Ragam Pendapat Ulama tentang Ziarah Kubur

0
370

BincangSyariah.Com – Kalangan Ḥanafiyyah, Mâlikiyyah, asy-Syâfi’iyyah, dan Ḥanâbilah telah bersepakat bahwa hukum ziarah kubur adalah sunah, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Hal ini dalam rangka mengambil pelajaran bahwa kematian berlaku bagi siapa saja dan dan mengingat akan adanya hari pembalasan amal (akhirat).

Namun demikian, apabila kehadiran kaum perempuan dikhawatirkan menimbulkan fitnah, maka mereka dilarang (haram) ziarah kubur, sebagaimana disebutkan oleh ‘Abd ar-Raḥmân al-Jazîrî menyebutkan dalam Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah, (2011, I: 457-458).

Berbeda dengan Syaikh al-Islâm Ibnu Taymiyyah ra, Ḥanbâlian yang sangat mengagumi pemikiran Imam Mâlik ra. karena banyak yang sesuai dengan ketentuan sunnah (hadis), yang mengharamkan secara total kaum perempuan ziarah kubur seperti disebutkan oleh Muḥammad Rawwâs Qal’ahjî dalam Mawsû’ah Fiqh Ibnu Taymiyyah (2001, I: 9-10 & II: 1085).

Sementara Sayyid Sâbiq ra. menjelaskan dalam Fiqh as-Sunnah (I: 394-395)—setelah menyitir pendapat Imam Mâlik, sebagian mazhab Ḥanafî, Imam Aḥmad, dan para ulama lainnya—memperbolehkan para perempuan ziarah kubur. Pendapat ini disandarkan kepada hadis Nabi saw. yang mengizinkan Siti Aisyah ra. menziarahi kuburan saudaranya, ‘Abd ar-Raḥmân.

Selain itu, urusan mengingat kematian dan akhirat bukan hanya diperuntukkan bagi laki-laki semata, tetapi juga bagi kaum perempuan. Menurut beliau, para ulama melarang kalangan perempuan ziarah kubur karena mereka cenderung kurang bisa bersabar dan sering berkeluh-kesah secara berlebihan. Mereka seringkali menampilkan prilaku berlebihan ketika berada di makam, baik dalam hal bersedih karena kehilangan suami, berteriak histeris karena disebabkan suatu hal, maupun dalam hal bersolek yang dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Namun apabila aman dari hal-hal tersebut, maka perempuan boleh ziarah kubur. Tidak lain dan tidak bukan lantaran mengingat kematian merupakan kebutuhan semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Baca Juga :  Tiga Hal yang Membatalkan Tayamum

Abd ar-Raḥmân al-Jazîrî (2011: I, 458) menjelaskan bahwa disunahkan ziarah kepada makam orang-orang saleh, seperti para aulia, syuhada, khususnya kepada makam Nabi Muhammad saw., karena ia merupakan tempat yang paling mendekatkan diri kepada Allah. Ziarah ke makam para kekasih Allah, menurut Imam Aḥmad Ṣâwî al-Mâlikî dalam Hâsyiyah al-‘Allâmah Ṣâwî ‘Alâ Tafsîr al-Jalâlain (I: 282), merupakan bagian dari cinta kepada Allah.

Bahkan ia, selain silaturahmi, sedekah, memperbanyak doa, cinta kepada Nabi dan para wali, merupakan salah satu bentuk wasilah yang akan mengantarkan (mendekatkan) seorang hamba kepada Tuannya (Allah). Dengan kata lain, mecintai Allah dengan mencintai orang-orang yang dicintai-Nya.

Meminjam istilah Sufyan ibn ‘Uyainah ra., sebagaimana dikutip oleh Imam Nawâwî al-Jâwî dalam Syarḥ Naṣâ’ih al-‘Ibâd (hlm. 18), yang berbunyi “Man Aḥabba Allâh Aḥabba Man Aḥabbahû Allâh Ta’âlâ. Wa Man Aḥabba Man Aḥabbahû Allâh Ta’âlâ Aḥabba Mâ Aḥabba fî Allâh Wa Man Aḥabba Mâ Aḥabba fî Allâh Ta’âlâ  Aḥabba an lâ ya’rifahû an-nâs”, (barang siapa mencintai Allah, maka dia akan mencintai kekasih Allah. Barang siapa mencintai kekasih Allah, maka dia akan mencintai perbuatan baik yang dilakukan oleh kekasih Allah. Barang siapa mencintai perbuatan baik yang dilakukan oleh kekasih Allah, maka dia tidak suka pamer).

Selain dalam rangka tafakur dan bermuhasabah, ziarah kubur juga untuk mendoakan ahli kubur. Mengingat Rasulullah saw. ketika ziarah kubur selalu mengawalinya dengan memanggil salam kepada ahli kubur dan mendoakannya, sebagaiaman disebutkan oleh Sayyid Ṭâlib Ḥusain dalam Mukhtaṣar al-Kutub al-Khamsah (2010: 158).

Hal senada juga disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim bahwa ziarah kubur yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dalam rangka mendoakan, memohonkan rahmat kepada Allah dan mengistigfarkan ahli kubur. Oleh karena itu, Imam Aḥmad ibn Ḥanbal ra. berpendapat bahwa segala kebaikan, baik berbentuk fatihah, tahlil, bacaan al-Qur’an maupun sedekah yang dikirimkan kepada para ahl al-qubûr pahalanya akan sampai kepada mereka.

Baca Juga :  Tradisi Mendoakan Arwah Leluhur dalam Bulan Sya’ban

Menurut Sayyid Sâbiq terdapat lima perbuatan orang hidup yang sangat berguna bagi orang yang sudah meninggal, yaitu doa dan istigfar, sedekah, puasa, haji, salat, dan bacaan al-Qur’an yang secara khusus dikirimkan kepada ahli kubur. Berbeda dengan pandangan kalangan mazhab asy-Syâfi’î bahwa pahala bacaan al-Qur’an yang dikirimkan kepada ahli kubur tidak akan sampai (sia-sia), sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Sâbiq dalam Fiqh as-Sunnah (I:  394-397). wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here