Sahkah Salat Makmum yang Mengikuti Gerakan Imam Lewat Audio Visual?

0
244

BincangSyariah.Com – Seiring perkembangan zaman, manusia semakin kreatif. Salah satu bentuk kreativitas yang tampak adalah bentuk bangunan yang semakin modern. Masjid yang dulu hanya memiliki teras saat ini meningkat berlantai ganda. Bahkan ada yang berlantai lebih dari dua. Desain yang seperti ini menyebabkan jamaah yang berada di lantai atas tidak dapat  melihat gerakan imam.

Karenanya, takmir masjid lalu mengupayakan menggunakan audio visual (tv) sebagai perantara. Namun pertanyaannya, apakah dengan melihat gerakan imam melalui tv tersebut sudah dianggap cukup mewakili proses salat berjamaah?

Sudah dianggap cukup karena syarat sah berjamaah adalah mengetahui gerakan imam agar dimungkinkan untuk mengikutinya dengan cara melihat imam atau mendengarkan suaranya baik secara langsung atau tidak langsung seperti dengan melihat gerakan shaf di depannnya, mendengarkan suaranya muballigh. Hal tersebut berdasarkan penjelasan dalam kitab al-Iqna’ karangan Muhammad Al Sharbini Al Khatib (wafat 977 H). Sebagaimana berikut ini

وإذا كانا بمسجد ف‍ (أي موضع صلى) المأموم (في المسجد) ومنه رحبته (بصلاة الإمام فيه) أي المسجد (وهو عالم بصلاته) أي الإمام ليتمكن من متابعته برؤيته أو بعض صف أو نحو ذلك كسماع صوته أو صوت مبلغ (أجزأه) أي كفاه ذلك في صحة الاقتداء به وإن بعدت مسافته وحالت أبنية نافذة إليه كبئر أو سطح سواء أغلقت أبوابها أم لا، وسواء أكان أحدهما أعلى من الآخر أم لا كأن وقف أحدهما على سطحه أو منارته والآخر في سرداب أو بئر فيه لأنه كله مبني للصلاة

“Jika keduanya di dalam masjid, maka dimanapun tempat makmum shalat di masjid, baik di pelatarannya, dimana imam juga shalat dalam masjid itu, dan makmum mengetahui dengan shalatnya imam sekiranya ia mampu mengikuti gerakannya dengan melihatnya atau sebagian shaf di depan atau semisalnya, seperti mendengar suara imam atau suara muballigh maka itu boleh atau cukup hal itu sebagai syarat sah mengikuti imam. Sekalipun jaraknya jauh dan terdapat struktur bangunan lain yang ada jendelanya seperti ruang bawah atau permukaan. Baik pintunya tertutup atau tidak dan sama halnya apakah salah satunya baik Imam atau makmum berada di tempat yang lebih tinggi dari yang lain atau tidak, seperti jika salah satunya berdiri di loteng menara dan yang lain di ruang bawah di dalamnya, karena sesunggunya semuanya itu dibangun untuk tempat shalat”.

Dalam gadung bertingkat mengikuti gerakan imam lewat audio visual memungkinkan bagi makmum mengikuti gerakan imam. Jika sejenak memahami keterangan yang ditulis Imam al-Syarbini dalam kitab syarah Fathul Qarib, maka hal tersebut boleh selama keduanya berada dalam infastruktur atau bangunan masjid yang sama. Selain itu mengikuti gerakan imam melalui audio visual, syarat-syarat jamaah terakomodir sebab melalui itu makmum dapat mengetahui gerakan imam secara faktual.

Baca Juga :  Hukum Shalat di Shaf Belakang Sendirian

Hal ini, sama halnya dengan peran muballigh (makmum yang mengeraskan suara takbir makmum agar makmum bagian belakang mengetahui gerakan salat sang imam), yang mana seiring perkembangan teknologi sekarang peran muballigh telah tergantikan oleh pengeras suara. Wallahu’alam.

*Artikel ini disarikan dari hasil Bahsul Masail di Pondok Pesantren Putri Salafiyah II, Bangil, Pasuruan.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here