Shalat Tarawih Nabi

0
181

BincangSyariah.Com – Terdapat beberapa ritualitas ibadah yang seringkali diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia ketika bulan ramadan Tiba. Di antara ritualitas ibadah yang diperbincangkan adalah salat tarawih yang dilaksanakan pada malam hari bulan ramadan selepas salat isya dilaksanakan.

Perbincangan seputar pelaksanaan salat tarawih terletak dalam beberapa permasalahan, pertama, masalah jumlah rakaat tarawih yang dianjurkan, ketiga, masalah kebolehan untuk melaksanakan salat malam ketika bangun dari tidur ketika telah menutup tarawih berjamaah dengan salat witir

Sebelum membahas perbincangan yang terjadi seputar jumlah rakaat tarawih serta kebolehan melaksanakan salat malam setelah menutup tarawih dengan salat witir, terlebih dahulu tulisan ini ingin mendeskripsikan terlebih dahulu, mengapa salat sunah yang dilaksanakan setelah salat isya di bulan ramadan tersebut dinamai dengan salat tarawih.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa penyematan nama “salat tarawih” untuk salat sunah yang dilaksanakan setelah salat isya pada malam ramadan, dikarenakan ketika pertama kali pelaksanaannya, kaum muslimin mengambil rehat (istirahat) pada setiap dua kali salam. Pendapat ini, sebagaimana dikutip dari Ibnu Hajar al-Asqalani pada karyanya Fathul Bari syarh shahih al-bukhari.

Yang artinya: salat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam ramadan dinamakan dengan salat tarawih, karena kaum muslimin pada awal pelaksanaannya beristirahat (yastarihun) di setiap dua kali salam.

Sedangkan sebagian ulama lain, ada yang berpendapat bahwa penyebutan salat tarawih untuk salat sunah setelah isya pada bulan ramadan didasari oleh cara pelaksanaan salat tarawih oleh Rasulullah SAW yang terhitung sangat Panjang (lama) di setiap rakaatnya. Mereka yang condong kepada pendapat ini menjadikan hadis yang diriwayatkan oleh sayyidatuna Aisyah sebagai landasannya.

Yang artinya: Diriwayatkan dari sahabat Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwasannya ia bertanya kepada sayyidah Aisyah RA, bagaimana salat sunahnya Nabi di (malam) bulan Ramadan? sayyidah Aisyah RA menjawab: “Rasulullah SAW tidak “pernah” melaksanakan salat lebih dari 11 rakaat, baik ketika Ramadan atau di luar Ramadan, beliau salat empat rakaat (terlebih dahulu), yang kualitas salatnya dan durasinya tak perlu dipertanyakan, kemudian beliau sambung dengan empat rakaat kembali yang kualitas dan durasinya tak perlu dipertanyakan, kemudian beliau menyambungnya dengan tiga rakaat (witir), aku pun bertanya kepadanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau (tertidur) sebelum melaksanakan witir (tadi)? Beliaupun menjawab: “yang tertidur adalah kedua mataku, sedangkan hatiku tidak”. (HR. Bukhari)

Adapun perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama berkenaan dengan jumlah rakaat tarawih, terbagi menjadi beberapa pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa jumlah rakaat salat tarawih adalah delapan rakaat plus witir tiga rakaat, yang keseluruhannya menjadi sebelas rakaat. Sedangkan, sebagian lainnya berpendapat bahwa jumlah rakaat tarawih ada 20 rakaat plus witir tiga rakaat, yang keseluruhannya menjadi dua puluh tiga rakaat.

Baca Juga :  Doa ketika Bercermin

Pendapat pertama melandasi argumentasinya dengan hadis yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah RA yang menyebutkan bahwasannya Nabi SAW sepengetahuan dirinya, tak pernah melaksanakan salat malam lebih dari sebelas rakaat baik pada bulan ramadan, atau bulan-bulan lainnya.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa jumlah bilangan rakaat tarawih adalah dua puluh rakaat ditambah dengan witir tiga rakaat, melandasi pendapat mereka kepada ijtihad sahabat Umar bin Khattab yang mencetuskan pertama kali, pelaksanaan salat tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Yang ketika itu sahabat Umar bin Khattab mengungkapkannya sebagai “bid’ah yang baik “(nimatil bid’ah)

Karena perbedaan pendapat tersebut tak jarang, sebagian kelompok menyalahkan ritualitas kelompok lain terkait pelaksanaan salat tarawih. Padahal, baik yang melaksanakan tarawih delapan rakaat plus witir tiga rakaat, atau yang melaksanakan tarawih dua puluh rakaat plus witir tiga rakaat, sama-sama mendapatkan legitimasi dari Nabi SAW.

Pendapat yang pertama didukung oleh riwayat sayyidah Aisyah yang mendeskripsikan sifat salat malam Nabi SAW yang tak lebih dari sebelas rakaat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwasannya  “Rasulullah SAW tidak “pernah” melaksanakan salat lebih dari 11 rakaat, baik ketika Ramadan atau di luar Ramadan, beliau salat empat rakaat (terlebih dahulu), yang kualitas salatnya dan durasinya tak perlu dipertanyakan, kemudian beliau sambung dengan empat rakaat kembali yang kualitas dan durasinya tak perlu dipertanyakan, kemudian beliau menyambungnya dengan tiga rakaat (witir), aku pun bertanya kepadanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau (tertidur) sebelum melaksanakan witir (tadi)? Beliaupun menjawab: “yang tertidur adalah kedua mataku, sedangkan hatiku tidak”. (HR. Bukhari)

Sedangkan, pendapat yang kedua mendapat legitimasi dari perintah Nabi SAW untuk mengikuti ijtihad al-Khulafa al-Rasyidin, dan sahabat Umar RA merupakan salah satu dari al-Khulafa al-Rasyidin itu sendiri.

Baca Juga :  Apakah Anak Kecil Disunahkan Sujud Tilawah?

Yang artinya: Diriwayatkan dari sahabat al-Irbad bin Sariyah: “suatu ketika Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami dan menasihati kami dengan nasihat yang menyentuh hati, dan membuat air mata berlinang, lalu (ada salah seorang dari kami yang berkata) wahai Rasulullah, engkau menasihati kami, seolah-olah nasihat ini adalah nasihat perpisahan, maka berikanlah kepada kami satu pesan (penting). Lalu beliau bersabda: “semestinya kalian senantiasa bertakwa kepada Allah, dan mematuhi (al-sam’u wal tha’ah) pemimpin kalian meskipun ia seorang budak habasyi, dan kelak kalian akan mendapati setelah ketiadaanku perselisihan yang amat banyak, maka semestinya kalian memegang teguh sunahku, serta sunah al-khulafa al-rasyidin setelahku, peganglah keduanya dengan teguh… (HR. Ibnu Majah)

Sedangkan mengenai melaksanakan salat malam, setelah menutup salat tarawih dengan salat witir, apakah diperbolehkan atau tidak, terdapat beberapa pendapat ulama.

Yang pertama, ada yang berpendapat, hendaknya orang yang telah melaksanakan salat sunah witir sebelum tidur agar ia menambah satu rakaat terlebih dahulu untuk menggenapkan witir yang ia laksanakan sebelum tidur, baru setelah itu melaksanakan salat sunah malam yang dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan di akhir baru ia tutup dengan witir kembali. Sedangkan, pendapat yang lain mengatakan tidak menjadi masalah orang yang telah melaksanakan salat witir sebelum tidur, untuk melaksanakan salat sunah malam kembali ketika ia bangun dari tidur, karena yang tidak diperbolehkan adalah adanya dua salat witir dalam satu malam, bukan tidak diperbolehkan salat lagi setelah salat witir dilaksanakan.

Kedua pendapat tersebut sejatinya merujuk kepada sabda Rasulullah SAW

Yang artinya: dari sahabat Abu Ali, bahwasannya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: tidak ada dua salat witir dalam satu malam (HR. al-Tirmidzi).

Hanya saja pendapat yang pertama memilih untuk menggenapkan salat witir yang sudah dilaksanakan sebelum tidur, baru setelah itu menutup dengan witir kembali. Adapun, pendapat yang kedua lebih memilih untuk tidak menggenapkan salat witir yang sudah dilaksanakan, dengan catatan tidak mengulang salat witir lagi pada salat malam yang dilaksanakan ketika bangun tidur.

Baca Juga :  Empat Adab Membaca Alquran

Dari kedua pendapat itu, kita bisa menyimpulkan, bahwa melaksanakan salat malam kembali ketika telah menutup salat tarawih dengan salat witir pada hakikatnya diperbolehkan oleh mayoritas ulama.

Hanya saja, dalam tata cara pelaksanaannya ada sedikit perbedaan yang sama sekali tidak mempengaruhi nilai kebolehan untuk melaksanakan salat malam kembali ketika bangun dari tidur, meskipun kita telah menutup salat tarawih kita pada bulan ramadan dengan salat witir. Wallahu ‘alam bisshowab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here