Melaksanakan Salat Fardu di dalam Kereta Api, Apakah Salatnya Sah?

0
568

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini banyak kita jumpai seseorang atau sekolompok orang melakukan salat fardu di atas kendaraan seperti di kereta api. Dalam Islam, saat melaksanakan salat fardu di dalam kereta api, apakah salatnya sah dan harus diulangi?

Disebutkan dalam kitab Tarsyihul Mustafidin, bahwa melaksanakan salat fardu di dalam kereta api saat sedang berjalan hukumnya tidak sah. Hal ini karena melaksanakan salat fardu di suatu tempat yang tetap, tidak sedang berjalan, merupakan syarat sah dari salat fardu. Selama salat fardu memungkinkan dilakukan di tempat yang tetap, maka tidak sah dilakukan di atas kendaraan yang sedang berjalan meskipun menghadap kiblat.

Namun jika salat fardu tersebut tidak memungkinkan dilakukan di tempat yang tetap, baik karena waktu salat fardu akan habis jika menunggu kereta api berhenti atau khawatir ketinggalan kereta api karena waktu berhentinya sedikit, maka boleh melaksanakan salat fardu di atas kereta api dengan catatan bisa dipastikan menghadap kiblat dan melaksanakan rukun salat fardu dengan sempurna.

Adapun jika tidak bisa menghadap kiblat atau tidak bisa melaksanakan rukun salat dengan sempurna, maka salat fardu tersebut harus diulangi lagi di tempat yang tetap. Hal ini karena menghadap kiblat dan melakukan rukun salat dengan sempurna dalam salat fardu hukumnya adalah wajib secara mutlak, baik di tempat yang tetap maupun di atas kendaraan.

Oleh karena itu, jika salat fardu di atas kereta api tidak menghadap kiblat atau tidak bisa melakukan rukun salat fardu dengan sempurna, dan jika ditunda hingga kereta api berhenti waktu salat fardu akan habis, maka wajib melaksanakan salat fardu semampunya dan wajib diulangi lagi. Bahkan menurut Imam Arramli, salat fardu yang dilakukan di atas kendaraan yang sedang berjalan harus diulangi lagi, baik menghadap kiblat atau tidak.

Baca Juga :  Hukum Sujud Tilawah

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Sayid Alawi bin Sayid Ahmad dalam kitab Tarsyihul Mustafidin berikut;

قوله نفل سفر) خرج به الفرض ولو نذرا او جنبا فلا يصليه راكبا ولا ماشيا وان استقبل وطال سفره لان الاستقرار شرط له نعم ان خاف من نزوله مشقة شديدة او خاف فوات الرفقة ان تفخش صلي راكبا بحسب حاله واعاد عند م ر , وفي التحفة ويحمل القول بالاعادة علي من لم يستقبل او لم يتم الاركان

“Perkataan mushannif ‘salat sunah safar’, berbeda dengan perkataan ini adalah salat fardu walaupun nazar atau junub. Maka seseorang tidak boleh melaksanakan salat fardu dalam keadaan berkendara atau berjalan meskipun dia menghadap kiblat dan perjalanannya jauh. Hal ini karena menetap merupakan syarat sah salat fardu. Iya, jika dia turun khawatir terjadi kesulitan yang berat atau khawatir ketinggalan rombongan bila ia lambat, maka dia boleh salat dalam keadaan berkendara sesuai keadaannya dan menurut Imam Arramli wajib mengulangi. Disebutkan dalam kitab Tuhfah, kewajiban mengulangi hanya berlak bagi orang yang tidak menghadap kiblat atau tidak menyempurnakan rukun salat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here