Saat Tarawih, Imam Suka Membaca Surah al-Ikhlas di Rakaat Kedua, Ini Penjelasannya

0
2490

BincangSyariah.Com – Saya sebagai penulis kesulitan mendapatkan refrensi yang bernuansa klasik dalam mengangkat tema ini. Karena memang kebiasaan ini tergolong hal yang baru dilakukan khususnya warga Nahdiyyin Imdonesia.

Entah siapa yang menggagas pertama kali awal mula kebiasaan ini terjadi, tidak menjadi penting untuk kita kaji. Karena memang isinya tiada lain dan tiada bukan adalah pengulangan bacaan surah al-Ikhlas dalam setiap rakaat kedua dari dua rakaat tarawih yang dianjurkan. Disamping itu, dalam setiap menyelasaikan dua rakaat juga diisi dengan bacaan shalawat kepada baginda dan doa terhadap khulafaur Rasyidin sebagai bentuk pemisah antara dua rakaat tarawih yang dianjurkan dengan  dua rakaat tarawih lainnya.

Dilihat dari isinya, memang tidak mengundang polemik karena keduanya merupakan bacaan yang dianjurkan. Hanya saja, pengulangan serta pengkhususan bacaan keduanya dalam pelaksanaan salat arawih tidak memiliki dasar yang jelas baik dalam al-Qur’an ataupun dalam hadis Rasulullah Saw. Begitu juga, kita sulit menemukan kebiasaan ini dilakukan oleh ulama-ulama klasik.

Lantas bagaimanakah hukumnya apakah tergolong bid’ah sayyiah (perbuatan baru yang jelek) sebagaimana orang-orang wahabi katakan sehingga tidak perlu dipertahankan atau malah menjadi bid’ah hasanaah ( perbuatan baru yang baik) sehingga harus tetap dijaga?

Berdasarkan alasan saya diatas terkait kesulisan refrensi klasik tentang persoalan ini maka saya disini hanya menyampaikan fatwa Syekh Ali Jum’ah dalam laman web yang dikelola oleh Lembaga Fatwa Republik Mesir (Dar al-Ifta’ al-Misriyah). 

Sebetulnya, pernyataan beliau terkait persoalan ini merupakan bentuk jawaban dari pertanyaan yang masuk, dengan nomor seri 2031 dan ditayangkan pada 24/08/2010. Pemahamannya bisa didalami dalam redaksi berikut ini:

جاء الشرع الشريف بالأمر بقراءة القرآن الكريم على جهة الإطلاق من غير تقييدٍ بوقتٍ دون وقتٍ أو حالٍ دون حالٍ إلا ما استُثنِي من ذلك؛ كحال الجنابة مثلًا.

Baca Juga :  Ini Doa Qunut yang Diajarkan Rasulullah

وقد نبَّه النبيُّ صلى الله عليه وآله وسلم على عظيم فضل سورة الإخلاص واستحباب قراءتها ليلًا بقوله لأصحابه رضي الله عنهم: «أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: «﴿قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ» رواه مسلم عن أبي الدرداء، والبخاري بنحوه عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنهما.

وعن السيدة عائشة رضي الله عنها: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاتِهِ فَيَخْتِمُ بِـ﴿قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم، فَقَالَ: «سَلُوهُ لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ» فسألوه، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وآله وسلم: «أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ» متفق عليه.

كما أن الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم من أفضل الأعمال قبولًا عند الله تعالى، كما أنها تفتح للأعمال أبواب القبول فهي مقبولةٌ أبدًا، وكما أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم هو شفيع الخلق فالصلاة عليه شفيع الأعمال، وقد أمر الله تعالى بها أمرًا مطلقًا في قوله سبحانه وتعالى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، والأمر المطلق يقتضي عموم الأمكنة والأزمنة والأشخاص والأحوال، فمن ادَّعى -بلا دليل- أنها مُحَرَّمةٌ في وقتٍ من الأوقات فقد ضيَّق ما وسَّعه الله تعالى؛ لأنه قيَّد المطلَق وخصَّص العامَّ بلا دليل، وهذا في نفسه نوعٌ من أنواع البدعة المذمومة.

وعليه: فقراءة ﴿قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾ والصلاة على النبي صلى الله عليه وآله وسلم في صلاة التراويح أمرٌ جائزٌ ومشروعٌ لا حرج فيه.

Baca Juga :  Ini Kisah Karamah Wanita yang Istiqamah Membaca Surah Al-Ikhlas di Bulan Rajab

والله سبحانه وتعالى أعلم.

Perintah membaca al-Qur’an menurut Dr. Ali Jum’ah  berlaku kapanpun dan dimanapun. Tidak boleh dibatasi kecuali dalam beberapa kondisi yang memang dikecualikan, seperti dalam kondisi jinabah.

Kemudian salah satu dari sekian banyak surah yang mendapat perhatian tersendiri oleh Rasullah adalah surah al-ikhlas. Beliau SAW menegaskan keutamaan surah ini, sehinga disunahkan untuk dibaca pada waktu malam.

Suatu saat Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabatnya untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam setiap malam. Kemudian mereka menyanggah “bagaimana mungkin kita bisa membaca sepertiga Al-Qur’an dalam setiap malam wahai Rasul”. Rasul menjawab: bacalah surah al-Ikhlas hususnya ayat pertama. Karena pahalanya sama dengan pahala membaca sepertiga Al-Qur’an. (HR. Bukhari Muslim)

Lalu beliau juga mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah Ra. terkait salah utusan Nabi Muhammad Saw yang diutus langsung oleh beliau untuk menemani para  pejuang. Lalu utusan tersebut pada suatu saat menjadi imam. Didalam salatnya ia membaca Al-Qur’an dan mengakhiri dengan surah al-Ikhlas. Karena merasa janggal para pejuang lainnya mengadu kepada Nabi. Setelah itu Nabi menyuruh mereka menanyakan alasan utusan itu membaca al-Ikhlas. Dia jawab dengan penuh yakin bahwa surat itu menjadi sifat Allah Swt maka dari itu saya suka membacanya. Kemudian, Nabi menanggapinya untuk mengabarkan pada utusan tersebut bahwa Allah mencintainya. (HR. Bukhari Muslim)

Dr. Ali Jum’ah melanjutkan pendapatnya, bahwa begitu juga dengan anjuran membaca shalawat pada baginda Nqbi Muhammad Saw. Ia juga tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapan dan dimanakan juga tetap dianjurkan. Surah al-Ahzab ayat 56 yang berbicara anjuran dan perintah bershalawat tidak boleh dibatasi dan dipersempit pada waktu dan kondisi tertentu. Agar tidak terkesan menentang Teks tanpa dasar.

Baca Juga :  Syarat-syarat menjadi Wali Nikah

Maka dari itu menurut beliau, kebiasan membaca surah al-Ikhlas pada rakaat kedua dari dua rakaat tarawih yang dianjurkan  dan kebiasaan membaca shalawat yang biasa dilakukan setelah selesainya dua rakaat  sebagai pemisah dari dua rakaat yang satu ke dua rakaat lainnya, tidaklah tepat dikatakan sebagai bid’ah sayyiah. Menurut beliau, berdasarkan dasar al-Qur’an dan Hadis diatas maka kebiasaan-kebiasaan dimaksuk diperbolehkan dan bagian dari perkara yang disyariahkan. Wallahu A’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here