Rukun Khutbah Salat Id

0
12537

BincangSyariah.Com – Khutbah Id sama dengan rukun khutbah pada salat Jumat, secara umum keduanya harus mencakup tahzir (peringatan) dan tabsyir (kabar gembira). Adapun perbedaannya, pertama ada pada pembukaan khutbah. Pada pembukaan khutbah Idulfitri disunahkan dengan membaca takbir, sedangkan khutbah Jumat dimulai dengan mengucapkan bacaan tahmid. Perbedaan kedua, pada waktu pelaksanaannya, khutbah Id dilakukan setelah salat, sedangkan khutbah Jumat sebelum salat ditegakkan.

Adapun mengenai jumlah rukun khutbah Id, Abdurrahman al-Jaziri menjelaskan dalam kitabnya Alfiqh ‘alaa al-Madzaahib al-arba’ah bahwa ulama berbeda-beda pendapat mengenai jumlahnya sebagaimana berikut ini.

Menurut mazhab Hanafiyah, khutbah Id sama dengan khutbah salat Jumat, memiliki hanya satu rukun yaitu harus ada tahmid, tasbih, dan tahlil. Menurut mazhab ini, pelaksanaan khutbah kedua tidak disyaratkan karena hukumnya hanya sunah.

Begitu juga menurut mazhab Malikiyah yang berpendapat bahwa khutbah Id sama dengan khutbah Jumat, hanya memiliki satu rukun yaitu isi khutbah harus mengandung tahzir (kabar yang menakutkan bagi orang yang lalai) dan tabsyir (kabar gembira bagi orang beriman).

Menurut mazhab Hanbali, rukun khutbah Id ada tiga. Pertama, membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw. Kedua, membaca ayat dari kitabullah yang menjelaskan mengenai suatu hukum dari hukum-hukum Islam. Ketiga, memberikan wasiat agar bertakwa kepada Allah SWT. minimal dengan mengucapkan ittaqullaha wahdzaruu mukhalafata amrihi atau kalimat semisalnya. Adapun membaca takbir pada pembukan khutbah Id adalah sunah, berbeda dengan pembukaan takbir pada khutbah Jumat yang merupakan termasuk rukun khutbah.

Menurut mazhab Syafiiyah, rukun khutbah Id ada empat. Pertama, membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw. pada khutbah pertama dan kedua. Membaca salawat tersebut harus menggunakan kalimat shalla allahu ala muhammad shallahu alaihi wasallam, nama beliau harus diucapkan dengan jelas dan tidak cukup jika hanya menggunakan dhamir.

Kedua, memberikan wasiat agar bertakwa kepada Allah SWT. Wasiat tersebut tidak cukup hanya dengan ancaman agar tidak tertipu dengan gemerlap dunia, khatib juga harus menekankan untuk taat kepada Allah misalnya dengan mengucapkan atii’uu allaha wahdzaruu mukhaalafa amrihi.

Ketiga, membaca ayat Alquran pada salah satu khutbah, tetapi lebih utama melakukannya pada khutbah pertama. Disyaratkan untuk membaca ayat secara sempurna jika surat yang dibaca pendek. Tetapi jika panjang cukup membaca sebagian ayat saja asalkan mencakup tentang balasan bagi orang beriman dan ancaman bagi orang-orang tidak beriman, tentang hukum, atau mengenai kisah-kisah umat terdahulu.

Keempat, hendaknya khatib mendoakan orang-orang mukmin dalam khutbah kedua. Doa tersebut disyaratkan mencakup tentang perkara ukhrawi seperti permohonan ampunan dan permintaan duniawi seperti rezeki yang berkah dan bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here