Sahkah Shalat Makmum yang Mendahului atau Menyamai Gerakan Imam?

0
1756

BincangSyariah.Com – Dalam shalat berjamaah terdapat beberapa aturan yang perlu diperhatikan agar shalat jamaah sah. Salah satunya adalah agar makmum mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda

عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي إِمَامُكُمْ فَلَا تَسْبِقُونِي بِالرُّكُوعِ وَلَا بِالسُّجُودِ وَلَا بِالْقِيَامِ وَلَا بِالِانْصِرَافِ

Dari Anas , ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Ketika telah selesai shalat, beliau menghadap kami dengan wajahnya, lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah kalian mendahuluiku dengan ruku’, sujud, berdiri atau selesai”. (HR. Muslim)

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan, seorang makmum dalam shalat berjamaah diperingatkan untuk tidak mendahului gerakan yang dilakukan oleh Imam. Bahkan ia dilarang untuk rukuk, selama posisi rukuk sang imam belum sempurna. Demikian pula yang berlaku untuk semua rukun shalat.

Menurut Imam Ghazali, makmum yang berjamaah mengikuti imamnya terbagi menjadi tiga golongan;

Pertama. Orang-orang yang mendapatkan pahala dua puluh tujuh kali shalat, yaitu mereka yang bertakbir dan rukuk setelah imam sempurna dalam rukuknya.

Kedua. Orang-orang yang mendapat pahala satu kali shalat, yaitu mereka yang menyamai setiap gerakan imam.

Ketiga. Orang-orang yang tidak mendapatkan pahala shalat sama sekali, yaitu mereka yang mendahului gerakan imam.

Sebagaimana Rasulullah pernah menasehati para sahabatnya;

إن العبد ليصلي ولا يكتب له من صلاته لايصفها ولاثلثها ولا ربعها ولاخمسها ولاسدسها ولاعشرها، وإنما يكتب للرجل من صلاته ما عقل منها

Sesungguhnya bagi seorang hamba yang mengerjakan shalat, tidak dicatat dari shalatnya itu setengah, seperti, seperempat, seperlima, seperenam, atau sepersepuluhnya. Akan tetapi, yang dicatat dari shalatnya adalah apa yang ia pahami darinya.” (HR. Al-baihaqi)

Jadi, Imam Ghazali menganggap orang-orang dalam dua golongan katagori terakhir telah keluar dari shalat jamaah, sehingga tidak sah shalat berjamaah yang mereka lakukan bersama sang imam.

Pahala shalat jamaah didapatkan hanya jika makmum dan imam memperhatikan adab-adab berjamaah, di antaranya agar makmum tidak mendahului gerakan-gerakan imam. Jika menyamai gerakan imam, seperti penjelasan Imam Ghazali, maka ia layaknya seseorang yang shalat sendiri, sementara jika mendahului imam tidak akan mendapatkan pahala shalat sama sekali sebab tidak dianggap sah shalatnya.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here