Orang-orang yang Wajib Puasa Ramadhan

2
6506

BincangSyariah.Com – Puasa sebulan penuh telah diwajibkan di bulan Ramadhan semenjak tahun kedua Hijriah. Dasar kewajiban puasa Ramadhan itu terdapat di dalam Alquran, Hadis dan Ijma’. Di dalam Alquran, Allah Swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ  تَتَّقُوْنَ (البقرة: 187)

Wahai Orang-orang beriman, telah diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kalian bertaqwa. (QS Albaqarah, 187). Sementara dasar kewajiban di dalam hadis adalah Hadis riwayat Umar ra yang pernah mendengar Rasulullah saw, bersabda

بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ البَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رَوَاهُ البُخَارِيْ وَ مُسْلِمُ)

Islam dibangun di atas lima (pondasi): persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah dan puasa Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Berdasar ijma ulama, tidak ada perbedaan pendapat di antara para imam atas kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Lalu apa saja kriteri yang membuat orang diwajibkan menunaikan ibadah puasa Ramadhan ini? Berikut ulasannya.

Pertama orang Islam. Di dalam ayat Alquran dan hadis di atas telah jelas bahwa hukum wajib puasa dibebankan kepada orang yang memeluk agama Islam. Maka bagi orang nonmuslim tidak wajib berpuasa Ramadhan, karena tidak ada pembebanan (khithab) baginya.

Kedua sudah baligh. Bagi laki-laki batas balighnya adalah jika sudah mengalami mimpi basah. Sedangkan bagi seorang wanita adalah jika ia telah mengeluarkan darah haid. Namun, jika laki-laki dan perempuan tersebut belum mengalami mimpi basah atau haid, maka batas balighnya adalah umur 15 tahun. Maka bagi anak kecil yang belum mimpi basah atau mengeluarkan darah haid tidak wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Tetapi hendaknya sejak kecil sudah dibiasakan latihan berpuasa meskipun hanya setengah hari.

Baca Juga :  Dua Kondisi Wajib Menghentikan Shalat

Ketiga orang berakal. Maka bagi orang yang mengidap penyakit gila atau epilepsi (ayan) yang tidak memiliki kesadaran sedikit pun di siang hari, tidak wajib berpuasa. Tetapi bagi orang epilespsi dan mabuk, wajib meng-qadla puasa yang ditinggalkannya.

Keempat orang yang tidak berpergian. Bagi orang yang sedang berpergian dengan jarak tertentu diperbolehkan meng-qashar shalat dan tidak wajib melaksanakan puasa Ramadhan. Kebolehkan bagi musafir tersebut untuk tidak berpuasa adalah ijma’ ulama’, dikarenakan kekhawatiran akan adanya bahaya.

Tetapi baginya diwajibkan mengqadha puasa yang ia tinggalkan, sebagaimana disebut dalam Alquran surah Albaqarah ayat 184: “……maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain,……”

Kelima orang yang sehat. Adapun bagi orang sakit ada tiga hukum antara puasa atau berbuka. 1) makruh berpuasa dan boleh berbuka jika ia masih menyangka akan terjadi hal yang membahayakan kalau ia berpuasa, maka baginya boleh tidak berpuasa. 2) Haram berpuasa dan wajib berbuka jika ia yakin akan terjadi bahaya atau ia menyangka kuat akan terjadinya bahaya ketika ia berpuasa, atau akan menyebabkan rusaknya/hilangnya anggota badan jika ia berpuasa. 3) Wajib berpuasa dan haram berbuka bagi orang yang mengalami sakit ringan saja, yakni tidak akan menimbulkan beban yang berat ketika menjalankan puasa seperti sekedar sakit pusing, sakit di bagian telinga atau gigi.

Keenam orang yang mampu berpuasa. Maka tidak wajib berpuasa Ramadhan bagi orang tua yang sudah tidak mampu untuk menjalankannya, entah disebabkan karena kepikunannya atau fisiknya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis mauquf bihukmi marfu berikut ini

Baca Juga :  Bolehkah Zakat Diberikan kepada Anak Yatim?

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “diberikan dispensasi (rukhsoh) bagi orang tua renta untuk tidak berpuasa dan ia harus memberi makan satu orang miskin setiap hari, dan tidak ada qadla puasa baginya.”(HR. Imam al Daru Quthni dan imam al Hakim, dan mereka menilai shahih terhadap hadis tersebut.).

Hal ini juga diperuntukkan bagi ibu hamil atau sedang menyusui yang khawatir terhadap kondisi anaknya yang akan kekurangan asupan asi jika ia berpuasa. Maka bagi mereka diperbolehkan tidak berpuasa.

Ketujuh orang yang suci dari haid dan nifas. Maka wajib tidak berpuasa disertai wajib menggantinya (qadha) di bulan selain Ramadhan bagi wanita yang sedang mengalami haid dan nifas. Sebagaimana ijma’ ulama’ dan hadis riwayat Aisyah ra,“kami diperintahkan meng-qadha puasa, dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here