Saat Sedang Puasa Sunnah Diajak Makan, Sebaiknya Batalkan Atau Tidak?

0
48

BincangSyariah.Com – Saat sedang puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, terkadang ada teman yang mengajak makan. Dalam keadaan sedang puasa sunnah diajak makan teman, sebaiknya kita membatalkan puasa kita atau tidak membatalkan dan terus melanjutkannya?

Ketika kita sedang puasa sunnah dan kebetulan kita bertamu atau diajak teman untuk makan, menurut para ulama, dalam keadaan seperti ini hukumnya ditafsil atau diperinci sebagai berikut;

Pertama, jika tuan rumah atau teman yang mengajak kita makan akan kecewa jika kita menolak untuk makan atau menolak ajakannya, maka kita sebaiknya membatalkan puasa kita. Dalam keadaan seperti ini, kita lebih baik membatalkan puasa dan makan bersama teman kita.

Kedua, jika tuan rumah atau teman yang mengajak kita makan tidak akan kecewa jika kita menolaknya, maka lebih baik kita melanjutkan berpuasa.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Mughnil Muhtaj berikut;

ولكن يكره الخروج منه -صوم التطوع- بلا عذر، لظاهر قوله تعالى: ولا تبطلوا أعمالكم وللخروج من خلاف من أوجب إتمامه، فإن كان هناك عذر كمساعدة ضيف في الأكل إذا عز عليه امتناع مضيفه منه، أو عكسه فلا يكره الخروج منه، بل يستحب..أما إذا لم يعز على أحدهما امتناع الآخر من ذلك، فالأفضل عدم خروجه منه، كما في المجموع

Akan tetapi dimakruhkan membatalkan puasa sunnah tanpa ada udzur berdasarkan firman Allah: Dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian. Juga karena keluar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan menyempurnakan puasa sunnah. Jika ada udzur, seperti menemani tamu makan jika ia tersinggung bila tua rumahnya tidak makan atau sebaliknya, maka tidak makruh bahkan dianjurkan membatalkan puasa. Adapun jika tidak tersinggung bila salah satunya menolak untuk makan, maka lebih utama tidak membatalkan puasa sunnah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Majmu’.

Menurut Imam Al-Ghazali, jika kita kebetulan membatalkan puasa sunnah karena diajak teman makan atau karena bertamu, maka hendaknya kita berniat untuk menyenangkan teman kita atau tuan rumah. Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

قال الغزالي يندب أن ينوي بفطره إدخال السرور عليه

Imam Al-Ghazali berkata: Disunnahkan berniat untuk menyenangkan perasaan pemilik hidangan pada saat membatalkan puasa. 

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here