Panduan Bersuci Saat Mendaki Gunung

0
875

BincangSyariah.Com – Mendaki gunung menjadi pilihan kegiatan yang dilakukan saat waktu libur atau bahkan menyempatkan diri untuk mendaki gunung meski tak memiliki banyak waktu luang. Pemandangan yang indah, perjalanan yang seru dan penuh pengalaman dijadikan alasan bagi kaum muda untuk mendaki gunung. Lelah akan terbayar saat mencapai puncak, melihat pemandangan yang luar biasa indah.

Pendakian yang dimulai dari bawah hingga ke puncak tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Biasanya pendakian mesti membutuhkan waktu paling tidak sehari semalam. Sebelum mencapai puncak para pendaki akan melewati beberapa pos pendakian dan biasanya akan menginap semalam sebelum akhirnya mengumpulkan energi kembali untuk mendaki lagi sampai puncak.

Tentu saat pendakian sebagai muslim tidak boleh meninggalkan salat. Dalam pendakian kita tidak mudah menemukan tanah yang landai untuk bisa menunaikan salat. Perjalanan pun tidak bisa dilakukan dengan cepat hanya untuk mengejar waktu salat. Maka salat bisa dijamak atau diqada. Namun sekarang penulis hanya akan membahas tentang tata cara bersuci saat mendaki gunung.

Oleh karena suhu udara saat berada di gunung yang begitu dingin dan tidak mudah menemukan air saat pendakian maka kita diperbolehkan untuk melakukan tayamum.

Oke, jadi penulis akan mengerucutkan dua alasan diperbolehkan tayamum di antara beberapa alasan diperbolehkannya tayamum:

  1. Tidak Ada Air

Dalam pendakian kita tidak mudah menemukan sumber air. Selama pendakian air yang dibawa pun khusus untuk minum. Sedangkan hukumnya haram berwudu menggunakan air yang disiapkan untuk minum meskipun wudunya sah. Nah dalam hal ini jika air tidak ditemukan sampai waktu salat habis maka salat yang dilakukan pada saat itu tidak perlu diqada. Menurut qaul azhar (pendapat Imam Syafii yang diambil dari beberapa pendapat kuat lainnya).

  1. Suhu Udara Dingin
Baca Juga :  Memahami Ayat Tentang Perintah Tayamum

Biasanya saat sudah mendekati puncak, suhu udara sangat dingin. Meski ditemukan sumber air tapi rasanya tidak akan kuat untuk menyentuh air. Maka diperbolehkan untuk melakukan tayamum. Namun dalam hal ini tayamum yang dilakukan sebab kedinginan maka salat yang dilakukan harus diqada. Ini juga menurut Syaafi’iyyah. Sedangkan menurut Hanafiyyah dan Malikiyyah tidak perlu qada. Perlu diketahui juga bahwa Syafii dan Syafi’iyyah itu berbeda. Kalau Syafii berarti Imam Syafii itu sendiri, sedangkan Syafi’iyyah adalah murid-muridnya Imam Syafii yang bisa jadi ada perbedaan pendapat dalam memutuskan hukum permasalahn fiqih bahkan dengan Imam Syafii sendiri. Begitu juga Malikiyyah, Hanafiyyah dan Hanabilah.

Tata Cara Tayammum:

  1. Niat

Niat dilakukan saat membasuh wajah. Niat yang dibaca saat tayammum adalah untuk diperbolehkannya sholat (li istibaahatissholaat), bukan untuk menghilangkan hadas. Sebab tayamum tidak bisa menghilangkan hadas menurut qoul al-Ashoh (pendapat murid-murid Imam Syafii di antara pendapat kuat lainnya)

  1. Membasuh Wajah dan Tangan

Sama halnya seperti wudu, wajah yang diusap dengan debu adalah wajah yang dibasuh air saat wudu. Begitu juga mengusap kedua tangan sampai siku. Tentu tayamum dengan menggunakan debu yang suci. Bisa kita temukan pada permukaan batu.

Tulisan ini sudah pernah diterbitkan di nyarung.com dengan beberapa perubahan redaksi tanpa menghilangkan substansi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here