Menurut Mazhab Syafi’iyyah, Ini Hukum Bermakmum Pada Imam yang Beda Mazhab

11
6678

BincangSyariah.Com – Fikih yang dikenal sebagai produk hasil ijtihad ulama yang sudah memenuhi kriteria untuk berijtihad tentunya berada dalam bingkai perbedaan. Namun demikian, antara satu ulama dengan lainnya tidak menghasilkan satu produk yang sama berdasarkan perbedaan pandangan terhadap permasalahan dan dalil yang digunakan.

Sehingga, dalam berfikih kita masih mengenal keempat mazhab yang masih eksis hingga sekarang. Kita selaku manusia yang tidak memiliki kapasitas untuk berijtihad tentunya harus bermazhab pada salah satu mazhab yang kita yakini kebenarannya. Di samping itu, kita juga dilarang menggabungkan mazhab yang ada dalam satu permasalahan tertentu (talfiq).

Kemudian, salah satu produk hukum (fikih) yang menjadi perbincangan antarmazhab adalah hukum bermakmum pada imam yang beda mazhab, misalnya makmumnya bermazhab Syafi’i sedangkan imam bermazhab Hanafi, lantas bagaimana status salatnya yang tentunya fikih seputar salat antar keduanya tidak sama?

Berikut penjelasan Imam Nawawi dalam bukunya al-Majmu’ ala Syarh al-Muhazzab (j. 4 h. 228),

 فَرْعٌ) فِي مَسَائِلَ تَتَعَلَّقُ بِالْبَابِ (إحْدَاهَا) الِاقْتِدَاءُ بِأَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الْمُخَالِفِينَ بِأَنْ يَقْتَدِيَ شَافِعِيٌّ بِحَنَفِيٍّ أَوْ مَالِكِيٍّ لَا يَرَى قِرَاءَةَ الْبَسْمَلَةِ فِي الْفَاتِحَةِ وَلَا إيجَابَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَرْتِيبَ الْوُضُوءِ وَشِبْهَ ذَلِكَ وَضَابِطُهُ أَنْ تَكُونَ صَلَاةُ الْإِمَامِ صَحِيحَةً فِي اعْتِقَادِهِ دُونَ اعْتِقَادِ الْمَأْمُومِ أَوْ عَكْسِهِ لِاخْتِلَافِهِمَا فِي الْفُرُوعِ فِيهِ أَرْبَعَةُ أَوْجُهٍ (أَحَدُهَا) الصِّحَّةُ مُطْلَقًا قَالَهُ الْقَفَّالُ اعْتِبَارًا بِاعْتِقَادِ الْإِمَامِ (وَالثَّانِي) لَا يَصِحُّ اقتداؤه مطلقا قاله أبو اسحق الاسفرايني لِأَنَّهُ وَإِنْ أَتَى بِمَا نَشْتَرِطُهُ وَنُوجِبُهُ فَلَا يَعْتَقِدُ وُجُوبَهُ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَأْتِ بِهِ (وَالثَّالِثُ) إنْ أَتَى بِمَا نَعْتَبِرُهُ نَحْنُ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ صَحَّ الِاقْتِدَاءُ وَإِنْ تَرَكَ شَيْئًا مِنْهُ أَوْ شَكَكْنَا فِي تَرْكِهِ لَمْ يَصِحَّ (وَالرَّابِعُ) وَهُوَ الاصح وبه قال أبو اسحق المروزى والشيخ أبو حامد الاسفراينى والبندنيجى والقاضي أبى الطيب والاكثرون ان تحققنا تركه لشئ نَعْتَبِرُهُ لَمْ يَصِحَّ الِاقْتِدَاءُ وَإِنْ تَحَقَّقْنَا الْإِتْيَانَ بِجَمِيعِهِ أَوْ شَكَكْنَا صَحَّ وَهَذَا يَغْلِبُ اعْتِقَادَ الْمَأْمُومِ.

Baca Juga :  Hukum Bersuci Menggunakan Air yang Terkena Sengatan Sinar Matahari

“Dalam kajian ini terdapat persoalan mengenai bermakmum pada imam yang tidak satu mazhab dengan makmum, misalnya Syafi’i bermakmum pada imam yang bermazhab Hanafi atau Maliki yang tidak mewajibkan pembacaan basmalah dalam al-fatihah, tidak mewajibkan tasyahhud akhir, tidak mewajibkan adanya tertib saat berwudhu’ dan lain sebagainya. Dalam hal ini dalam ada empat pandangan. Pertama, sah secara mutlak dengan didasarkan pada keyakinan imam. Kedua, tidak sah secara mutlak dengan didasarkan pada keyakinan makmum. Ketiga, jika ia melakukan apa yang menjadi syarat sahnya salat bagi kita maka sah dan jika sebaliknya maka tidak sah. Keempat, jika kita meyakini dia tidak melakukan syarat apa yang menjadi syarat sahnya salat bagi kita maka salat kita tidak sah, namun jika jika kita yakin atau ragu dia melakukan sesuatu yang menjadi syarat sahnya salat bagi kita maka salat kita sah-sah saja.”

Dari uraian panjang di atas maka dapat disimpulkan  bahwa  dalam mazhab Syafii, masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang terdapat dalam keempat pandangan ulama sebagai berikut:

  1. Sah secara mutlak. Pendapat ini dilontarkan oleh Imam al-Qoffal (Syafi’iyah) dengan alasan yang di i’tibar dalam kasus seperti ini adalah i’tiqodul imam (keyakinan imam).
  2. Tidak sah secara mutlak, bahkan meskipun imam tersebut melakukan apa yang menjadi syarat bagi kita (Syafiiyah). Pendapat ini dilontarkan oleh imam Abu Ishaq al-Isfirayini. Alasannya karena meski imam tersebut melakukan apa yang menjadi syarat bagi kita (Syafiiyah), tapi dia tidak meyakini sebagai kewajiban, sehingga dia dihukumi seperti tidak melakukannya.
  3. Jika ia melakukan apa yang menjadi syarat sahnya salat bagi kita maka sah dan jika sebaliknya maka tidak sah
  4. Jika diyakini imam tidak melakukan apa yang menjadi syarat bagi kita (Syafiiyah) maka tidak sah bermakmum kepadanya, dan jika diyakini melakukan atau diragukan maka sah. Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat. Di antara yang berpendapat demikian adalah Imam Abu Ishaq al-Marwazi, Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini, Imam Al-Bandaniji.
Baca Juga :  Hukum Salat Malam Hanya Pada Malam Jumat

 

11 KOMENTAR

  1. Kajian apa ini gk jelas.
    Ingat lah madzhab itu jalan bukan tujuan akhir dlm beragama. Tujuan akhir orang beragama adalah al kitab dan al sunnah bukan mazhab atau qaulul ulama.
    صلوا كما رايتموني اصلى
    خذوا عني مناسككم
    Bahaya besar buat agama umat ini saat tujuan akhir beragama adalah bukan selain Rosulullah.

    • adakah kita sendirian memahami al quran dan hadis? Dari komen di atas, adakah katakata yg di lontarkan memang dari yg kamu sendiri fahami dari al quran atau hadis, atau ada orang lain yg memberitahu kamu begitu samada secara lisan atau pun bertulis? Inilah kekeliruan dgn slogan yg muluk.

      Setiap ibadah khususiah ada rukun, ada syarat sah dan batal. Ini ijtihad ulamak yg berijtihad begitu. Cuba beritahu bagaimana wudhu yang sah tidak batal yg kamu kutip sendiri dari al quran dan hadis sahaja? Sedarkah kamu kata slogan kamu hanya mengelirukan umat. Jika pun kamu seorang yg faqih dan mujtahid mutlak, pendapat kamu itu hanya yerpakai kepada kamu sahaja. Kamu negitu kah?

  2. Fanatik madzhab, menganggap diluar madzhabnya salah. Tidak sesuai dengan perkataan para imam madzhab dan tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

  3. Al-Qur’an dan Hadis bisa dipahami bagi orang2 yang memiliki kadar keilmuan sangat mumpuni dan punya keteladanan yang tinggi dalam ritual keagamaan. Seseorang yang tidak tergolong memiliki kemampuan untuk memahami keduanya harus dan wajibmerujuk pada pendpat ulama’. Tidak ada orang didunia ini pada era sekarang yang murni kembali kepada keduanya tanpa bantuan dari keilmuan atau pendapat ulama’.
    Adagium kembali kepada al-Qur’an dan hadis jangan dipahami mentah2 agar tidak menjederai kehebatan keduanya, yang puncaknya akan mengalami ketersesatan. Ingat, para ulama’ juga kembali kepada keduanya dalam berbendapat tapi tidak sebagaimana kalian pahami.
    Coba bagaimana anda mengetahui cara rasul shalat tanpa adanya ulama yang mampu menjabarkannya dalam bentuk fikih.
    Ingat juga, bahwa rasul ketika mengutus muadz bin jabal ke yaman, bagaimana kebanggaan Rasul ketika muadz bisa berpe

  4. Al-Qur’an dan Hadis bisa dipahami bagi orang2 yang memiliki kadar keilmuan sangat mumpuni dan punya keteladanan yang tinggi dalam ritual keagamaan. Seseorang yang tidak tergolong memiliki kemampuan untuk memahami keduanya harus dan wajibmerujuk pada pendpat ulama’. Tidak ada orang didunia ini pada era sekarang yang murni kembali kepada keduanya tanpa bantuan dari keilmuan atau pendapat ulama’.
    Adagium kembali kepada al-Qur’an dan hadis jangan dipahami mentah2 agar tidak menjederai kehebatan keduanya, yang puncaknya akan mengalami ketersesatan. Ingat, para ulama’ juga kembali kepada keduanya dalam berbendapat tapi tidak sebagaimana kalian pahami.
    Coba bagaimana anda mengetahui cara rasul shalat tanpa adanya ulama yang mampu menjabarkannya dalam bentuk fikih.
    Ingat juga, bahwa rasul ketika mengutus muadz bin jabal ke yaman, bagaimana kebanggaan Rasul ketika muadz ditanya tentang pijakan yang akan dijadikan sndaran hukum ketika muadz sudak tidak bisa mengembalikan permasalan yang tampak pada al-Qur’an dan hadis secara langsung yang kemudian muadz menjawab “saya akan menggunakan akal untuk menalar hukum” yang kemudian menjadi pendapat dan tidak disalahkan oleh rasul.

  5. Mazhab merupakan suatu kecendrungan memilih salah cara yang diambil oleh empat imam,Hanafi,Maliki,Syafii dan Hambali,yang manhajnya sampai ke Rasullah saw,jadi shalat berjamaah itu makmum harus ikut imam,klau iman mengikuti salah mazhab imam yang empat,maka makmum harusnya ikut dengan iman,kalau simakmum tidak ikut imam bearti dia tidak shalat berjamaah,mengenai niat tidak lah harus sama antara imam dan makmum,niat itu tergantung apa yang akan kita lakukan,demikianlah beberapa komentar yang saya sampaikan sebagaimana yang saya pelajari,salah dan jaggal saya mohon maaf,terima kasih.

  6. Klu bljr agama hati2 apalagi melalui buku,bljarlah agama pada orng yg menguasi ilmu NAHWU dan SARAF.MATAN JURUMIAH/AMSILATULJADID.

  7. Netizen anonim anti mazhab yang coment di sini hanyalah orang awam sok tahu yang jadi korban dari para ustadz salafi wahabi sok pinter dan belagu, orang orang tipe model gini kayak yang udah pernah hidup sezaman dengan nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here