Shalat Sunah Rawatib Secara Berjemaah, Sebaiknya Dibaca Pelan atau Keras?

0
3152

BincangSyariah.Com – Ketika shalat rawatib dilaksanakan secara berjemaah, apakah bacaan surah Al-Fatihah dan surah Al-Quran lainnya dibaca pelan atau keras? (Hukum Melaksanakan Shalat Sunah Rawatib Secara Berjemaah)

Pada dasarnya, shalat sunnah rawatib dianjurkan untuk dikerjakan sendirin, tanpa berjemaah. Namun ada sebagian kaum muslimin di masjid tertentu yang melakukan shalat sunnah rawatib secara berjemaah dengan tujuan agar para jemaah terbiasa melakukannya.

Menurut kebanyakan ulama, terutama dari kalangan ulama Syafiiyah, mereka berpendapat bahwa ketika seseorang melaksanakan shalat sunnah rawatib, meskipun dikerjakan secara berjemaah, dia disunnahkan untuk membaca setiap bacaan yang ada di dalamnya dengan suara pelan, baik surah Al-Fatihah, Al-Quran, doa dan lainnya.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu berikut;

واما السنن الراتبة مع الفرائض فيسر بها كلها باتفاق اصحابنا ونقل القاضى عياض في شرح مسلم عن بعض السلف بالجهر في سنة الصبح وعن الجمهور الاسرار كمذهبنا

Adapun shalat-shalat sunnah rawatib (shalat yang mengikuti shalat fardhu), maka semuanya dianjurkan untuk membaca dengan pelan dengan kesepakatan para ulama Syafiiyah. Imam al-Qadhi Iyadh menukil dari kitab Syarh Muslim dari sebagian ulama salaf akan kesunahan membaca keras pada shalat sunah Shubuh, sementara kebanyakan ulama memilih kesunahan membaca pelan sebagaimana mazhab kami.

Setiap jenis shalat sunnah yang tidak disunnahkan untuk dikerjakan secara berjemaah, maka dianjurkan untuk dibaca pelan, meskipun kebetulan dilakukan secara berjemaah. Misalnya, melaksanakan shalat Tahajjud secara berjemaah, maka disunnahkan untuk dibaca pelan. Begitu juga dengan shalat rawatib, dianjurkan dibaca pelan meskipun dilaksanakan secara berjemaah.

Adapun jenis shalat sunnah yang disunnahkan untuk dilakukan secara berjemaah, maka disunnahkan untuk dibaca keras dan nyaring. Misalnya, shalat ‘id, shalat gerhana, shalat istisqa’, dan shalat tarawih. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bujairimi ala Al-Khatib berikut;

Baca Juga :  Kenapa Rasul Menganjurkan Makan Sebelum Salat Idulfitri?

الخامسة الجهر بالقراءة في موضعه فيسن لغير المأموم أن يجهر بالقراءة في الصبح وأولتي العشاءين والجمعة والعيدين وخسوف القمر والاستسقاء والتراويح ووتر رمضان وركعتي الطواف ليلا أو وقت الصبح

Bagian kelima adalah membaca nyaring bacaan Al-Quran di tempatnya. Maka selain makmum, disunnahkan membaca nyaring bacaan Al-Quran dalam shalat Shubuh, dua rakaat awal shalat Isyak, shalat Jumat, shalat ‘Idain, shalat gerhana bulan, shalat gerhana istisqa’, shalat tarawih, shalat witir bulan Ramadhan, dan shalat Thawaf yang dilakukan di waktu malam atau waktu Shubuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here