Puasa di Bulan Sya’ban, Dianjurkan atau Dilarang ?

0
6157

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa sangat banyak fadilah di bulan Sya’ban, khususnya di pertengahan bulan, karena di saat itulah malam agung terjadi, bahkan menurut Imam ‘Atho bin Yasar, Malam Nishfu Sya’ban adalah malam terbesar kedua setelah Lailatul Qadar. Karena bulan Sya’ban jatuh tepat sebelum Ramadan, maka bulan ini sangat tepat untuk melatih diri menghadapi Ramadan dengan mulai memperbanyak ibadah, salah satunya puasa. Dalam bulan ini memang dianjurkan untuk memperbanyak puasa, sebagaimana tertulis dalam Shahih Muslim :

وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ، أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Aku (‘Aisyah) tidak melihat Nabi saw tidak berpuasa lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban, sungguh beliau berpuasa sebulan penuh, beliau berpuasa di bulan Sya’ban kecuali hanya beberapa hari (tidak berpuasa)”

An-Nawawi dalam menjelaskan hadis di atas mengatakan, kalimat terakhir dalam hadis di atas adalah tafsir dari kalimat sebelumnya, jadi yang dimaksud berpuasa sebulan penuh bukanlah berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban, melainkan berpuasa di sebagian besar hari di bulan Sya’ban. Namun, yang perlu diketahui adalah ada ketentuan khusus mengenai puasa d bulan Sya’ban. Ada larangan untuk berpuasa di separuh akhir bulan Sya’ban (mulai tanggal 16). dalam sebuah hadis sahih disebutkan:

إِذا بَقِيَ نِصْفٌ مِنْ شَعْبانَ فَلا تَصُومُوا

“Ketika bulan Sya’ban menyisakan separuhnya, maka janganlah kalian semua berpuasa”.

Namun, larangan ini pun tidak bersifat mutlak. Ada keadaan-keadaan puasa di separuh akhir Sya’ban menjadi tidak haram. Sebagaimana keterangan dalam Hasyiah Al-Bajuri:

ومثل يوم الشك في حرمة صومه بلا سبب النصف الثاني من شعبان – إلى أن قال – هذا إذا لم يصل بما قبله ولو بيوم

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Ramadan yang Hening di Jerman

“Sama haramnya dengan puasa di hari syak adalah puasa di separuh akhir bulan Sya’ban tanpa ada sebab. Hal ini jika tidak disambung dengan puasa sebelumnya”

Juga keterangan yang dalam Nihayah Al-Muhtaj:

وله صومه عن القضاء والنذر – إلى ان قال -(وكذا لو وافق عادة تطوعه) سواء أكان يسرد الصوم أم يصوم يوما معينا كالاثنين والخميس أو يصوم يوما ويفطر يوما فوافق صومه يوم الشك

“Dia boleh berpuasa di hari syak dalam rangka puasa qada’ dan puasa karena nazar. Begitu pula jika hari syak bertepatan dengan kebiasaan dia dalam berpuasa. Baik berpuasa terus-menerus atau berpuasa di hari tertentu seperti Senin-Kamis atau puasa Dawud (sehari puasa, sehari tidak), lalu jadwal puasanya bertepatan dengan hari Syak”

Referensi di atas memang menjelaskan ketentuan puasa hari syak, namun ketentuan tersebut sama dengan ketentuan puasa di separuh akhir bulan Sya’ban. Lebih singkatnya, berikut keadaan-keadaan diperbolehkannya puasa di separuh akhir bulan Sya’ban.

  1. Berpuasa di hari sebelumnya (15 Sya’ban, dan seterusnya). Jika dia berpuasa pada 15 Sya’ban, maka dia boleh berpuasa hingga akhir bulan, namun jika berhenti di tengah, misalkan berpuasa pada tanggal 15-18 Sya’ban lalu pada tanggal 19 Sya’ban tidak berpuasa, maka tanggal 20 dan hari setelahnya dia tidak boleh berpuasa.
  2. Dia memiliki kebiasaan berpuasa, seperti Senin-Kamis. Misalkan tanggal 16 Sya’ban jatuh di hari Kamis dan pada tanggal 15 dia tidak berpuasa, maka dia tetap boleh berpuasa di hari Kamis. Dan melanjutkan rutinitasnya berpuasa Senin-Kamis hingga akhir bulan. Atau puasa Dawud (sehari puasa, sehari tidak), maka tidak disyaratkan puasa di hari sebelumnya
  3. Puasa qada’ dan puasa nazar, dua puasa ini juga dapat dilakukan kapan saja, tidak disyaratkan menyambungnya dengan hari sebelumnya.


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here