Ini 14 Perbedaan Bersuci dengan Wudhu dan Tayamum

2
4813

BincangSyariah.Com –  Ketidakadaan air atau tertimpa penyakit itu diperbolehkan untuk tidak berwudhu ketika hendak shalat. Wudhu dapat digantikan dengan tayamum menggunakan debu. Ada beberapa perbedaan antara bersuci dengan cara wudhu dan tayamum. Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyahnya menjelaskan perbedaan tersebut.

Pertama, memperbarui wudhu itu disunahkan, sementara orang yang tayamum itu tidak disunahkan. Artinya, orang yang masih punya wudhu itu boleh wudhu lagi dengan niat wudhu sunah. Praktik ini disebut dengan tajdidul wudhu. Dalam tayamum, itu tidak ada istilah tajdidut tayammum atau memperbarui tayamum.

Kedua, mengusap debu dengan tayamum pada anggota yang wajib dibasuh saat wudhu itu tidak disunahkan dilakukan sebanyak tiga kali. Ini kebalikan dari wudhu. Kita dianjurkan membasuh semua anggota wudhu sebanyak tiga kali-tiga kali setiap anggotanya.

Ketiga, debu untuk tayamum itu tidak wajib masuk hingga ke dalam rambut-rambut yang tipis. Ini berbeda dengan wudhu. Air harus dipastikan meresap ke rambut-rambut yang tipis.

Keempat, saat tayamum, kita tidak dianjurkan menggosok-gosok rambut tipis. Ini berbeda dengan wudhu yang mana kita disunahkan menggosok-gosok pangkal tumbuh rambut yang tipis.

Kelima, tayamum hanya dibolehkan untuk orang tertentu, seperti sakit atau tidak ada air. Sementara itu, wudhu bisa digunakan oleh siapapun.

Keenam, tayamum itu tidak boleh dilakukan sebelum cebok. Sementara itu, wudhu boleh dilakukan saat kita sudah cebok atau belum.

Ketujuh, tayamum tidak boleh dilakukan sebelum waktu shalat masuk. Misalnya, Sebelum waktu Zuhur masuk, kita tidak boleh tayamum untuk shalat Zuhur. Ini berbeda dengan wudhu. Misalnya, kita sudah punya wudhu sebelum waktu Zuhur masuk. Saat waktu Zuhur sudah masuk, kita tidak perlu wudhu lagi bila wudhu belum batal.

Kedelapan, tayamum itu tidak sah untuk melakukan shalat sunah mutlak pada waktu yang diharamkan shalat, seperti setelah Subuh atau Asar. Ini berbeda dengan wudhu. Kita boleh wudhu kapan pun kita mau, termasuk untuk melaksanakan shalat sunah mutlak.

Kesembilan, orang yang masih ada najis di badannya, misalnya terkena kencing anak, itu tidak boleh melakukan tayamum sebelum membersihkan najis. Hal ini berbeda dengan wudhu. Kita bisa berwudhu tanpa harus membersihkan badan kita dari najis terlebih dahulu.

Kesepuluh, tayamum itu tidak bisa mengangkat hadas. Karena itu, saat niat tayamum, kita tidak mengatakan li raf’il hadas akan tetapi listibahatis sholat (untuk sekedar diperbolehkan melakukan shalat). Wudhu jelas dapat menghilangkan hadas kecil.

Kesebelas, anggota badan yang diusap saat tayamum itu hanya wajah dan tangan. Ini berbeda dengan wudhu. Anggota yang wajib dibasuh saat wudhu, selain wajah dan kedua tangan, itu ada kaki, dan mengusap rambut kepala dengan air.

Keduabelas, satu kali tayamum hanya bisa digunakan untuk satu kali shalat fardu. Oleh karena itu, setiap kali ingin melakukan shalat fardu, maka kita harus memperbarui tayamum kita. Shalat Zuhur harus punya tayamum sendiri, dan shalat Asar juga harus tayamum lagi. Ini berbeda dengan wudhu, selagi belum batal wudhu, kita bisa melakukan shalat fardu sebanyak apapun dengan satu kali wudhu.

Ketigabelas, seperti disebutkan pada poin keduabelas, tayamum itu hanya bisa digunakan untuk satu kali fardu. Oleh karena itu, seseorang yang ingin tayamum untuk shalat Duha, maka tayamum tersebut tidak boleh digunakan untuk shalat Zuhur, misalnya. Ini walaupun tayamumnya belum batal. Hal ini tidak demikian dengan wudhu. Kita wudhu untuk shalat Duha itu tidak perlu berwudhu lagi apabila ingin melakukan shalat Zuhur, selagi wudhu belum batal.

Keempatbelas, tayamum seseorang itu bisa batal bila sebab tayamum tersebut karena ketidakadaan air. Tiba-tiba di tengah-tengah shalat, air hujan turun lebat.

100%

2 KOMENTAR

  1. […] Jika air liur anjing atau cairan anjing lainnya terkena tubuh, tempat, atau benda tertentu, maka semuanya itu menjadi najis. Ini meskipun air liur anjing atau cairan lainnya itu sudah kering. Meski air liur anjing sudah kering, namun secara hukum (hukmiyah) najisnya masih dianggap ada. Ia menjadi suci jika dibasuh dengan air sebanyak tujuh kali di mana salah satunya dengan debu. (Baca: Ini 14 Perbedaan Bersuci dengan Wudhu dan Tayamum) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here