Jika Sholat Idul Fitri Sendirian di Rumah, Apakah Perlu Khutbah?

0
1969

BincangSyariah.Com – Sholat Idul Fitri merupakan sholat sunnah yang hukumnya sunnah muakkadah dalam syariat Islam. Artinya, bagi kaum muslimin, yang berakal, baligh, muqim, dan sehat jasmani rohani, tidak kedapatan ‘udzur syar’i yang kemungkinan membuatnya mamnu’ (terhalang dari menghadiri sholat), di mana pun ia berada, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya dan menunaikannya secara berjamaah yang diakhiri dengan dua khutbah.

Karena sangat dianjurkannya penunaiannya ini, maka sampai-sampai ada sebuah hadits yang diriwayatkan dengan sanad dari Ummu ‘Athiyah radliyallahu ‘anha, sebagai berikut:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِحْدَانَا لا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar kaum perempuan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik perempuan ‘awatiq (wanita yang baru baligh), wanita haid, maupun gadis yang dipingit. Ada pun wanita haid, mereka memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Beliau menanggapi: “Hendaklah saudarinya (maksudnya sesama muslimah) meminjamkan jilbab kepadanya.” HR. Imam Bukhari (Nomor Hadits 324) dan Muslim (Nomor Hadits 890).

Perempuan ‘awatiq adalah:

الْعَوَاتِق، هِيَ مَنْ بَلَغَتْ الْحُلُم أَوْ قَارَبَتْ، أَوْ اِسْتَحَقَّتْ التَّزْوِيج

“’Awatiq adalah orang yang baru menginjak usia baligh, atau hampir baligh, atau perempuan yang siap untuk dinikahkan.”

Adapun perempuan dzawati al-khudur adalah :

وَذَوَات الْخُدُور هن الأبكار

“Dzawati al-khudur adalah perempuan-perempuan yang menginjak usia perawan (pingitan).”

Melihat adanya anjuran agar para perempuan yang sebelumnya tercegah dari menghadiri jamaah di masjid, akan tetapi pada waktu sholat id ini justru malah diperintahkan agar diajak menghadiri tempat dilaksanakannya sholat id, maka ulama kalangan Hanafiyah dan Hanabilah hingga menghukumi bahwa sholat id adalah wajib khususnya bagi orang yang memiliki kewajiban melaksanakan sholat Jumat.

Baca Juga :  Anjuran dan Tata Cara Shalat Syukur

Namun, pendapat yang rajih dari kalangan Malikiyah dan Syafiiyah menyatakan bahwa hukum sholat id adalah sunnah muakkad. Dasar yang dipergunakan oleh dua madzhab terakhir ini, adalah hadits sebagaimana yang tertuang dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan sanad dari Thalhah ibn Ubaidillah yang berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُهُ عَنِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ، فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: «لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قالوا: فلو كانت صلاة العيد واجبة لبينها له رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Seseorang telah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian bertanya tentang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sholat lima waktu dalam sehari semalam.” Lalu ia bertanya lagi: “Adakah selainnya bagiku Ya Rasulallah?” Rasul menjawab: “Tidak ada, kecuali engkau menjadikan suatu ketaatan (kesunahan).” Para sahabat berkomentar: “Seandainya sholat ‘id adalah wajib, maka pastilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasti akan menjelaskannya.” HR. Bukhari-Muslim

Mengingat adanya dua hadits di atas, para ulama ahli hadits berusaha mengompromikan keduanya melalui cara mengambil jalan tengah, yaitu dengan ditetapkan status sunnah muakkadah, yang dalam konteks lain sering diartikan sebagai sunnah yang mendekati hukum wajib.

Lantas, bagaimana di tengah kondisi Pandemi Covid-19 ini kita hendaknya bersikap?

Menimbang hukum kesunahan pada shalat id ini, maka dalam situasi pandemi covid-19, maka agar kita tetap mendapatkan fadlilah melaksanakan sholat id, kita menunaikannya dengan jalan mengambil hukum-hukum pokoknya.

Pada dasarnya hukum khutbah sholat id adalah tidak bersifat sebagai syarat pendirian sholat id. Untuk itulah, maka khutbah sholat dilaksanakan di akhir setelah sholat id dilaksanakan. Dalam hal khutbah, tentu khutbah id bersifat lain dengan dua khutbah Jumat yang merupakan bagian dari syarat pendirian sholat Jumat dan bahkan disebutkan sebagai pengganti dua rakaatnya Zuhur. Itu pula yang menjadi sebab, mengapa dua khutbah Jumaat diletakkan sebelum sholat Jumat berjamaah karena mendudukinya ia dalam maqam syarat. Setiap syarat harus diletakkan di muka.

Baca Juga :  Bersin Ketika Mendengarkan Khutbah Jumat, Apakah Dianjurkan Membaca Hamdalah?

Hal yang sama juga berlaku untuk sifat berjamaahnya sholat id. Sholat id tidak harus dilaksanakan secara berjamaah. Adapun berjamaah, adalah merupakan bagian dari upaya memunculkan syi’ar semata, sebagaimana anjuran mengajak perempuan-perempuan haidl agar datang ke lokasi diselenggarakannya sholat id.

Alhasil, karena dua khutbah id bukan merupakan syarat dan rukun dari sholat id, maka sholat id pada dasarnya juga sudah dipandang sebagai cukup meskipun tanpa keberadaan dua khutbah. Dengan demikian, bilamana ada seseorang yang melakukan sholat id sendirian di rumah, maka ia tidak perlu berkhutbah. Dengan keberadaan khutbahnya ia di tengah situasi sholat id sendirian, sudah pasti akan menempatkan dirinya sebagai orang yang aneh. Mahu mengkhutbahi siapa? Mahu memberi peringatan ke siapa? Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here