Pendidikan Karakter dan Cinta Dalam Berkurban

0
368

BincangSyariah.Com –Kisah indah Nabi Ibrahim yang diminta oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya adalah kisah yang tidak dapat terlupakan oleh umat Islam. Setelah Nabi Ibrahim mendapat persetujuan putranya, maka dibaringkanlah putranya atas pelipisnya. Allah memanggilnya “Hai Ibarahim, kamu telah membenarkan mimpimu”, dan seketika itu Allah menebus putra Nabi Ibrahim dengan seekor sembelihan yang besar. Kisah tersebut diabadikan Allah dalam QS Ash-Shaffat ayat 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmuo. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Ayat tersebut sungguh mengguncang jiwa, namun tetap meninggalkan sebuah pesan cinta agar manusia selalu siap menaati perintah Allah. Dari kejadian tersebut, Allah menyelipkan sebuah pendidikan karakter dan spiritual yang indah bagi generasi pasca Nabi Ibrahim. Semangat kerelawanan, ketulusan, ketaqwaan keikhlasan dan kepasrahan total Nabi Ibarhim seyogyanga kita pertahankan hingga kini, tidak semata berkurban lantas makan sate begitu saja.

Secara tidak langsung, kurban juga mendidik keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. Wujud keimanan adalah kepasrahan total atas perintah Allah serta siap menerima ujian yang diberikan dengan penuh kesabaran. Ketika dua hal itu, pasrah dan sabar sudah mampu diinternalisasikan dalam kepribadian seorang Muslim, dirinya akan mudah menjadi pribadi yang bersyukur atas segala kebaikan dan kelebihan baik material maupun immaterial yang diberikan Allah.

Baca Juga :  Berhubungan Intim Suami Istri Setelah Sahur, Apakah Membatalkan Puasa?

Berkurban adalah kemenangan manusia yang bertauhid dalam menjalankan perintah Tuhannya dengan menyelisishi kaum non muslim dalam beribadah dan menyembelihnya. Allah berfirman QS Al-Hajj:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

Dalam Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah disebutkan bahwa setiap mukmin seharusnya dengan mengingat kisah indah Nabi Ibrahim akan menambah ketaatan dan kecintaan pada Allah dibanding anak atau harta benda lainnya. Pengorbanan Nabi Ibrahim yang seperti itulah yang akan menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Nabi Isma’il pun diganti dengan seekor sesembelihan yang besar.

Ketika manusia mampu mencintai Allah lebih dari segalanya, disaat itulah ia mendapatkan keselamatan yang hakiki. Dialah yang paling berhak untuk dicintai, yang lebih patut menjadi labuhan hati dibandingkan orang tua, anak, bahkan diri sendiri. Inilah maqom tertinggi berbagai tingkatan cinta bagi para pencari cinta.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here