Pengertian Musta’mal dalam Bersuci: Tentang Video Praktik Berwudu Sandiaga Uno

3
1413

BincangSyariah.Com – Secara kebahasaan, kata “Musta’mal” merupakan isim maf’ul (kata benda yang diberikan makna objek dari kata kerja) dari kata ista’mala, yaitu kata “amala” (perbuatan) yang diikutkan pada wazan “istaf’ala”. Dalam bab thaharah (bersuci) musta’mal bisa kita maknai sebagai air yang sudah digunakan untuk bersuci yang volumenya kurang dari 2 qullah (60 cm x 60 cm x 60 cm). Air musta’mal semacam ini tidak bisa lagi digunakan untuk bersuci sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qarib (Surabaya: Kharisma, 2000), hal. 26:

و القسم الثالث (طاهر) في نفسه (غير مطهر لغيره، وهو الماء المُستعمَل) في رفع حدث أو إزالة نجس إن لم يتغير ولم يزد وزنُه

“Macam ketiga, air yang suci namun tidak mensucikan bagi lainnya, yakni air musta’mal bekas dipakai menghilangkan hadats ataupun najis jika tidak berubah sifatnya dan tidak bertambah timbangannya”

Istilah air musta’mal agak sulit digambarkan bagi masyarakat Indonesia, mengingat di Indonesia, untuk mendapatkan air adalah hal yang mudah. Tidak perlu menggunakan air yang layak minum, bersuci bisa menggunakan air laut, air sungai, air rawa, dan lain sebagainya. Istilah air musta’mal lebih akrab dengan telinga orang Timur Tengah. Karena saat bersuci, khususnya wudu, mereka biasanya menggunakan air cukup satu satu ina’ (bejana) yang kurang dari 2 qullah, mengingat disana ketersediaan air sangat terbatas. Meski demikian, di daerah Mekkah dan Madinah, penulis temui jarang pula orang yang berwudlu dengan air satu ina’ karena pasokan air di kedua tempat tersebut cukup melimpah.

Tentu saja beda dengan Indonesia, dimana tempat wudlu disini menggunakan kran  atau jeding (kolam tampungan air) yang memuat air yang jauh lebih banyak dari dua qullah.

Baca Juga :  Adab Menyambut Kelahiran Anak dalam Islam

Lantas apa hubungannya dengan Sandiaga Uno? Sebagaimana kita tahu, baru-baru ini viral video praktik berwudu beliau yang agak janggal. Karena hanya menggunakan air satu gayung. Video itu sendiri tidak utuh, hanya memperlihatkan awal Sandi berwudu dengan mencelupkan tangannya untuk membasuh telapak tangan, kemudian terpotong. Lantas memperlihatkan Sandi mengusap telinga dan membasuh kaki. Masih dengan air satu gayung tersebut.

Publik lantas heboh. Beberapa menyebutkan bahwa praktik wudu tersebut tidak sah. Yang lain mengatakan sah sambil menambahkan bahwa yang mengatakan tidak sah itu lebay, pemahaman agamanya anti perbedaan, dan lain sebagainya. Sebagian ada pula yang menciptakan istilah “Wudu Mazhab Joshua”, yang maksudnya “wudu pake cara diobok-obok”, dan lain sebagainya.

Sekarang, mari kita analisa praktik wudhlu Sandi dari sudut pandang fikih, dengan hanya bermodal potongan video pendek yang tidak utuh tersebut.

Pertama, Sandi mencelupkan tangannya untuk membasuh telapak tangan. Sebagaimana kita tahu bahwa membasuh telapak tangan hukumnya sunah dalam wudu, bukan bagian dari rukun. Sehingga tidak membuat air dalam gayung menjadi musta’mal, karena perhitungannya dimulai dari membasuh wajah. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi:

إذا غمس المتوضئ يده في إناء فيه دون القلتين فإن كان قبل غسل الوجه لم يصر الماء مستعملا سواء نوى رفع الحدث أم لا

“Apabila seorang yang berwudhu memasukkan tangannya ke dalam air yang kurang dari dua kullah sebelum membasuh wajah, maka air ini tidak menjadi musta’mal, baik ketika dia memasukkan tangannya itu berniat untuk bersuci atau tidak”.

Meski demikian, pendapat Imam Nawawi diatas berawal dari asumsi bahwa telapak tangan Sandi dipastikan terbebas dari kemungkinan terkena najis. Karena jika ada dugaan semacam itu, maka Rasulullah memerintahkan demikian:

Baca Juga :  Memahami Fardhu-Fardhu Wudhu

«إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا الْإِنَاءَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ»

“Jika salah satu diantara kalian bangun tidur, maka cucilah tangan kalian sebelum memasukkannya kedalam bejana, karena sesungguhnya kalian semua tidak tahu semalaman tangan kalian kemana”

Maksud dari hadis tersebut adalah Rasulullah mengingatkan para sahabat agar ketika mereka bangun tidur dan hendak berwudu, mereka harus membasuh tangan terlebih dahulu, dengan cara mengalirkan air dari bejana ke tangan mereka. Itu dilakukan sebelum mereka mencelupkan tangan mereka ke dalam bejana. Hal tersebut dilakukan karena ada kemungkinan tangan tersebut bersentuhan dengan najis saat mereka tidur.

Kesimpulannya, praktik berwudu Sandi bisa saja kita katakan sah dengan menggunakan asumsi bahwa telapak tangannya dipastikan suci dan menggunakan pendekatan perbandingan mazhab atau apapun. Akan tetapi, terlepas dari sah atau tidaknya, Sandi merupakan tokoh masyarakat yang sedang menjadi sorotan banyak orang, hingga segala tindak tanduknya pasti dikomentari oleh orang lain. Atau jangan-jangan dia memang sengaja suka membuat kontroversi? Wallahu A’lam.

Perhatikan kelanjutan videonya, Sandi kemudian membasuh telinganya dan mencuci kakinya. Karena merasa kurang untuk mencuci kaki, kemudian Sandi mengambil lagi air dari kolam untuk menambahi cucian kaki. Nah, ada banyak air bukan disitu, kenapa pula repot-repot pake air segayung?

Perhatikan pula bahwa di sebelah Sandi ada orang yang setia mendampingi. Kenapa tidak minta orang tersebut untuk membantu Sandi mengalirkan air? Karena dalam bersuci ada perbedaan antara mengalirkan air pada anggota wudhlu dengan mencelupkan anggota wudlu ke dalam air. Kita tentu masih ingat kan nasihat nenek: “Kalau mencuci baju, masukkan baju kotor dulu ke dalam ember, lalu masukkan air, jangan dibalik”. Wallahu A’lam.

3 KOMENTAR

  1. Penulis harus belajar lagi shifat wudhu Nabi…dan banyak memahami hadits2 ttg wudhu Nabi sebagaimana di contohkan oleh sahabat Usmam bin Affan

  2. Penulis perlu belajar lagi.
    Krn disini ia tdk menjelaskan pendapat imam syafie ketika imam malik melihat imam syafie berwudu’dgn memasukkan tangan dalam gayung yg airnya sedikit. Pd hal airnya banyak, namun imam syafie melanjutkan wudhu’nya. Sedangkan imam malik, guru dr pd imam syafi.
    Jd untuk penulis, ini jg perlu d telusuri semua pandangan hukum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here