Salat Dapat Cegah Kemaksiatan, Tapi Kenapa Masih Banyak Kemaksiatan?

0
398

BincangSyariah.Com – Syekh Nawawi Banten mengumpulkan hadis-hadis keutamaan salat (Imam Nawawî al-Jâwî, Naṣâ’iḥ al-‘Ibâd, hlm. 71). Menurutnya, terdapat sepuluh keutamaan salat: pertama, hiasan bagi wajah; kedua, cahaya bagi hati; ketiga, ketenteraman bagi tubuh; keempat, kesenangan dalam kubur; kelima, tempat turunnya rahmat; keenam, pembuka pintu langit; ketujuh, memberatkan timbangan (baik) di akhirat; kedelapan, keridaan (kesenangan) Allah; kesembilan, tiket masuk surga; dan kesepuluh, penutup dari api neraka

Dalam hadis lain disebutkan bahwa Muslim yang melaksanakan salat lima waktu secara sempurna dan tidak mengurangi sedikitpun hak-hak (syarat dan rukun)nya akan memperoleh janji Allah, yaitu dimasukkan ke dalam surga. Sementara Muslim yang sengaja meninggalkannya tidak akan mendapatkan janji Allah. Dia bisa saja disiksa dan bisa saja diampuni oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya (al-Fiqh al-Islâmiy, hlm. 504).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa salat sejatinya bukan untuk Allah, tetapi semata-mata untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia itu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah sama sekali tidak butuh kepada salat kita. Bahkan dalam hadis Qudsi dinyatakan secara jelas bahwa sekalipun seluruh makhluk, baik jin maupun manusia, ingkar kepada Allah, maka hal itu tidak akan mengurangi kemuliaan dan keagungan kerajaan-Nya. Begitupun sebaliknya, meskipun seluruh isi semesta menjadi hamba Allah yang sangat taat, maka itu tidak akan menambah kemuliaan dan keagungan kerajaan-Nya (Naṣâ’iḥ al-‘Ibâd, hlm. 3). Pendek kata, kita melaksanakan kewajiban salat lima kali sehari-semalam secara baik dan sempurna adalah untuk kebaikan kita sendiri.

Hal lain yang harus diperhatikan, menurut Imam al-Marâgî, adalah bagaimana kita melaksanakan salat secara sempurna sesuai dengan tuntunan syariat. Sehingga ia memberikan efek positif kepada diri kita, yaitu mencegah keburukan-keburukan, baik tampak maupun tersembunyi. Hal ini diperintahkan langsung oleh Allah dalam surat al-‘Ankabût (29): 45 (inna aṣ-ṣalâh tanhâ ‘an al-fakhsyâ’i wa al-munkar: sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar).

Baca Juga :  Ini Pahala Orang yang Menyempurnakan Salatnya

Dengan demikian, ketika salat kita tidak memberikan efek apa-apa terhadap kebaikan jiwa kita, maka ia hanya menjadi ritual atau gerakan-gerakan lahir semata yang hampa (kosong) dari ruh (jiwa), rahasia, keagungan, dan kemuliaan ibadah itu sendiri. Sehingga kita tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali kecelakaan dan kesengsaraan, sebagaimana ditegaskan dalam surat al-Ma‘ûn (107): 4-5.

Tidak lain meskipun secara lahir kita layak disebut muṣallîn ‘orang yang salat’ karena telah melaksankan salat, tetapi hakikatnya kita lalai dan lupa. Dalam hal ini, kita lalai dan lupa menghadapkan jiwa kepada Allah dan merendahkan diri secara lahir-batin (khusyuk) karena keagungan-Nya.

Oleh karena itu, menurut Rasulullah saw., siapa pun yang salatnya tidak bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka dia akan semakin jauh dari Allah. Sehingga salatnya menjadi rusak seperti rusaknya baju yang sudah usang dan kemudian dilemparkan kepada wajahnya (Tafsîr al-Marâgî, 1946, I: 32&XXX: 249-250).

Akhirnya, semoga Allah Yang Mahabaik menolong kita semua. Sehingga kita bisa istikamah melaksanakan salat dan memberikan dampak positif kepada prilaku kita: lahir dan batin. Waallâh ’a‘lam wa a‘lâ wa aḥkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here