Categories: Ubudiyah

Rukun Qauli dalam Shalat

BincangSyariah.Com – Sebagai rukun Islam kedua setelah syahadat, shalat memiliki rukun (tata cara) yang spesifik. Rukun shalat dikategorikan ke dalam tiga macam, rukun qalbi (hati), rukun qauli (ucapan), dan rukun fi’li (perbuatan). Adapun rukun qalbi tak lain adalah niat. Sedangkan rukun qauli terdiri dari takbiratul ihram pada permulaan shalat, membaca surat al-Fatihah di setiap rakaat, membaca tasyahud (tahiyyat), membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw, dan mengucapkan salam pada akhir shalat. Adapun selain rukun-rukun diatas termasuk dalam kategori rukun fi’li.

Mengingat bacaan shalat dalam rukun qauli itu wajib, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh mushalli (orang yang shalat) dalam menjalankan rukun qauli agar shalatnya tetap sah, yaitu:

  1. Mendengar suaranya sendiri dalam pengucapan rukun qauli. Hal ini berlaku apabila tidak dalam kondisi tuli serta tidak terganggu oleh suara hembusan angin dan sejenisnya. Jika sebaliknya, maka diharuskan meninggikan suara agar dapat terdengar meskipun terjadi hal-hal yang mengganggu pendengaran.
  2. Tidak melewatkan detail bacaan seperti tasydid dan makharijul huruf dengan sengaja, karena dikhawatirkan terjadi perubahan makna yang dapat bertentangan dengan makna asli bacaan shalat. Seperti tasydid dalam lafadz (iyyaka na’budu) apabila tasydidnya dilewatkan menjadi (iyaka na’budu, tanpa tasydid pada iyyaka), sehingga makna seharusnya “hanya kepada-Mu kami menyembah” berubah menjadi “kami menyembah cahaya mataharimu”.
  3. Tidak mengganti harakat atau syakal bacaan shalat yang dapat merubah makna. Seperti dalam lafadz (an’amta) diganti menjadi (an’amtu) sehingga makna seharusnya “Kau berikan kenikmatan” menjadi “kuberikan kenikmatan”.
  4. Tidak menambah huruf dalam bacaan, seperti membaca panjang huruf alif-nya Allah dalam takbiratul ihram yang jika dikaji detail hurufnya menjadi dua huruf alif, sehingga alif pertama adalah istifham (kata tanya) yang artinya apakah, dengan demikian maknanya berubah menjadi “apakah Allah maha besar”.
  5. Menjaga bacaan agar tidak terputus di pertengahan ayat atau kalimat disebabkan bernafas, serta membaca sesuai dengan urutan aslinya. Hal ini sangat ditekankan dalam bacaan surat al-Fatihah dan tasyahud yang terdiri dari beberapa ayat atau kalimat yang sebagian diantaranya cukup panjang.

Keterangan diatas sangat krusial guna menjaga makna yang terkandung dalam bacaan wajib shalat. Adapun hukum bagi orang yang tidak memperhatikan bacaan wajib shalat menurut Syekh Muhammad Nawawi Banten adalah sebagai berikut:

  1. Bagi orang yang tidak tahu (karena baru masuk Islam atau masih dalam tahap belajar) atau lupa, maka sebaiknya melakukan sujud sahwi.
  2. Bagi orang yang sengaja tapi tidak tahu akan perubahan maknanya, maka tidak sah bacaannya, sehingga tidak sah shalatnya.
  3. Bagi orang yang sengaja dan tahu akan perubahan maknanya, maka dapat menyebabkan batal imannya (menjadi kafir) dikarenakan menyelewengkan bacaan yang berimbas pada perubahan makna yang bisa jadi bertentangan dengan makna aslinya.

Wallahu a’lam

Sumber: Sullam al-Munajat Syarah Safinah ash-Shalat karya

*artikel ini pernah dimuat islami.co

Ahmad Fakhri Azizi

Alumnus Pesantren Darus-Sunnah dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedang menempuh program magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus mengabdikan diri di MTs NU Nurussalam Kudus.

View Comments

  • Assalamu alaikum maaf guru mau tanya tentang telinga kita harus dengar apa yg kita baca???

    Soalnya a sholat jamaah sengaja sebelahan dgn ustadz/kyai tpi a nda pernah dengar apa yg beliau" baca, apakah disuarakan atau sir, saya telinga kita dengar apa yg kita baca??

  • Rukun qauli mesti terdengar oleh telinga sendri, sehingga kita tau apa yg kita baca dn tau jika terjadi kesalahan. Syukran

  • Rukun qauli mesti terdengar oleh telinga sendri, sehingga kita tau apa yg kita baca dn tau jika terjadi kesalahan. Syukran

Share
Published by
Ahmad Fakhri Azizi

Recent Posts

Tamu Tak Boleh Memberikan Makan Suguhan Tuan Rumah ke Orang Lain

BincangSyariah.Com - Ketika kita bertamu ke rumah atau kediaman kerabat atau tetangga, atau menghadiri kondangan pernikahan…

25 menit ago

Cara Bertaubat Karena Berselingkuh dengan Perempuan Bersuami

BincangSyariah.Com - Kita sering mendengar mengenai perselingkuhan yang melibatkan seorang laki-laki dengan seorang bersuami. Bahkan…

3 jam ago

Hukum Menjual Kembali Makanan Sisa Pembeli, Apakah Boleh?

BincangSyariah.Com - Ketika makan di warung makan atau tempat makan tertentu, kita sering menyaksikan di antara…

5 jam ago

Kisah Kerajaan-Kerajaan Kecil Andalusia di Masa Kritis

BincangSyariah.Com - Saat Muluk at-Thawaif/Kerajaan-Kerajaan Kecil Andalusia di masa kritis, para ulama fikih dan politisi Islam di…

6 jam ago

Tafsir Surah al-Mulk Ayat 25-26: Azab Allah Itu Pasti

BincangSyariah.Com - Azab Allah dan nikmat-Nya adalah sesuatu yang pasti. Allah swt tidak akan mengingkari…

8 jam ago

Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-47: Siapa yang Termasuk Ashabul Yamin?

BincangSyariah.Com - Pada hari kiamat kelak, setiap orang tentunya akan diminta pertanggungjawaban atas yang telah…

12 jam ago