhana karena tidak melihat gerhana meskipun pada saat tersebut memang ada peristiwa gerhana yang terjadi di negara lain. Sama halnya dengan gerhana Matahari, pada peristiwa gerhana Bulan juga berlaku demikian, terlebih lagi dalam gerhana Bulan penumbra yang terjadi selama tahun 2020 ini. (Baca: Pertengahan Syawal 1441 H ini, Gerhana Bulan Penumbra Akan Kembali Terjadi di Indonesia)

Baca Juga :  Kenapa Rasulullah Sebut Pahala Jamaah Shalat Subuh dan Ashar Adalah Jaminan Surga?

Jika dilihat dari proses terjadinya, gerhana Bulan penumbra terjadi pada saat Matahari-Bumi dan Bulan sedang beroposisi, namun posisi Bulan tidak sampai pada daerah bayangan inti Bumi atau umbra. Bulan hanya sampai pada bayangan semu Bumi saja sehingga bentuk Bulan masih akan tampak utuh seperti keadaan purnama biasa, hanya saja kecerahannya menjadi berkurang karena terkena bayangan semu Bumi tersebut.

Bentuk Bulan yang masih utuh ketika terjadinya gerhana penumbra ini kemudian memberi makna bahwa Bulan tidak mengalami inkasyafa atau saling menutupi ketika peristiwa ini terjadi. Sehingga secara fiqih, gerhana penumbra ini bukan kategori peristiwa gerhana karena tidak adanya persitiwa inkasyafa atau saling menutupi tersebut.

Hal ini pula yang mungkin menjadikan kitab-kitab falak klasik yang dikarang oleh para ulama pesantren tidak ada yang mencantumkan perhitungan untuk fase gerhana penumbra ini. Hampir semua kitab falak klasik yang tersebar di Indonesia seperti Sulam al-Nayyirain, Nur al-Anwar, al-Khulashah al-Wafiyyah dan lain-lainya, menerangkan bahwa awal gerhana Bulan dimulai ketika Bulan menjadi gelap atau bentuknya mulai berubah. Hal seperti ini bisa terjadi ketika Bulan memasuki bayangan umbra Bumi.

Fase penumbra ini sendiri karena sifatnya yang samar-samar menjadikannya susah untuk diamati dengan mata telanjang, sehingga hampir tidak bisa dibedakan antara ketika telah terjadi gerhana atau belum terjadi. Kesulitan dalam mengamati fase penumbra ini menjadikan masyarakat secara umum tidak bisa melihat adanya peristiwa ini karena memang tidak tampak perubahan pada bentuk Bulan. Inilah yang kemudian menyebabkan kesunahan shalat khusuf pada gerhana penumbra ini juga menjadi tidak ada, karena sebab yang menjadikan sunnahnya shalat ini juga tidak ada.

Meskipun demikian, para astronom tetap menganggap peristiwa ini sebagai gerhana Bulan, karena pada saat tersebut, Bulan juga memasuki bayangan Bumi. Namun hanya sampai pada bayangan sekunder atau bayangan semu saja. Oleh karena itu gerhana Bulan penumbra secara astronomi termasuk sebuah peristiwa gerhana, namun secara fiqih tidak termasuk peristiwa gerhana karena tidak ada proses inkasyafa atau saling menutupi antara Bumi dan Bulan.

Baca Juga :  Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Penumbra Sesuai Sunnah Nabi, Terjadi pada 6 Juni 2020

3 KOMENTAR

  1. Judul dan kesimpulan akhir terjadi kontra
    Di judulnya sunnah sedangkan di akhir kesimpulan tidak disunnahkan karena tidak terjadi inkhasyafa. Trima Kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here