Puasa adalah Seperempat Keimanan, Bisakah Nilainya Ditingkatkan?

0
1092

BincangSyariah.Com-Puasa dalam pengertian dasar memang bukanlah rukun iman. Kendatipun demikian, puasa–dengan seganap keistimewaannya–sangat identik dengan keimanan. Jika shalat disebut tiang agama, menurut pandangan beberapa ulama, Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid al-Ghazali, misalnya, puasa adalah seperempat keimanan.

Bagaimana Shahibul Ihya’ ini membangun argumentasi atas tesis atau pernyataannya di atas?

Al-Ghazali mendasarkan pendapatnya pada dua petikan hadis Rasulullah Saw.. Hadis pertama berbunyi:

الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ

Puasa adalah separuh kesabaran.” (HR. Al-Turmudzi, nomor 3.519).

Tentang mengapa puasa disebut seperempat keimanan, al-Manawi menjelaskan,

لأن الصبر حبس النفس على ما أمر الله أن يؤديه والصوم حبسها عن شهواتها وهي مناهي الله فمن حبس نفسه عنها فهو آت بنصف الصبر فإن صبر على إقامة أوامره فقد أتى بكمال الصبر

Sebab sabar adalah mengekang diri berdasakan apa yang Allah perintahkan. Sementara puasa, adalah mengungkung jiwa dari syahwat-syahwat yang berupa larangan-larangan Allah. Barang siapa yang menahan diri dari syahwa-syahwat itu, dialah orang yang telah beroleh separuh kesabaran. Dan jika ia juga bisa bersabar dalam melakukan perintah-perintah Allah, sungguh dia telah mencapai kesabaran yang utuh.” (al-Manawi, Faidh al-Qadir, 3/282).

Secara gamblang, dapat dikatakan bahwa kesabaran terbagi menjadi dua; sabar dalam menjalankan perintah-Nya dan sabar menjauhi larangan-Nya. Nah, puasa adalah salah satu bentuk kesabaran yang kedua, yaitu sabar menahan atau menjauhkan diri hasrat-hasrat yang tak terpuji. Aksentuasinya, bahwa puasa merupakan separuh kesabaran.

Dilanjutkan dengan hadis kedua yaitu,

الصَّبْرُ نِصْفُ الِإيْمَانِ

Kesabaran adalah separuh keimanan.

Dari beberapa catatan, termasuk yang ditulis al-‘Iraqi dalam kitabnya al-Mughni fi Haml al-Asfar fi al-Asfar yang berisi komentar tentang hadis-hadis dalam Ihya’, hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al-Khatib dari jalur Ibn Mas’ud.

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Ghaib Lengkap

Jika hadis pertama berbicara mengenai puasa dengan menyebutnya sebagai separuh kesabaran, hadis kedua ini berbicara bahwa kesabaran adalah setengah keimanan. Demikian pula menurut Ibn Rajab. Ia menyatakan,

فَلَمَّا كَانَ الْإِيمَانُ يَشْمَلُ فِعْلَ الْوَاجِبَاتِ، وَتَرْكَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَلَا يُنَالُ ذَلِكَ كُلُّهُ إِلَّا بِالصَّبْرِ، كَانَ الصَّبْرُ نِصْفَ الْإِيمَانِ

Tatkala keimanan meliputi (penj: berkonsekuensi) melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang, sedangkan hal itu tak bisa diperoleh tanpa kesabaran, maka sejatinya kesabaran adalah separuh keimanan.” (Ibn Rajab, Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, 2/11).

Menariknya, dalam bagian lain kitabnya, al-Ghazali membagi dorongan hawa nafsu ke dalam dua bentuk: syahwat (farji dan perut) dan marah (ghadlab). Hubungannya dengan mengapa puasa (hanya) disebut sebagai separuh kesabaran, al-Ghazali berkata,

وكان الصوم صبراً عن مقتضى الشهوة فقط وهي شهوة البطن والفرج دون مقتضى الغضب

Puasa adalah bersabar mengatasi dorongan syahwat perut dan farji saja. Tidak dari dorongan rasa marah.” (al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 4/66).

Sementara itu, masih menurut al-Ghazali, kesabaran yang sempurna adalah sabar dalam menghadapi kedua-duanya (doroangan syawat dan amarah). Dari sudut pandang inilah puasa bisa disebut sebagai seperempat keimanan. (al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 4/66).

Merujuk pendapatnya ini memberi peluang untuk meningkatkan kualitas puasa kita dari separuh kesabaran manjadi kesabaran seutuhnya, yaitu dengan cara menahan amarah secara bersamaan di saat perut dan kelamin kita juga sedang berpuasa. Sehingga, barangkali, apabila dikonversi ke dalam keimanan nilainya juga meningkat. Puasa kita nilainya bukan lagi seperempat keimanan, melainkan setengah dari keimanan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here