Rajin Puasa Tapi Hanya Lapar dan Haus yang Didapat

0
315

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah  kisah khayyali diceritakan ada seorang santri bertanya kepada Kiainya,  “Guru! Dalam bulan Ramadan ini saya berpuasa dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan sunnah-sunnah bulan Ramadan serta banyak berbuat amal kebajikan. Apakah saya layak nanti mendapatkan malam Lailatul Qadar?”

Sang Guru tersenyum dan menjawab, ” Amalan apa saja selama puasa ini kamu kerjakan?”

Santri tersebut menjawab, “Siang hari waktu puasa saya sangat menahan dan mengendalikan semua hawa nafsu. Sehingga puasaku benar-benar puasa lahir dan batin.”

Gurunya menjawab, “Siang hari kamu bisa menahan dan mengendalikan hawa nafsumu, akan tetapi justru di malam kamu malah mengumbar hawa nafsumu.

Lalu untuk apa siang hari hawa nafsumu yang tercela kamu kurung tidak boleh keluar, sedangkan malam harinya hawa nafsumu kamu biarkan berkeliaran?!”

Santri tersebut sangat malu sekali karena perbuatan dosanya diketahui oleh gurunya. Diapun berusaha menutupi kelemahannya sambil berkata, ” Siang dan malam saya tadarus al-Quran dua juz.”

“Kamu memang hebat sehari semalam tadarus dua juz, akan tetapi kamu juga sering menjelek-jelekan, menghina, memaki dan menghujat orang lain dalam setiap kesempatan.

Jika tidak menulis di postingan maka dalam setiap percakapan kamu sering berbuat demikian. Andaikata kebencianmu kepada orang lain itu ditulis melebihi dua juz bab kebencian.

Kamu itu sangat aneh setiap hari membaca al-Quran tapi setiap hari  masih suka mengumbar kebencian kepada orang lain?!,” jawab Gurunya.

Santri tersebut berkata, “Untuk mengisi waktu saya juga membaca kitab kuning yaitu Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghaozali setiap sore di masjid.”

Guru tersebut berkata, ” Setiap hari kamu rajin dan pintar membaca kitab, sayang sekali kamu juga pandai dan pintar membaca kesalahan orang lain. Sehingga setiap orang lain kamu salahkan, sedangkan salahmu sendiri tidak pernah kamu baca.”

Baca Juga :  Setan Diikat di Bulan Ramadhan, Kenapa Maksiat masih Terjadi?

Lalu santri tersebut menceritakan, “Setiap sore menjelang magrib saya juga mengeluarkan sedekah kadang dalam bentuk uang kadang juga makanan.”

Sang Guru menjawab, “Membagi sedekah kepada orang lain sangat bagus, sayangnya kamu juga suka membagi aib orang kepada orang lain.”

Santri tersebut berkata, “Dalam Ramadan ini saya selalu ikut Taraweh berjamaah lalu malam harinya melaksanakan salat tahajud sebelum sahur.”

Guru tersebut berkomentar, “Memang betul sangat bagus sekali memperbanyak salat malam di bulan Ramadan, akan tetapi salatmu selama ini tidak bisa mencegah dirimu untuk berbuat mungkar. Berarti salatmu hanya sebatas gerak tubuh belum sampai tembus ke roso jiwamu yang dalam.”

Santri tersebut bercerita kembalu, ” Dalam Ramadan ini siang dan malam saya selalu berzikir kepada Allah.”

Sang Guru menjawab, “Jika kamu memang rajin berzikir lalu mengapa lisanmu juga sering menyebarkan hoaks, suka menghina dan membenci orang lain baik dalam FB.mu dan lisanmu…?”

Lalu Guru tersebut memberi nasihat, ” Puasa Ramadan itu untuk mengalahkan dan menundukkan hawa nafsu, membersihkan jiwa dari segala sifat hewani dan tercela. Mengisi jiwa kita dengat sifat-sifat terpuji, maka orang yang istiqomah dalam bulan Ramadan akan mendapatkan pencerahan ruhani itulah malam lailatul qodar.”

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata).” [HR. Ibnu Majah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here