Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I’tidal

0
2908

BincangSyariah.Com – Ketika berdiri dari ruku’ untuk i’tidal, biasanya kita akan membaca sami’allahu liman hamidah. Dan ketika i’tidal, kita juga biasa membaca rabbana lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardla wamil ulardli wamil umaasyi’ta min syain ba’du. Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan ragam bacaan dzikir yang bisa dibaca saat i’tidal. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya.

Imam Nawawi mengatakan bahwa ketika berdiri dari ruku’ sunnahnya adalah mengatakan sami’Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) dan boleh mengatakan man hamidallaha sami’a lahu (Siapa yang memuji Allah, maka Dia mendengarnya).

Adapun ketika i’tidal ragam bacaannya adalah sebagai berikut.

Bacaan Pertama. Rabbanaa lakal hamdu/rabbanaa walakal hamdu

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ “حين يرفع صلبه من الركوع، ثم يقول وهو قائم: “رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ” . (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya ia berkata, Rasulullah saw. mengucapkan “Sami’Allahu liman hamidah” ketika punggungnya naik dari posisi ruku’, lalu beliau mengucapkan ketika berdiri “Rabbanaa lakal hamd (Ya Tuhan kami Segala puji bagi Mu).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa redaksi di dalam riwayat-riwayat lainnya dengan menggunakan wawu sebagai berikut.

“رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ”

Rabbanaa walakal hamdu (Ya Tuhan kami, Dan segala puji bagi Mu). Menurut imam Nawawi keduanya baik untuk diamalkan.

Kedua. Rabbana lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardla wamil ulardli wamil umaasyi’ta min syain ba’du

عن علي وابن أبي أوفى رضي الله عنهم: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع رأسه قال: “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ” .(رواه مسلم)

Dari Ali dan Ibnu Abi Aufa r.a., bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengangkat kepalanya (dari ruku’) mengucapkan, “Sami’Allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu mil assamaawaati wamil alardli wamil amaasyi’ta min syain ba’du. (Allah mendengar terhadap orang yang memujinya, Ya Tuhan kami. Segala puji bagiMu sepenuh langit, sepenuhnya bumi, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu.” (HR. Muslim)

Baca Juga :  Lupa Tasyahud Awal Saat Salat, Apa yang Harus Dilakukan?

Ketiga. Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil’as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi’ta min syai in ba’du ahlats tsanaa’i wal majdi ahaqqu ma qaalal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun. Allahumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع رأسه من الركوع قال: “اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اَللّٰهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ. (رواه مسلم)

Dari Abi Sai’d Al-Khudri r.a., bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau membaca, “Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil’as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi’ta min syai in ba’du ahlats tsanaa’i wal majdi ahaqqu ma qaalal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun. Allahumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. (HR. Muslim)

Keempat. Rabbanaa lakal hamdu mil’as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa bainahumaa wa mil a maa syi’ta min syai in ba’du

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: ” رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْاَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. (رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas r.a., bahwasannya Nabi saw. ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau mengucapkan, “Rabbanaa lakal hamdu mil’as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa bainahumaa wa mil a maa syi’ta min syai in ba’du.” (HR. Muslim)

Baca Juga :  Anggota tubuh yang Wajib Menempel di Bumi saat Sujud

Kelima. Rabbanaa walakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fihi

عن رفاعة بن رافع الزرقي رضي الله عنه قال: كنا يوما نصلي وراء النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رفع رأسه من الركعة قال: “سمع الله لمن حمده ” ، فقال رجل وراءه: ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه، فلما انصرف قال: “من المتكلم؟” قال: أنا، قال: “رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها أيهم يكتبها أول” (رواه البخاري)

Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az-Zarqi r.a., ia berkata, “Suatu hari, kami shalat di belakang Nabi saw. lalu ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau mengucapkan, “Sami’Allahu liman Hamidah. Lalu ada seorang laki-laki yang berada di belakangnya mengucapkan, “Rabbanaa walakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi.” Ketika (hendak) pergi, beliau bertanya, “Siapa yang mengucapkan tadi?” laki-laki itu menjawab, “Saya.” Beliau bersabda, “Aku melihat 30 lebih malaikat yang berebutan pertama kali menulis amalnya.” (HR. Al-Bukhari)

Ketujuh. Bacaan Imam Syafii

Imam Nawawi menukil pendapat imam Syafii di dalam kitab Al-Umm yang mengatakan bahwa jika seseorang hendak berdiri dari ruku’ menuju i’tidak dan melaksanakan ’tidal, maka ia mengucapkan

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْاَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.

Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mil’as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi’ta min syai in ba’du ahlats tsanaa’i wal majdi ahaqqu ma qaalal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Baca Juga :  Syarat-syarat Sujud Tilawah

Ya Tuhan kami, hanyalah kepada Mu segala puji pujian yang banyak, baik, yang diberkahi di dalamnya sepenuh langit, sepenuhnya bumi, sepenuh keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu. Dzat yang berhak mendapatkan pujian dan kemuliaan sebagaimana yang diucapkan oleh hambaNya. Dan kita semua adalah hamba bagiMu. Tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan, dan Tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang telah Engkau cegah. Dan kemuliaan itu tidak ada gunanya dariMu Dzat yang memiliki kemuliaan.

Bacaan imam Syafii tersebut merupakan gabungan dari semua bacaan yang diajarkan Rasulullah saw. dan sahabanya di dalam hadis-hadisnya.

Imam Nawawi memberikan kesimpulan bahwa disunnahkan (jika mampu) membaca seluruh dari bacaan dzikir-dzikir tersebut ketika ruku’ (sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Syafii). Jika ingin meringkasnya maka cukup membaca “Sami’Allahu liman hamidah.” “Rabbanalakal hamdu mil’as samaawaati wamil al ardli wa mil a maa syi’ta min syain ba’du.” Dan jika ingin meringkasnya lagi maka cukup mengatakan “Sami’a Allahu liman hamidah.” “Rabbanaa walakal hamd.” Dan tidak ada bacaan yang lebih ringkas dari itu.

Terakhir imam Nawawi mengatakan ragam bacaan dzikir yang bisa dibaca saat i’tidal tersebut semuanya sunnah dilakukan baik bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. Kecuali bagi imam, tidak boleh membaca semua dzikir tersebut kecuali ia mengetahui bahwa makmumnya juga memperbolehkan ia shalat dengan bacaan yang panjang. Hal ini disebabkan karena kondisi imam yang berbeda-beda, ada yang tua, sibuk, dan lain sebagainya. Sehingga dikhawatirkan jika imam membaca terlalu panjang dan lama, maka makmumnya akan merasa resah. Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here