Hukum Puasa Calon Pengantin Sebelum Menikah

0
265

BincangSyariah.Com – Puasa merupakan rukun Islam yang ketiga. Puasa memiliki perbedaan hukum tergantung pada waktunya. Puasa memiliki hukum wajib jika dijalankan di bulanramadan. Sunah hukumnya jika puasadilakukan di luar ramadan dan tentunya sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw.

Di dalam Islam, ibadah tentu tidaksembarangan dilakukan, apalagi dibuat aturan sendiri untuk melaksanakannya. Hukum tentang puasa tentu bersumber dari al-Quran dan sunah Rasul yang kemudian dipelajari dan dipahami oleh ulama-ulama dengan berbagai disiplin ilmu. Untuk itu, sebagai orang yang tidak memiliki ilmu tentang itu maka sepatutnya tidak boleh mengubah hukum serta membuat aturan sendiri.

Berdasarkan paparan singkat di atas, jelaslah bahwa puasa yang dilakukan mesti berdasarkan hukum Islam yang terdapat dalam al-Quran dan hadis. Puasa tidak boleh dilaksanakan hanya berdasarkan perintah orang lain atau karena tradisi tertentu saja. Terkait dengan hal itu,  bagaimana hukumnya puasa calon pengantin sebelum menikah?

Sebenarnya dalam Islam, tidak ditemukan dengan sebutan puasa calon pengantin yang dilakukan sebelum menikah. Jika melakukan puasa hanya karena akan menikah maka Islam tidak pernah mensyariatkan anjuran tersebut. Untuk itu, tidak puasanya calon pengantin sebelum menikah tidak akan mengurangi keberkahan pernikahan. Serta pernikahan yang dilakukan itu tetap sah selama memenuhi syarat akad nikah.

Memang puasa sunah di luar ramadan sangat banyak. Sah saja jika calon pengantin melaksanakan puasa sebelum menikah, berdoa, dan menahan diri dari berbagai godaan menjelang pernikahan. Akan tetapi, jika ingin berpuasa maka pelaksanaan puasa haruslah denganketentuan yang telah disyariatkan. Ada banyak puasa sunah, seperti puasa senin kamis, puasa di bulan safar, puasa daud, dan lain sebagainya.

Sebelum menikah, calon pengantintentunya belum memiliki status yang sah sebagai suami istri. Di masa itu, biasanya calon pengantin mudah tergoda oleh rayuan setan, godaan hawa nafsu, dan ketidaksabaran untuk menunggu waktupernikahan. Alangkah lebih baiknya jika dijaga dengan berpuasa sunah.

Ada hal-hal lain yang bisa disiapkansupaya calon pengantin mendapatkan pernikahan yang berkah dan juga siap mengarungi bahtera rumah tangga untuk mencapai sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah Saw dan para sahabat tentang amalan pengantin baru, untuk kelanggengan rumah tangga.

Baca Juga :  Urutan Kerabat yang Berhak Jadi Wali Nikah

Pertama, doa setelah akad nikah. Ketikabertemu pertama kali setelah akad nikah, dianjurkan bagi suami untuk mendoakan istrinya. Mulai dari basmalah, kemudian mendoakan keberkahan untuk berdua dengan bacaan doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْها، وَبَارِكْ لَهَا فِيَّ

“Ya Allah jadikanlah dia berkah untukku, dan jadikanlah aku berkah untuknya.”

Selanjutnya membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.”

Kedua, mengerjakan salat malam pertama. Salat malam pertama dikerjakan secara berjamaah. Suami mengimami istri.

Seorang tabiin yang bernama Abu Said pernah menceritakan pengalamannya. “Saya menikahi seorang wanita, sementara saya masih seorang budak. Kemudian saya mengundang beberapa sahabat Nabi Saw. Di antara mereka adalah Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzifah radhiallahu’anhum.”

Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami salat. Tetapi mereka mengatakan “kamulah (Abu Sa’id) yang berhak. Karena tuan rumah lebih berhak untuk mengimami tamunya.” Aku pun maju mengimami mereka salat. Ketika itu aku masih seorang budak.

Dalil yang lain adalah riwayat dari Syaqiq, beliau mengatakan: ada seseorang yang bernama Abu Hariz. Beliau menceritakan: “saya menikahi seorang perawan yang masih muda, dan saya khawatir dia akan membenciku. Kemudian Ibnu Mas’ud memberi nasihat:

إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين

“Sesungguhnya kasih sayang itu dari Allah dan kebencian itu dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika istrimu datang kepadamu, perintahkanlah istrimu untuk melaksanakan salat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah:

Baca Juga :  Tiga Hal yang Membatalkan Tayamum

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”  (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dan disahihkan Albani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here