Prioritas Penerima Zakat di Era Pandemi Covid-19

1
1027

BincangSyariah.Com – Dalam artikel sebelumnya, penulis telah mengutip sejumlah pandangan Ibn Rusyd yang mencoba mengumpulkan pandangan para ulama tentang rasionalisasi makna berzakat. Salah satu makna dari berzakat, adalah sebagai instrumen agar orang yang kaya bisa menyalurkan hartanya kepada yang tidak berpunya. Nah, di tengah pandemi Covid-19 ini, kita tahu sejumlah orang mengalami kondisi yang cukup terpukul karena pekerjaan yang ia miliki tidak lagi bisa berjalan normal bahkan sebagian kehilangan pekerjaannya. Dampaknya, setelahnya sebagian tetap harus memenuhi kebutuhannya yang menjadikannya potensial terlilit hutang. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu menuliskan artikel soal prioritas penerima zakat di era pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Di bulan Ramadan ini, tentu yang jelas dilaksanakan hampir semua orang adalah membayar zakat fitrah. Sementara zakat mal, dimana aturannya adalah bisa ditunaikan per tahun (al-haul), sebagian ada yang membayarkannya juga di setiap bulan Ramadan.

Objek atau penerima zakat jika berdasarkan ayat Al-Qur’an, surah At-Taubah [9]: 60 terbagi menjadi 8 bagian, yaitu faqir, miskin (orang yang memiliki harta tapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari), ‘amil (penarik zakat), al-mu’allaf (orang yang baru masuk Islam), riqab (budak yang dimerdekakan), gharim (orang yang terlilit hutang), fi sabilillah (yang berjuang di jalan Allah, hari ini biasanya dikategorikan di dalamnya para dai atau ulama), ibn sabil (orang yang dalam perjalanan namun bekalnya sudah habis).

Saya mulai dari zakat fitrah. Menurut Ibn Rusyd, untuk zakat fitrah yang inti utamanya adalah agar orang tidak memiliki bahan makanan pokok khususnya di hari raya, maka ulama sepakat bahwa yang diutamakan adalah orang yang fakir. Jadi, orang fakir adalah sasaran utama penerima zakat fitrah.

Lalu bagaimana dengan zakat mal ? Ulama membahas, apakah delapan kategori penerima zakat ini menjadi sesuatu yang mutlak dibagi kedelapan pihak ini atau boleh diprioritaskan bahkan hanya kepada satu pihak penerima saja (misalnya orang miskin). Menurut Ibn Rusyd dalam Bidayatu al-Mujtahid, muara perbedaannya terletak pada apakah ayat At-Taubah: 80 ini maknanya adalah keharusnya dibagi ke delapan kelompok atau prioritas untuk membantu kebutuhan orang yang membutuhkan? (j. 1 h. 343) Jika maknanya yang kedua, makna boleh dibuat skala prioritas.

Nah, dari delapan objek penerima zakat tersebut, maka menurut penulis, harta yang dizakati itu bisa diprioritaskan untuk orang fakir, miskin, gharim, fi sabilillah, Ibn Sabil, dan amil. Fakir tentu harus diutamakan karena mereka benar-benar berada dalam kondisi yang memprihatinkan (bahkan sebenarnya negara harus concern agar kefakiran hilang dari negaranya). Lalu miskin, ada banyak orang yang kesulitan mencari harta saat ini meskipun memiliki profesinya, misal para pengemudi ojek atau kendaraan umum, karena pandemi Covid-19 membuat diterapkan pembatasannya penggunaan angkutan umum). Lalu orang-orang yang terlilit hutang (gharim). Kemudian para guru ngaji atau dai, betapapun kita berbeda pendapat soal boleh tidaknya ulama menerima fee dari dakwahnya, tapi kondisi Covid-19 ini cukup berdampak karena kegiatan keagamaan saat ini sedang dibatasi. Lalu ibn sabil, ini perlu jika kita menemukan orang yang ingin bertemu keluarganya, karena ia tidak memiliki pekerjaan lagi saat merantau, namun tidak punya harta yang cukup untuk pergi. Dan terakhir adalah amil. Di Indonesia, pengelolaan zakat memang tidak dibatasi oleh lembaga tertentu. Negara juga memiliki institusinya bernama BAZNAS, namun pihak swasta (baik ormas maupun di kalangan masyarakat sampai secara pribadi) bisa juga mengelola dan menyalurkan zakat. Para amil bisa diberikan jika mereka tidak mendapatkan gaji tetap dari tugasnya sebagai amil dan secara ekonomi kondisinya juga sulit. Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here