Merajut Ampunan Allah dengan Puasa Arafah

0
1291

BincangSyariah.Com – Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijjah. Puasa ini disunahkan bagi tiap muslim yang tidak menunaikan ibadah haji di tanah Mekkah. Puasa Arafah ini ternilai sebagai ibadah yang utama di sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah. Dalam kitab Al-Furu’, Ibnu Muflih memaparkan bahwa ulama sepakat perihal disunahkannya melaksanakan puasa pada sepuluh hari pertama Zulhijjah, lebih-lebih puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah.

Adapun orang yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunahkan unutk berpuasa. Disebutkan dalam Al Majmu’ karya Imam Nawawi bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah sepakat jikalau puasa Arafah disunahkan bagi setiap muslim yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang-orang yang sedang berhaji dan saat itu sedang di Arafah tidak disunahkan. Keterangan tersebut bersumber dari hadis dari Ummul Fadhl:

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari Muslim).

Puasa Arafah ini merupakan ajang untuk berlomba meraih ampunan Allah. sebagaimana yang sering kita dengar, puasa Arafah bisa menghapus dosa kita selama dua tahun, yaitu dosa yang telah lalu dan yang akan datang. Dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga :  Macam-macam Thawaf dan Hukumnya

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Zulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut memotivasi kita untuk tidak meninggalkan puasa sunah yang hanya ada setahun sekali. Fadha’ilul ‘amal tersebut Allah berikan spesial untuk umat Nabi Muhammad. Bila dihitung dengan logika, mungkin deretan angka tak lagi cukup untuk menghitung dosa dan kesalahan kita dalam waktu dua tahun. Namun Allah dengan sifat rahim-Nya memberikan ampunan begitu dahsyat bagi hamba yang berpuasa di hari Arafah.

Ulama berbeda pendapat mengenai ampunan dosa tersebut. Imam Nawawi mengatakan jika bukan dosa kecil yang diampuni, semoga dosa besar diperingankan. Jika tidak, semoga ditinggikan derajatnya. Sementara itu, Ibnu Taimiyah memaparkan dalam Majmu Al-Fatawa jika ampunan tersebut untuk dosa besar dan kecil. Karena hadisnya bersifat umum.

Lanjut kata, adakah yang mau melewatkan ampunan Allah yang begitu istimewa? Belum lagi amal saleh pada sepuluh hari pertama Zulhijjah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah, bahkan setara dengan jihad fisabilillah yang membuat seorang mati syahid dan hartanya habis di jalan Allah. Nabi bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Dawud ).

Baca Juga :  Tauhid adalah Alasan Allah Menciptakan Makhluk dan Semesta Alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here