Pelajari Tujuh Hal Penting Terkait dengan Niat

1
5145

BincangSyariah.Com – Niat merupakan kunci utama dari sebuah ibadah. Tanpa niat maka sia-sia ibadah yang dikerjakan. Sebab niat yang baik, pekerjaan yang mubah bisa bernilai ibadah. Sebab niat yang buruk, ibadah menjadi sia-sia. Sebut saja makan, makan hukumnya mubah. Tapi jika diniati ibadah, misalkan agar badan kuat untuk salat, maka makan tersebut bisa mendapatkan pahala. Sekarang salat, diniati karena ada mertua, maka tak ubahnya olahraga dari pemain sepak bola. Salatnya tak bernilai apa-apa. Berkenaan dengan niat, Rasulullah Saw. bersabda:

انما الاعمال بالنية وانما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله ومن كانت هجرته الى دنيا يصيبها او امراة ينكحها فهجرته الى ما هاجر اليه.

Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Seseorang akan mendapatkan apa yang ia niati. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya dikarenakan harta yang dicari, atau karena permpuan yang dinikahi, maka hijrahnya sesuai dengan yang dituju. (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh karena itu, penting sekali setiap dari kita untuk memahami hal-hal yang berhubungan dengan niat agar ibadah yang dilakukan tidak menjadi sia-sia. Berkenaan dengan niat, ulama fiqh menyebutkan bahwa ada tujuh hal yang harus dipahami oleh orang mukallaf. Ketujuh hal tersebut dikumpulkan dalam bentuk syi’ir sebagaimana berikut:

حقيقة حكم محل وزمن # كيفية شرط ومقصود حسن

Haqiqotun hukmun mahallun wazaman # kaifiyatun syarthun wamaksudun hasan

(tujuh hal yang harus dipahami dari niat) yaitu, hakikat, hukum, tempat, waktu, cara, syarat, dan tujuan.

Satu, hakikat niat. Secara bahasa, niat adalah bermaksud melakukan sesuatu, baik bersamaan dengan pekerjaannya atau tidak. Sedangkan menurut istilah, niat adalah bermaksud melakukan sesuatu bersamaan dengan pekerjaannya. Misalkan niat dalam salat, wudu’, dan mandi besar. Apabila niat tidak bersamaan dengan pekerjaannya, maka dinamakan ‘azam. Misalkan niatnya sekarang tapi pekerjaannya masih nanti. Contohnya puasa, niatnya malam hari sedangkan pekerjaannya siang hari. Atau umpamanya kita berniat mau pergi ke pondok sore hari, yang mengucapakan pada pagi hari sedangkan berangkatnya pada waktu sore.

Baca Juga :  Apa Saja yang Dilakukan Jamaah Haji saat Wukuf di Arafah?

Dua, hukum niat. Secara umum hukum niat dalam ibadah itu wajib. Misalkan dalam salat,  niat menjadi salah satu rukun yang wajib dilaksanakan dalam salat. Tanpa niat maka sia-sia salatnya. Hanya saja ada sebagian ibadah dalam islam yang tidak wajib diniati. Yaitu memandikan jenazah. Niat dalam memandikan jenazah hanya dihukumi sunah oleh para ulama, yang wajib hanya memandikannya. Berbeda dengan mengwudu’i jenazah, hukmnya sunah tapi niatnya wajib.

Tiga, tempat niat. Tempat niat adalah di hati. Bukan di lisan. Adapun melafadzkan niat sebagaimana yang lumrah di tengah masyarakat itu hukumnya sunah. Tujuannya adalah untuk menuntun hati saat berniat. Oleh karena itu tidak sah wudu’ sesorang yang hanya mencukupkan pada pengucapan lisan saat berniat.

Empat, waktu niat. Waktu niat harus bersamaan dengan permulaan ibadah. Misalkan wudu’, maka niatnya harus dibaca bersamaan dengan membasuh muka. Tidak sah apabila berniat ketika sudah membasuh kedua tangan saat berwudhu. Dalam salat juga sama, niatnya harus berbarengan dengan permulaan takbiratu al-ihram. Adapun untuk puasa fardu, maka niatnya tidak boleh bersamaan dengan permulaannya. Dalam artian sebelum terbit fajar (awal puasa) kita sudah berniat untuk puasa. Bahkan jika dipaksakan berniat saat terbit fajar, maka puasanya menjadi tidak sah. Karena syarat khusus niat puasa harus pada malam hari. Sedangkan terbit fajar adalah masuk waktu siang. Rasulullah Saw. bersabda,

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له – رواه الخمسة

Barangsiapa yang tidak menginapkan (niat) puasa, maka tidak ada puasa untuknya. (diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

Lima, cara niat. Cara niat berbeda-beda sesuai dengan yang diniati.

Baca Juga :  Niat yang Membawa Kebaikan

Enam, syarat niat. Syarat-syarat yang berkaitan dengan orang yang berniat ada empat, yaitu beragama islam, tamyiz (cakap), tahu terhadap pekerjaan yang diniati, menentukan pekerjaan yang diniati, dan menghindari hal-hal yang menafikan niat.

Tujuh, tujuan niat. Tujuan niat adalah untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya atau ibadah dengan kebiasaan. Misalkan antara salat zuhur dengan salat asar, zakat dengan sedekah, haji dengan umroh. Atau antara cuci muka habis tidur dengan cuci muka untuk wudhu, mandi junub dengan mandi karena gerah.

1 KOMENTAR

  1. Mhn maaf ada titipan pertanyaan…
    Utk poin ketiga apakah niat yang lumrah di masyarakat utk dilafafzkan adl sunnah?
    Cara menjelaskan yg minta dasar bgmn ya?
    Kalau menurut saya memang niat yg penting di hati sambil dilafadz utk menuntun.
    Trims

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here