Meresapi Manfaat Sosial Melaksanakan Salat

0
471

BincangSyariah.Com – Meskipun ibadah batin seperti iman, makrifat, tafakur, tawakal, sabar, rajâ’, rida terhadap qada dan qadar, cinta kepada Allah, tobat, dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk seperti tamak dan sifat buruk lainnya lebih utama dari pada ibadah lahir seperti salat, tetapi salat tetap istimewa dan merupakan ibadah lahir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan Imam Nawawî al-Jâwî dalam Kasyifah as-Sajâ Syarḥ fî Safînah an-Najâ.

Menurut Wahbah az-Zuḥailî dalam al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhû, seluruh umat Islam sama-sama menyepakati kewajiban salat untuk dilaksanakan. Sehingga setiap orang Islam yang berakal, balig, suci dari haid dan nifas, bukan penyandang disabilitas seperti orang yang terlahir dalam keadaan tuna netra dan tuna rungu, dan sampainya dakwah tentang Islam dan salat wajib melaksanakan salat lima waktu.

Ini juga berlaku bagi anak-anak Muslim yang sudah berumur 7 tahun. Orangtua wajib menyuruh anak untuk salat. Selain itu, orangtua diperbolehkan memperingatkanya dengan keras (dengan tujuan pendidikan) ketika anaknya meninggalkan salat apabila anak tersebut sudah berumur 10 tahun. Guru pun berhak melakukan hal yang sama seperti orangtua bila sudah diberi izin dari orangtua mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibrâhîm al-Bâjûrî dalam ḤÂsyiyah al-Bâjûrî ‘alâ Ibn Qâsim.

Terkait dengan keutamaan dan kemuliaan salat, Sulaiman al-Jamal menjelaskan, sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawî al-Jâwî dalam Mirqâtu Ṣu’ûdi at-Taṣdîq fî Syarḥ Sullam at-Tawfîq ilâ Maḥabbah Allâh ‘alâ at-Taḥqîq, bahwa salat merupakan induk ibadah, mikrajnya orang mukmin dan munajat kepada Tuhan alam semesta.

Hal ini tidak lain karena menurut Imam Al-Gazâlî dalam Asrâr aṣ-Ṣalâh wa Muhimmâtuhâ, salat bukan hanya sebagai tiang agama dan buhul keimanan yang hakiki, tetapi juga merupakan sarana paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga :  Berbicara Setelah Khutbah Jumat, Apakah Dilarang?

Selain itu, Sa’d Karîm al-Faqî dalam pengantar Asrâr aṣ-Ṣalâh wa Muhimmâtuhâ menjelaskan bahwa salat itu merupakan penenang hati bagi setiap umat Islam yang akan menghilangkan segala kesusahan, kegundahan, kesedihan dan kesempitan. Bahkan seorang hamba akan memperoleh seluruh kemuliaan, kesempurnaan, kegembiraan, keluhuran pangkat dan ketinggian dari penghambaan kepada Allah.

Sementara menjadi hamba Allah merupakan suatu kemuliaan yang tidak ternilai harganya, sebagaimana dibangga-banggakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. seraya berkata:

Kafâ Bî Fakhran an Akûna Laka ‘Abdan, wa Kafâ Bî Syarfan an Takûna Lî Rabban. Allâhumma Innî Wajadtuka Ilâhan Kamâ Aradta, fa Ij’alnî ‘Abdan Kamâ Aradta

“Kebanggaanku adalah menjadi hamba-Mu dan kemuliaanku adalah Engkau menjadi Tuhanku. Ya Allah, sesungguhnya aku menemukan-Mu sebagai Tuhan sebagaimana Engkau menghendakinya. Maka dari itu, semoga Engkau menjadikanku sebagai hamba sebagaimana Engkau menghendakinya”.

Oleh karena itu, menurut Wahbah az-Zuḥailî dalam al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhû, salat memiliki beberapa faidah, baik dalam hal keagamaan, kepribadian, maupun kehidupan sosial, seperti sebagai sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya, mewujudkan penghambaan kepada Allah, mendapatkan keamanan, ketenangan, dan keberuntungan.

Selain itu, salat juga dapat menghapus keburukan dan dosa-dosa, mendekatkan diri kepada Allah, menguatkan jiwa dan kehendak, mendidik akhlak agar senantiasa jujur dan amanah, mencegah diri dari perbuatan buruk dan mungkar, mengukuhkan akidah bersama untuk memperkuat persatuan, menguatkan syiar Islam secara bersama, mengukuhkan persamaan, memperkuat persatuan umat Islam, saling bantu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan lain sebagainya.

Bahkan secara spiritual, menurut Imam ‘Izz bin ‘Abd as-Salâm dalam Maqâṣid al-‘Ibâdât, salat tidak hanya berkaitan kepada individu muṣallî (orang yang melaksanakan salat) saja, tetapi juga berkaitan kepada Allah, Rasulullah dan seluruh orang beriman yang ada di langit dan di bumi.

Baca Juga :  Batalkah Salatnya Wanita yang Dahinya Tertutup Mukena Saat Sujud?

Dengan demikian, kurang tepat kiranya apabila salat dianggap sebagai ritual (ibadah) yang hanya berkaitan dengan kepentingan dan kebaikan individu semata. Mengingat ia masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan elemen kehidupan orang-orang beriman yang salih, yang akan mewarnai kehidupan manusia dengan kebenaran, kebajikan dan kedamaian.

Meresapi beberapa keterangan di atas, alangkah ruginya apabila kita meninggalkan salat hanya karena malas dan sibuk dengan urusan dunia. Alangkah ruginya apabila salat kita tidak diterima oleh Allah karena ada beberapa syarat yang belum terpenuhi.

Alangkah ruginya kalau salat kita tidak memberikan pengaruh dan manfaat apa-apa terhadap diri kita dan kehidupan sosial. Alangkah ruginya kalau salat kita tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah.

Alangkah rugi kalau salat kita tidak bisa menghapus dosa-dosa kita. Alangkah ruginya kalau salat kita tidak bisa membuat hati kita menjadi bersih dan tenang. Alangkah ruginya kalau salat kita tidak bisa mencegah perilaku-perilaku buruk kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here