Ukuran Minimal Ayat yang Dibaca dalam Khutbah Jumat

2
968

BincangSyariah.Com – Menurut ulama Syafiiyah, membaca ayat Al-Quran termasuk rukun dalam khutbah Jumat. Khutbah Jumat tidak sah jika di dalam khutbah Jumat pertama atau kedua tidak membaca ayat Al-Quran. (Baca: Ini Khutbah Jumat Pertama Nabi Saat Berada di Madinah)

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Qarib berikut;

وأركان الخطبة خمسة: حمد الله تعالى، ثم الصلاة على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -. ولفظهما متعين، ثم الوصية بالتقوى، ولا يتعين لفظها على الصحيح، وقراءة آية في إحداهما، والدعاء للمؤمنين والمؤمنات في الخطبة الثانية. ويشترط أن يُسمِع الخطيبُ أركانَ الخطبة لأربعين تنعقد بهم الجمعةُ

Rukun-rukun khutbah Jumat ada lima; memuji Allah, membaca shalawat kepada Rasulullah Saw, dan lafadz keduanya sudah jelas, kemudian berwasit takwa kepada Allah dan lafadnya tidak pasti menurut pendapat yang shahih, lalu membaca ayat Al-Quran di dalam salah satu dua khutbah, mendoakan orang mukmin laki-laki dan perempuan di dalam khutbah kedua. Dan, disyaratkan bagi khatib untuk memperdengarkan khutbah pada empat puluh orang yang sah melakukan Jumat.

Meski ayat Al-Quran boleh dibaca pada khutbah pertama, atau khutbah kedua, namun menurut para ulama lebih utama membacanya pada khutbah pertama. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

قوله وفي الأولى أولى أي وكون قراءة الآية في الخطبة الأولى أي بعد فراغها أولى من كونها في الخطبة الثانية

Perkataan mushannif ‘membaca ayat Al-Quran pada khutbah pertama lebih utama’, artinya membaca ayat pada khutbah pertama, artinya setelah selesai khutbah pertama, lebih utama dibanding membaca pada khutbah kedua.

Menurut Imam Syafii, ukuran minimal membaca ayat Al-Quran dalam khutbah Jumat adalah satu ayat yang bisa memberikan pemahaman makna yang dimaksud secara sempurna, baik berkaitan dengan janji-jani kebaikan, peringatan, kisah, dan lainnya.

Baca Juga :  Bolehkah Daging Akikah Dimasak untuk Acara Walimah?

Oleh karena itu, jika khatib membaca ayat yang tidak bisa dipahami maksudnya, meskipun satu ayat atau lebih, maka tetap dinilai tidak cukup dan tidak sah. Misalnya, membaca ‘Yasin’. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Raudhah berikut;

أقلها آية ، نص عليه الشافعي – رحمه الله – ، سواء كانت وعدا ، أو وعيدا ، أو حكما ، أو قصة . قال إمام الحرمين : ولا يبعد الاكتفاء بشطر آية طويلة . ولا شك أنه لو قال ثم نظر لم يكف ، وإن عد آية ، بل يشترط كونها مفهمة

Paling sedikitnya membaca ayat yang dibaca adalah satu ayat. Ini ditegaskan oleh Imam Syafii, baik berkaitan dengan janji, ancaman, hukum atau kisah. Imam Haramain berkata; Bisa jadi cukup membaca separuh ayat yang panjang. Dan, tidak diragukan lagi bahwa khatib jika membaca ayat ‘tsumma nazhor’, itu tidak cukup meskipun dihitung satu ayat. Ayat tersebut disyaratkan harus memberikan makna yang memahamkan.

2 KOMENTAR

  1. […] Menurut para ulama, membaca taradhdhi ketika nama sahabat hukumnya adalah sunnah, meskipun hal itu saat khutbah Jumat. Oleh karena itu, jika khatib menyebut nama sahabat dalam khutbahnya, maka kita dianjurkan untuk membaca ‘rodhiyallaahu ‘anhu’. Membaca taradhdhi ketika nama sahabat disebut saat khutbah Jumat lebih baik daripada diam. (Baca: Ukuran Minimal Ayat yang Dibaca dalam Khutbah Jumat) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here