Ragam Hukum Menikah dalam Islam

0
3853

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya, hukum asal menikah dalam Islam adalah sunah muakad atau sangat dianjurkan sekali. Namun demikian, hukum asal menikah tidak berlaku pada setiap orang. Sebagian orang memang disunahkan menikah, sebagian wajib, sebagian boleh, sebagian makruh, bahkan sebagian lagi haram hukumnya menikah.

Dalam kitab Qurratul ‘Uyun disebutkan bahwa hukum menikah berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung dengan kondisi orang yang hendak melakukannya. Berikut hukum menikah dalam Islam sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang.

Pertama, wajib. Menikah menjadi wajib apabila dalam diri seseorang sudah terpenuhi dua hal berikut. Pertama, khawatir jatuh ke dalam perbuatan zina. Kedua, sudah mampu secara materi dan finansial. Jika dalam diri seseorang sudah terpenuhi dua hal tersebut, maka dia sudah wajib hukumnya menikah.

Kedua, sunah. Disunahkan menikah bagi seseorang yang sudah mampu secara materi dan finansial namun dirinya tidak khawatir jatuh pada perbuatan zina. Dia masih bisa mengendalikan syahwatnya untuk tidak berbuat zina. Baginya, disunahkan untuk segera menikah agar bisa menyempurnakan separuh agamanya.

Ketiga, makruh. Bagi seseorang yang belum punya penghasilan sama sekali dan dirinya bisa menahan diri dari perbuatan zina, maka hukumnya makruh baginya untuk menikah. Suami bertanggung jawab untuk menafkahi istri, sehingga apabila tidak memiliki penghasilan untuk menafkahi istri, maka makruh untuk menikah.

Keempat, mubah. Jika tidak ada hal-hal yang mendorang seseorang untuk menikah dan tidak ada pula yang mencegahnya, maka baginya menikah hukumnya adalah mubah. Dia tidak dianjurkan untuk menikah dan juga tidak ada larangan untuk menundanya.

Kelima, haram. Menikah haram hukumnya bagi seseorang yang tidak bisa memenuhi nafkah untuk istrinya, baik nafkah materi atau batin. Jika menikah akan merugikan dan menelantarkan istrinya, atau akan mendorang dirinya untuk mencari nafkah dengan cara yang dilarang oleh Allah, seperti dengan mencuri dan lain sebagainya, maka haram baginya untuk menikah.

Baca Juga :  Saat Memilih Calon Pasangan, Ini 4 Kriteria yang Harus Dimiliki Pasangan Melebihi Anda

Agar terhindar dari perbuatan zina, dia hanya dianjurkan untuk menahannya dengan cara berpuasa, bukan dengan menikah, sebagaimana pesan Nabi Saw. berikut;

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).”

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here