Menyentuh Sesama Jenis dengan Syahwat, Apakah Membatalkan Wudhu?

0
34

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah kesempatan, penulis pernah ditanya mengenai hukum menyentuh kulit sesama jenis dengan syahwat, apakah hal itu membatalkan wudhu atau tidak. Pasalnya, meski ini jarang terjadi, ada sebagian orang yang ketika menyentuh kulit dan tubuh orang tertentu yang sesama jenis, persentuhan itu menimbulkan syahwat. Dalam keadaan demikian, apakah menyentuh kulit sesama jenis dengan syahwat tersebut bisa membatalkan wudhu?

Menurut ulama Syafiiyah, menyentuh kulit sesama jenis, meskipun dengan syahwat, tidak membatalkan wudhu. Meskipun dengan syahwat, jika persentuhan kulit itu terjadi antara sesama jenis, baik laki-laki dengan laki-laki maupun perempuan dengan perempuan, maka wudhunya tidak dibatal.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَلاَ يُنْقَضُ بِلَمْسِ الْمَحْرَمِ فِي الأْظْهَرِ، وَلاَ صَغِيرَةٍ، وَشَعْرٍ، وَسِنٍّ، وَظُفْرٍ فِي الأْصَحِّ، كَمَا لاَ يُنْقَضُ بِلَمْسِ الرَّجُل الرَّجُل وَالْمَرْأَةِ الْمَرْأَةَ وَالْخُنْثَى مَعَ الْخُنْثَى أَوْ مَعَ الرَّجُل أَوِ الْمَرْأَةِ وَلَوْ بِشَهْوَةٍ، لاِنْتِفَاءِ مَظِنَّتِهَا

Wudhu tidak batal dengan sebab menyentuh mahram, menurut pendapat yang lebih jelas. Begitu juga wudhu tidak batal jika menyentuh perempuan yang masih kecil, menyentuh rambut, gigi, dan kuku, menurut pendapat yang lebih shahih. Sebagaimana juga wudhu tidak batal jika laki-laki menyentuh laki-laki, perempuan menyentuh perempuan, banci menyentuh banci, atau banci menyentuh laki-laki atau perempuan, meskipun dengan syahwat karena tiadanya dugaan kuat timbulnya syahwat dalam hal itu.

Ulama Hanabilah berpendapat sama seperti ulama Syafiiyah. Menurut mereka, menyentuh sesama jenis meskipun dengan syahwat bukan bagian dari perkara yang membatalkan wudhu. Artinya, wudhu tidak batal jika laki-laki menyentuh laki-laki, atau perempuan menyentuh perempuan, meskipun persentuhan itu didasari atau menimbulkan syahwat.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَلاَ يُنْقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ بَدَنُهُ وَلَوْ وُجِدَ مِنْهُ شَهْوَةٌ، وَلاَ بِلَمْسِ شَعْرٍ وَظُفْرٍ وَسِنٍّ وَعُضْوٍ مَقْطُوعٍ وَأَمْرَدَ مَسَّهُ رَجُلٌ وَلاَ مَسِّ خُنْثَى مُشْكِلٍ، وَلاَ بِمَسِّهِ رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً، وَلاَ بِمَسِّ الرَّجُل رَجُلاً، وَلاَ الْمَرْأَةِ الْمَرْأَةَ وَلَوْ بِشَهْوَةٍ فِيهِمْ

Wudhunya orang yang disentuh tidak batal, meskipun disana ada syahwat. Juga wudhu tidak batal sebab menyentuh rambut, kuku, gigi, anggota tubuh yang terpotong, laki-laki tampan yang disentuh oleh laki-laki, menyentuh banci musykil, banci musykil menyentuh laki-laki atau perempuan, juga wudhu tidak batal jika laki-laki menyentuh laki-laki dan perempuan menyentuh perempuan meskipun ada syahwat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here