Pedoman Puasa Ramadhan Tahun 2021

1
88

BincangSyariah.Com – Tak terasa Ramadhan segera tiba. Bulan suci penuh rahmat tahun 2021 akan dimulai sejak awal bulan April sampai dengan bulan Mei 2021. Sebelum menunaikan ibadah puasa, mari membaca Pedoman Puasa Ramadhan Tahun 2021 terlebih dahulu agar puasa Ramadhan di tahun ini bisa dipersiapkan secara matang sejak jauh hari.

Kewajiban Sebagai Muslim

Sebelum beranjak ke bagian-bagian dari Pedoman Puasa Ramadhan Tahun 2021, kita harus memahami terlebih dahulu hakikat puasa Ramadhan sebagai kewajiban. Kewajiban melaksanakan puasa di bulan Ramadhan bersumber dari hadis Nabi Muhammad Saw. yang menjelaskan tentang rukun Islam sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya: “Dari Abdullah bin Umar -semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Islam dibangun di atas 5 syahadat Tiada tuhan Selain Allah dan Muhammad Utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji, puasa ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)

Seorang Muslim yang membangkang akan kewajiban berpuasa akan dihukum sebagai seorang kafir. Berbeda halnya dengan orang yang tahu tentang kewajiban berpuasa, tidak membangkangnya, namun tidak melaksanakannya dengan alasan malas atau lain sebagainya, maka orang semacam itu tidak dianggap kafir, melainkan dianggap fasiq.

Umat Islam tidak diperbolehkan untuk secara mentah-mentah menghukumi kafir kepada saudara sesama muslim yang tidak berpuasa. Sebab, tidak berpuasanya seseorang belum tentu bentuk pengingkaran terhadap  kewajibannya. Bisa jadi karena ia bodoh, awam, atau malas.

Selain itu, wajib hukumnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar khususnya pada orang-orang fasiq yang mengakui tentang kewajiban berpuasa namun masih enggan melakukannya.

Cara paling ideal dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar tersebut ialah memberikan kondisi senyaman mungkin agar dia mau berpuasa dan terus mengingatkannya untuk mau berpuasa, menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu, setidaknya saat berada di hadapan kita. Saar berada di luar pengawasan kita, maka bukan lagi menjadi kewajiban untuk meneliti secara mendetail apakah orang tersebut berpuasa atau tidak.

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah rutinitas bagi setiap Muslim di seluruh dunia. Puasa Ramadhan adalah kewajiban yang merupakan perintah langsung dari Allah Swt. yang terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 183:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Syarat Puasa Ramadhan

Hal pertama yang mesti diperhatikan dalam Pedoman Puasa Ramadhan Tahun 2021 adalah empat syarat sah puasa yang tercantum dalam kitab Attahrir karya Syekh Zakariya al Anshari (juz. 1 Assyarqawi Attahrir, halaman 419-420) berikut ini:

(شَرْطُ صِحَّتِهِ) أَرْبَعَةُ أَشْياَءَ (اِسْلاَمٌ وَعَقْلٌ وَنَقَاْءٌ مِنْ  نَحْوِ حَيْضٍ) كَنِفَاسٍ (وَعِلْمٌ بِالْوَقْتِ) وَهَذَا عَدَّهُ الْأَصْلُ مِنْ فُرُوْضِهِ الْآتِيَةِ وَعَبَّرَ عَنْهُ بِالْعِلْمِ بِالشَّهْرِ فَلاَيصح صوم كافر ولامجنون ولا مغمى عليه لم يفق لحظة من نهاره ولا نحو حائض ولا من جهل دخول وقت الصوم.

Syarat sebelum melakukan puasa itu ada empat:

Pertama, Islam.

Maka puasa tidaklah sah dilakukan bagi orang kafir murni sejak lahir, atau bagi orang murtad (keluar dari agama Islam), sekalipun di pertengahan melaksanakan puasa ia keluar dari agama Islam, maka puasanya tidak sah atau batal.

Kedua, berakal.

Maka bagi orang yang mengidap penyakit gila, atau  epilepsi (ayan) yang tidak memiliki kesadaran sedikit pun di siang hari, jika mereka melaksanakan puasa maka puasanya tidak sah. Apabila ada seseorang yang tidur seharian, maka puasanya tidak batal, karena ia masih memiliki kendali akal yang sehat meskipun dalam keadaan tidur.

Ketiga, bersih dari haid dan nifas.

Syarat yang ketiga ini ditujukan bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Apabila mereka sengaja menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum dengan niat puasa, maka puasanya tetap tidak sah. Karena dia masih menanggung hadas besar yakni haid dan nifas.

Puasa boleh dilakukan bagi keduanya jika telah suci dari haid dan nifas. Namun, misalnya ada seseorang wanita yang sudah berpuasa, namun di siang harinya sekitar jam 12 siang ia mengeluarkan darah haid, maka seketika itu puasanya batal. Bahkan lima menit sebelum azan pun, jika ia mengeluarkan darah, puasanya tetap batal meskipun ia telah lakukan hampir mendekati azan maghrib.

Keempat, mengetahui waktu puasa.

Maka wajib bagi orang yang melakukan puasa mengetahui jika telah memasuki tanggal satu Ramadhan, baik cara mengetahuinya dengan sempurnanya bulan Sya’ban atau dengan cara ruyatul hilal.

Di Indonesia, penetapan ru’yatul hilal bulan Ramadhan telah diorganisir oleh menteri agama dari pemerintahan yang akan mengumumkan penetapan tanggal satu Ramadhan, maka cukuplah bagi kita untuk dapat mengetahui waktu puasa dengan mengikuti penetapan pemerintah tersebut.

Pengertian syarat sahnya puasa yakni mengetahui waktu puasa juga diartikan bahwa seseorang tersebut mengetahui akan waktu-waktu yang diperbolehkan puasa. Jadi ia tidak akan berpuasa di waktu-waktu yang diharamkan untuk berpuasa.

Seperti puasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, puasa di hari-hari tasyrik, 11, 12, dan 13 Dzulhijah atau hari yang diragukan yakni tanggal 30 Sya’ban, karena dikhawatirkan pada tanggal tersebut, ada seseorang yang telah melihat bulan/ru’yah.

Baca: Agar Puasa Diterima, Bacalah Doa Ini Ketika Berpuasa

Niat Puasa Ramadhan

Hal penting lain yang mesti diperhatikan dalam Pedoman Puasa Ramdhan 2021 adalah niat. Saat melaksanakan puasa Ramadhan, maka wajib melakukan niat. Niat tersebut dibaca di waktu malam, dimulai sejak waktu Maghrib sampai waktu Shubuh. Apabila tidak melakukan niat di waktu malam, maka puasa Ramadhan yang dilaksanakan dinilai menjadi tidak sah.

Ulama berbeda pendapat tentang niat puasa Ramadhan yang menjadi bagian dari syarat atau bagian dari rukun puasa Ramadhan. Menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan juga Malikiyah, niat puasa Ramadhan termasuk bagian dari syarat puasa Ramadhan.

Maka dari itu, niat puasa Ramadhan ini dilakukan di luar waktu berpuasa, yaitu di waktu malam. Pendapat ini berdasarkan pada pendapat Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

واعتبرها الحنفية والحنابلة وكذا المالكية على الراجح شرطا لان صوم رمضان وغيره عبادة

Artinya: “Ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan juga ulama Malikiyah (menurut pendapat yang unggul) menganggap bahwa niat puasa Ramadhan sebagai syarat karena puasa Ramadhan dan lainnya adalah ibadah.”

Sedangkan menurut ulama Syafiiyah, niat puasa Ramadhan adalah bagian dari rukun puasa Ramadhan. Niat yang dilaksanakan adalah bagian dari rukun puasa Ramadhan seperti menahan dari makan, minum, jimak, dan sengaja muntah. Berikut pendapat Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu:

وهي عند الشافعية ركن كالامساك عن المفطرات

Artinya: “Niat menurut ulama Syafiiyah termasuk bagian dari rukun puasa Ramadhan sebagaimana menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.”

Meski merupakan bagian dari rukun, niat puasa Ramadhan wajib dilakukan di waktu malam sebelum berpuasa. Hal ini disebabkan karena sulitnya menyesuaikan niat puasa Ramadhan dengan terbitnya fajar. Dalam kitab Asnal Mathalib disebutkan berikut:

وَإِنَّمَا لم يُوجِبُوا الْمُقَارَنَةَ في الصَّوْمِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ وَتَطْبِيقِ النِّيَّةِ عليه

Artinya: “Sesungguhnya para ulama (Syafiiyah) tidak mewajibkan muqaranah (membarengkan) dalam puasa karena sulitnya mengetahui terbitnya fajar dan sulitnya menyesuaikan niat dengan terbitnya fajar.”

Dalam kitab-kitab fiqih lainnya disebutkan pula bahwa diantara fardhu puasa Ramadhan adalah melakukan niat. Puasa Ramadhan dinilai tidak sah tanpa melakukan niat di waktu malam.

Ada banyak hadis yang menjelaskan kewajiban melakukan niat puasa Ramadhan. Salah satunya adalah hadis riwayat Imam Abu Daud, Imam Al-Tirmidzi, Al-Nasai dan Ibnu Majah dari Sayidah Hafshah yang berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Artinya: “Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

Empat Syarat Niat

Hal berikutnya yang perlu digarisbawahi dalam Pedoman Puasa Ramadhan Tahun 2021 adalah syarat niat puasa Ramadhan. Agar niat puasa yang diucapkan saat akan melaksanakan puasa Ramadhan sah dan sempurna, maka para ulama memberikan beberapa syarat. Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Al-Zuhaili menyebutkan ada empat syarat niat puasa Ramadhan:

Pertama, niat puasa Ramadhan mesti dilakukan di waktu malam, dimulai sejak waktu Maghrib tiba hingga waktu Shubuh. Melakukan niat di waktu malam ini dalam kitab-kitab fiqih disebut dengan tabyitun niah. Apabila melakukan niat puasa di waktu siang setelah waktu Shubuh, maka niatnya dinilai tidak sah.

Kedua, melaksanakan niat puasa harus tayinun niah atau menentukan jenis puasa yang akan dilakukan, sebagaimana wajib menentukan jenis shalat dalam niat saat mengerjakan shalat wajib.

Dalam puasa Ramadhan, pada saat melakukan niat, maka wajib menyebut Ramadhan dalam niat. Sebagai misal, nawaitu shauma ghadin min romadhan (saya niat puasa besok dari bulan Ramadhan).

Ketiga, memutlakkan niat hanya untuk puasa Ramadhan saja, bukan untuk puasa yang lain. Misalnya, seseorang melakukan niat puasa Ramadhan, namun jika besoknya dia bepergian, maka dia mau puasa sunnah. Niat seperti ini tidak sah karena tidak memutlakkan niat hanya untuk puasa Ramadhan saja.

Keempat, harus melakukan niat setiap malam selama bulan Ramadhan. Hal ini karena setiap hari selama bulan Ramadhan adalah ibadah mustaqillah (independen) yang tidak bisa dikaitkan dengan hari sebelumnya atau setelahnya. Menggabungkan niat hanya di awal pada malam hari pertama bulan Ramadhan untuk seluruh puasa selama satu bulan dinilai tidak cukup.

Pedoman Puasa Ramadhan Tahun 2021 ini bisa dijadikan sebagai rujukan dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan nanti. Selain itu, masih banyak juga artikel-artikel lain tentang Ramadhan di Bincang Syariah yang bisa dijadikan sebagai rujukan dalam mengkhidmati ibadah di bulan Ramadhan.[]

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here