Puasa Syawal pada Hari Minggu

0
2787

BincangSyariah.Com – Puasa Syawal adalah puasa yang sunnah dilakukan oleh umat Muslim. Adapun waktu pelaksanaannaya adalah enam hari selama bulan Syawal (setelah hari raya Idul Fitri). Puasa Syawal lebih utama dilakukan secara berurutan dalam waktu enam hari, namun tidaklah mengapa jika pelaksanaannya dilakukan secaa terpisah. Lantas bagaimanakan jika puasa Syawal pada hari Minggu dalam bulan Syawal?

Sebagian golongan tidak memperbolehkan puasa sunnah pada hari Minggu, dengan alasan hari tersebut adalah “hari Id”nya orang kafir. Sehingga barang siapa yang berpuasa pada hari Minggu, mereka adalah mengangungkan hari tersebut. Mereka yang mengakui adanya larangan berpuasa pada hari Minggu secara khusus adalah hadis dari Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أكثر ما كان يصوم من الأيام يوم السبت والأحد ، كان يقول : « إنهما يوما عيد للمشركين وأنا أريد أن أخالفهم »

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak puasa pada hari Sabtu dan Ahad. Beliau berkata bahwa hari Sabtu dan Ahad adalah hari Id orang musyrik dan aku ingin menyelisihi mereka ketika itu.”

Hadis di atas menunjukkan larangan berpuasa pada hari Sabtu dan Minggu. Namun itu bila dikhususkan atau diistimewakan kedua hari tersebut. Bila berpuasa pada kedua hari tadi lalu diikuti dengan puasa hari sebelum atau sesudahnya atau karena bertepatan dengan kebiasaan puasa, maka tidak ada masalah. Sehingga melakukan puasa Syawal atau puasa Daud atau puasa yang punya sebab lainnya yang bertepatan dengan hari Minggu, maka tidak ada masalah.

Dari Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abi Tholib, dari bapaknya dari Kuroib –maula Ibnu Abbas-, beliau berkata :

Baca Juga :  Belum Mendapat Petunjuk, Bolehkah Mengulang-ulang Salat Istikharah?

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ، بَعَثَ إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ وَإِلَى عَائِشَةَ يَسْأَلُهُمَا: مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يَصُومَ مِنَ الْأَيَّامِ، فَقَالَتَا: مَا مَاتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ أَكْثَرُ صَوْمِهِ يَوْمَ السَّبْتِ وَالْأَحَدِ، وَيَقُولُ: «هُمَا عِيدَانِ لِأَهْلِ الْكِتَابِ فَنَحْنُ نُحِبُّ أَنْ نُخَالِفَهُمْ»

Bahwa Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu diutus ke Ummu Salamah atau Aisyah rodhiyallahu anhumaa untuk bertanya kepada keduanya : “Apakah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam senang berpuasa pada hari apa saja?”, keduanya menjawab : “tidaklah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam wafat, kecuali Beliau banyak berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “kedua hari tersebut adalah hari rayanya ahlul kitab, maka kami suka untuk menyelisihi mereka”.

Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. suka untuk berpuasa pada hari Sabtu dan Minggu, bahkan berdasarkan penuturan istrinya yaitu Ummu Salamah atau Aisyah rodhiyallahu anhumaa, yang mana mereka berdua lebih tahu keseharian Rasulullah Saw., dibandingkan orang lain, mengatakan bahwa pada kedua hari itu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam banyak berpuasa dibandingkan dengan hari lainnya.

Keterangan di atas menunjukkan atas bolehnya berpuasa pada hari Minggu. Lebih khusus lagi jika puasa yang memang disyariatkan untuk melaksanakannya. Misalnya puasa Syawal, Arafah dan Ayyamul Bidh. Puasa-puasa tersebut tetap sunnah hukumnya untuk dilaksanakan, sekalipun jatuh pada hari Minggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here