Nasihat Fudhail bin Iyadh dan Ibn Qayyim ; Tentang Sengsara dan Bahagia

0
29

BincangSyariah.Com – Berikut Nasihat Fudhail bin Iyadh dan Ibn Qayyim ; tentang sengsara dan bahagia!

Syahdan, sejatinya nasihat merupakan mutiara hikmah yang dibutuhkan manusia. Nasihat bak pelita dalam kelam dunia. Ia bagai penuntun dalam kesesatan tiada arah. Terlebih nasihat tentang sengsara dan bahagia. Tak dapat tidak, dalam hidup manusia ada sengsara dan bahagia. Bila tak dipandu dengan hikmah, banyak yang putus asa ketika ditimpas kesengsaraan. Pun sebaliknya, lupa diri ketika bahagia. Nasihat adalah kompas hidup  manusia.

Ada dua ulama sufi besar yang petuahnya selalu dinanti. Hikmah yang keluar dari lisannya ditunggu manusia yang haus akan kebijaksanaan. Kedua tokoh besat ini bak cahaya  bintang dalam gemerlap malam. Nasihat Fudhail bin Iyadh dan Ibn Qayyim al Jauziyah selalu menarik untuk di simak. Terlebih nasihat bijak tentang bahagia dan sengsara.

Dalam Kitab al Mausua’tu al-Akhlaqi al Islamiyah, karya Khalid bin Jumah bin Usman al Khuraz.  Tertuang nasihat sufi besar, Fudhail bin I’yadh (726-803 M).

Sang sufi bertutur;

قال الفضيل بن عياض رحمه الله: خمس من علامات الشقاوة: القسوة في القلب، وجمود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا، وطول الأمل.

Artinya: Ada lima indikator  kesengsaraan: hati yang keras, air mata membeku (Tak menagisi dosa), tak punya rasa malu, cinta (tamak) akan gemerlap dunia, dan panjang angan-angan (berkhayal).

Pada sisi lain, Ibn Qayyim Al-Jauziah menuturkan tentang makna hakikat bahagia. Melalui Kitab al Fawaid Li Ibn al Qayyim, sang Imam berkata;

وقال الإمام ابن القيم: من علامات السعادة والفلاح: أنَّ العبد كُلَّما زيدَ في عِلْمِه زِيْدَ في تواضعهِ ورَحْمَتِهِ، وكُلَّما زِيدَ في عملهِ زِيدَ في خَوْفِهِ وحذَرِهِ، وكُلَّما زِيدَ في عمرهِ نَقَصَ مِنْ حِرْصِهِ، وكُلَّما زِيدَ في مالهِ زِيْدَ في سَخَائِهِ وبذلهِ، وكُلَّما زيدَ في قَدْرِهِ وَجَاهِهِ زيدَ في قُرْبِهِ مِنَ النَّاسِ وقضاءِ حوائجهم والتَّواضع لهم

Artinya; Ada pun pelbagai tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah:  pertama, sesungguhnya seorang hamba jika bertambah ilmunya, maka  bertambah pula sikap rendah hati dan kasih sayangnya, kedua, ketika bertambah amalan seorang hamba, maka sejatianya bertambah pula rasa takutnya (kepada Alloh Ta’ala) dan sikap waspadanya.

Ketiga, apabila bertambah umurnya, maka berkurang  sikap rakusnya. Keempat, kian bertambah hartanya, sejatinya bertambah pula sikap dermawanya. Kelima, Ketika bertambah jabatannya, maka seyogianya ia bertambah dekat dengan manusia dan  dan membantu mereka dan selalu rendah hati kepada sesama manusia. (Kitab al Fawaid Li Ibn al Qayyim, halaman 155)

(Baca:Kisah Dialog Dua Sufi dan Inti Ajaran Agama-agama)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here