Pernikahan; Haruskah Ijab Kabul Satu Nafas?

0
6070

BincangSyariah.Com – Pernikahan adalah momen sakral dalam kehidupan sesorang. Salah satu yang menandai kesakralannya adalah saat prosesi ijab yang diucapkan wali wanita dan kabul yang diucapkan oleh laki-laki sebagai calon suaminya. Sah atau tidaknya pasangan calon suami istri ditentukan oleh sah atau tidaknya proses akad nikah itu sendiri. Di antaranya prosesi akad nikah itu ada unsur ijab dan kabul.

Hal cukup unik terjadi di masyarakat Indonesia, bahwa ketika calon suami mengucapkan kabul, maka harus dilakukan dengan satu nafas. Artinya, tidak boleh orang yang mengucapkan kabul itu sepatah-sepatah dan harus terdengar lantang. Jelas ini akan menjadi beban sebagian calon suami.

Takjarang sebagian saksi menyatakan tidak sah dan meminta diulangi akad nikah dengan alasan mempelai laki-laki tidak mengucapkan kalimat kabulnya dalam satu napas. Akibatnya, proses ijab kabul menjadi lama karena harus diulang beberapa kali. Lantas seperti apa pandangan hukum Islam terhadap hal ini? Apakah benar pengucapan satu nafas menjadi syarat sahnya ijab kabul dalam pernikahan?

Secara ringkas dapat disimpulkan, yang dimaksud ijab dalam pernikahan ialah pernyataan wali perempuan atau yang mewakili. Sedangkan kabul merupakan jawaban calon suami atau yang mewakili.

MuhammadKhathib as-Syarbini di dalam kitab al-Iqna’ menyebutkan ada lima hal yang menjadi rukun nikah. Beliau menuturkan:

فصل فِي أَرْكَان النِّكَاح وَهِي خَمْسَة صِيغَة وَزَوْجَة وَزوج وَولي وهما العاقدان وشاهدان

“Bab yang menerangkan tentang rukun-rukun nikah. Rukun nikah ada lima yakni; shighat (kalimat ijab kabul), istri, suami, wali yang keduanya (suami dan wali) merupakan orang yang berakad, dan dua orang saksi.”

Darikutipan kitab Al-Iqna’ di atas disimpulkan bahwa ada lima hal yang menjadi rukun nikah yang harus dipenuhi saat proses ijab kabul. Kelima rukun itu adalah shighat ijab kabul, mempelai perempuan, mempelai laki-laki, wali dari mempelai perempuan, dan dua orang saksi.

Baca Juga :  Lima Etika Menghadiri Undangan

Kelimarukun tersebut tentu sudah memiliki syarat-syarat tertentu yang juga mesti dipenuhi. Tidak terpenuhinya salah satu syarat pada salah satu rukun menjadikan akad nikah tidak sah.

Berikutbeberapa keterangan ulama terkait dengan syarat ijab kabul dalam pernikahan:

Pertama, ulama sepakat bahwa ijab kabul harus dilakukan dalam satu majelis. Dalam arti, antara ijab dan kabul dilakukan dalam konteks keadaan yang sama. Misalnya ijab kabul dilakukan di masjid, maka wali wanita dengan calon suami harus berada di dalam masjid juga. Jika terpisah, maka nikahnya tidak sah.

Didalam kitab fikih empat mazhab dinyatakan:

اتفقوا جميعا على ضرورة اتحاد مجلس العقد فلو قال الولي : زوجتك ابنتي وانفض المجلس قبل أن يقول الزوج : قبلت ثم قال في مجلس آخر أو في مكان آخر لم يصح

“Para ulama empat mazhab sepakat ijab kabul harus dilakukan dalam satu majelis akad. Sehingga andaikan wali mengatakan ‘saya nikahkan kamu dengan putriku’ lalu mereka berpisah, sebelum calon suami mengatakan, ’aku terima’. Kemudian di majelis yang lain atau di tempat lain, dia baru menyatakan menerima, ijab kabul ini tidak sah.” (al-Fiqh ala al-Mazahib al-Arba’ah)

Kedua, ulama berbeda pendapat, apakah jawaban kabul harus segera disampaikan tanpa ada jeda, ataukah boleh ada jeda beberapa saat, selama masih dalam satu majelis. Masih dalam kitab yang sama dinyatakan:

واختلفوا في الفور يعني النطق بالقبول عقب الإيجاب بدون فاصل

“Mereka berbeda pendapat tentang hukum al-faur (bersegera dalam menyampaikan kabul) artinya menyampaikan kabul tepat setelah ijab, tanpa ada jeda.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah)

Ulama Syafi’iyah dan Malikiyah berpendapat, harus segera (’ala al-Faur) dan tidak boleh ada pemisah, selain jeda ringan yang tidak sampai dianggap pemisah antara ijab dan kabul.

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Tarawih Secara Lengkap

واشترطالشافعية والمالكية الفور واغتفروا الفاصل اليسير الذي لا يقطع الفور عرفا

”Syafi’iyah dan Malikiyah mempersyaratkan harus segera. Namun tidak masalah jika ada pemisah ringan, yang tidak sampai dianggap telah memutus sikap ’segera’ dalam menyampaikan qabul.”

Sebagianulama syafi’iyah juga melarang, antara ijab dan kabul diselingi dengan ucapan apapun yang tidak ada hubungannya dengan akad nikah.

انفصل بين الايجاب والقبول بخطبة بأن قال الولي: زوجتك، وقال الزوج: بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، قبلت نكاحها، ففيه وجهان: (أحدهما) وهو قول الشيخ أبي حامد الاسفراييني، أنه يصح، لان الخطبة مأمور بها للعقد، فلم تمنع صحته: كالتيمم بين صلاتي الجمع. (والثاني) لا يصح، لانه فصل بين الايجاب والقبول. فلم يصح.

”Jika antara ijab dan kabul dipisahkan dengan membaca hamdalah dan shalawat, misalnya, seorang wali mengatakan, ’saya nikahkan kamu.’ Kemudian suami mengucapkan, ‘bismillah wal hamdu lillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, saya terima nikahnya.’ Dalam kasus ini ada dua pendapat ulama. Pertama, nikah sah. Ini pendapat Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini. Karena bacaan hamdalah dan shalawat disyariatkan ketika akad, sehingga tidak menghalangi keabsahannya. Sebagaimana orang yang melakukan tayamum di sela-sela antara dua salat yang dijamak. Kedua, tidak sah. Karena dia memisahkan antara ijab dan kabul, sehingga akad nikah tidak sah.”

Sementara ulama Hambali dan Hanafi tidak mempersyaratkan harus segera, selama ijab kabul masih dianggap terjadi dalam satu majelis. Sehingga ketika ada salah satu yang tidak konsentrasi ijab kabul dan melakukan aktivitas lain yang mengubah konteks pembicaraan, akad nikah tidak sah.

فاتفقالحنابلة والحنفية على أن الفور ليس بشرط مادام المجلس قائما عرفا أما إذا تشاغلا بما يقطع المجلس عرفا فإنه لا يصح

Baca Juga :  Musim Corona, Ingat Pesan Imam Ghazali untuk Saling Doakan Teman

”Hambali dan Hanafi berpendapat bahwa segera bukan syarat, selama masih dalam satu majelis. Namun jika salah satu sibuk melakukan aktivitas lain, yang memutus konteks pembicaraan, akad nikah tidak sah.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah)

Imam Ibnu Qudamah (ulama Hambali) mengatakan:

إذا تراخى القبول عن الإيجاب، صح، ما داما في المجلس، ولم يتشاغلا عنه بغيره؛ لأن حكم المجلس حكم حالة العقد

“Apabila kalimat kabul tidak langsung disampaikan setelah ijab, akad tetap sah. Selama masih dalam satu majelis, dan mereka tidak menyibukkan diri sehingga tidak lagi membicarakan akad. Karena hukum satu majelis adalah hukum yang sesuai konteks akad.” (al-Mughni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here