Pengertian dan Anjuran I’tikaf Sesuai Sunah Nabi

11
22746

BincangSyariah.Com – I’tikaf umumnya dipahami sebagai ritual berdiam diri di masjid selama bulan Ramadhan, bagaimanakah sebenarnya Islam memandang praktik ibadah ini? Pandangan Islam tentang i’tikaf sangatlah luas. Pada kesempatan ini menarik untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan i’tikaf dari kacamata fikih.

I’tikaf secara bahasa adalah mendiami atau menetapi sesuatu, baik sesuatu itu berupa suatu hal yang baik maupun suatu hal yang buruk. Kata i’tikaf juga digunakan untuk mendiami suatu hal yang buruk, tercermin dalam firman Allah: “ya’kifuuna ‘ala ashnaam lahum” (orang-orang kafir ber-i’tikaf di hadapan berhala-berhala yang mereka miliki), ia juga bisa juga berarti mendiami suatu hal yang baik, seperti dalam firman Allah: “wa laa tubaasyiruu hunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid” (dan janganlah kalian mencampuri istri-istri kalian, sedangkan kalian sedang ber-i’tikaf di masjid).

Meski makna dasar i’tikaf cenderung netral, namun para ulama mengerucutkan maknanya ke dalam artian yang sama, yakni berdiam diri di dalam masjid. Ulama Syafi’iyah sebagaimana dikutip dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, menyebut bahwa i’tikaf adalah kegiatan menetap di dalam masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan niat tertentu.

Ulama Hanabilah menyebut i’tikaf sebagai menetapi masjid dengan tujuan untuk taat kepada Allah, dengan syarat ia adalah muslim, berakal, suci dari hadas besar, mumayiz, berdiam diri minimal satu jam. Dalam i’tikaf idak diperkenankan bagi orang kafir, orang gila maupun anak-anak. Demikian pula dengan ulama Malikiyyah, memaknai i’tikaf sebagai kegiatan berdiam diri di dalam masjid.

Adapun dalil pensyariatan i’tikaf sangat banyak dan beragam, dalil Alquran sebagaimana yang telah diutarakan di atas, sebagaimana berikut:

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ

Baca Juga :  Anjuran I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Dan janganlah kalian mencampuri istri-istri kalian, sedangkan kalian sedang beri’tikaf di masjid.” (QS. Al-لآaqarah:187)

Atau dalam hadis Nabi SAW.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Ibn ‘Umar bahwa Nabi SAW. ber-i’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

Terkait hukum melaksanakan i’tikaf, ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah memiliki pemahaman yang sama. Menurut keduanya, hukum i’tikaf adalah sunah atau mustahabbah dilaksanakan di setiap waktu. Hukum tersebut menjadi wajib ketika seseorang memiliki nadzar untuk melaksanakan sebelumnya. Pendapat sedikit berbeda diutarakan oleh ulama Hanafiyyah, menurut mereka hukumnya terbagi ke dalam tiga kategori.

Pertama, sunah muakadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan karena Nabi SAW. melakukannya. Kedua, mustahabah (dianjurkan) di setiap waktu selain dari sepuluh hari terakhir. Yang ketiga adalah wajib, ketika didahului oleh nadzar (atau janji dengan nama Allah).

Perbincangan fikih terkait i’tikaf selanjutnya adalah tentang kapan i’tikaf dilaksanakan. Terdapat beberapa perbedaan di kalangan ulama fikih. Pertama, i’tikaf dianjurkan dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan, batas minimalnya menurut ulama Hanafiyyah adalah sebentar saja tanpa ada batasan yang pasti, dengan syarat berdiam diri dan disertai dengan niat.

Sedangkan menurut ulama Malikiyyah batas minimal dikatakan sebagai i’tikaf adalah sehari semalam. Adapun menurut ulama Syafi’iyyah, batas minimal i’tikaf adalah berdiam diri sampai ia dikatakan sebagai orang yang tinggal, ukurannya adalah melebihi ukuran orang dikatakan tuma’ninah dalam ruku’ dan selainnya. Tidak ada keharusan untuk tinggal di masjid, bolak-balik masuk saja dikatakan i’tikaf dengan syarat minimal tersebut.

Baca Juga :  Sibuk Vs I’tikaf: Adakah yang Sesibuk Nabi Saw.?

Yang terakhir adalah tempat di mana i’tikaf itu dilaksanakan. Ulama Hanafiyyah membagi tempat untuk melaksanakan i’tikaf ke dalam dua kategori. Pertama adalah untuk laki-laki, diharuskan untuk melaksanakannya di Masjid Jami’ atau Jamaa’ah, yakni masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan dan memiliki imam, meskipun di dalamnya tidak dipakai untuk menjalankan salat lima waktu berjamaah secara penuh.

Ini didasarkan pada riwayat Ibn Mas’ud, “tidak dinamakan i’tikaf, kecuali dikerjakan di dalam Masjid Jama’ah”. Kedua adalah untuk perempuan, yakni dilaksanakan di masjid rumahnya, yakni tempat ibadah yang dipersiapkan untuk melaksanakan salat lima waktu. Adapun ulama Syafi’iyah memperbolehkan ber-i’tikaf di masjid, baik yang masih dalam satu atap dengan masjid atau di luar masjid yang masih berhubungan dengan masjid.

Namun, lebih diutamakan lagi adalah di dalam Masjid Jama’ah. Berbanding sangat terbalik dengan pendapat ulama Hanafiyyah, menurut ulama Syafi’iyah, perempuan tidak diperbolehkan i’tikaf di Masjid rumahnya dengan alasan, masjid di dalam rumah bisa berubah-ubah (tidak tetap) dan orang yang tengah junub pun boleh mendiaminya. Ditambah lagi, dahulu istri-istri Nabi SAW, melaksanakan i’tikaf di dalam masjid bukan di rumah-rumah mereka.

Begitulah kiranya beberapa pandangan ulama tentang i’tikaf, para ulama fikih memiliki pandangannya masing-masing, kadangkala mereka sependapat dalam beberapa hal, kadangkala pula mereka berbeda dalam beberapa hal. Tapi semuanya sedang berupaya menjelaskan seperti apa I’tikaf sesuai sunnah Nabi itu.

Wallahu a’lam.

11 KOMENTAR

  1. Semua keterangan nya bagus dan benar karena tujuan nya sama beribadah pada allah swt mau di mana pun tempat nya

  2. Sangat mengagumkan juga bisa mnambah wawasan juga.
    Dan sangat bermanfaat sekali untuk kita semua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here