Ini Sembilan Syarat Sah Menjadi Imam Shalat

7
26366

BincangSyariah.Com – Dalam menjalankan shalat berjamaah kita mungkin sering menemukan hal ini. Bacaan imam tidak fasih. Misalnya tidak sesuai dengan tajwid Alquran. Yang harusnya panjang dipendekkan, yang pendek malah dipanjangkan. “Makhraj” setiap hurufnya berantakan. Kha’ dibaca ha, sin dibaca shad, dan sebagainya. Belum lagi gerakan shalat imam yang tidak sempurna. Misalnya saat duduk tasyahud akhir telapak kaki justru menjadi tumpuan pantat, atau seperti duduk tasyahud awal. Sahkah shalat kita? Tidak adakah seorang dalam komunitas di masjid kita shalat itu yang memiliki bacaan yang baik dan pengetahuan akan rukun-rukun shalat yang benar?

Selain dua hal di atas, para ulama menjelaskan banyak syarat sah menjadi imam shalat. Sebenarnya apa saja syarat sah menjadi imam shalat?

Syekh Wahbah Al-Zuhaily menjelaskan diantaranya sembilan syarat sah menjadi imam shalat dalam Al-Fiqh Al-Islami Wa-Adillatuh Al-Shamil Lil-Adillah Al-Shar’iyah Wa-Al-Ara’ Al-Madhhabiyah (Damaskus, 1984, h. 174-182).

  1. Islam

Ini sudah jelas. Jadi seorang yang kafir akidahnya tidak sah menjadi imam shalatnya Muslim.

  1. Berakal

Seorang yang mabuk, yang gila, yang hilang akal karena penyakit, tidak sah menjadi imam. Bahkan shalatnya bagi dirinya sendiri sudah batal. Mereka bisa menjadi imam jika sedang dalam keadaan sadar, namun jika sudah terbiasa dalam kondisi hilang akal, maka makruh berjamaah di belakang mereka.

  1. Balig

Tidak sah berjamaah kepada mereka yang belum mengalami mimpi basah, meskipun mereka telah mampu membedakan baik dan buruk (mumayyiz).

  1. Laki-laki

Seorang perempuan atau banci (mereka yang berlagak dan meniru tindakan yang khas perempuan, khuntsa) tidak sah memimpin shalat jamaah yang diikuti oleh laki-laki. Hal ini berlaku baik dalam shalat sunah maupun wajib. Bila makmumnya semuanya perempuan maka tidak disyaratkan imamnya harus laki-laki. Artinya perempuan boleh menjadi imam bagi makmum perempuan lainnya.

  1. Suci dari hadas dan najis
Baca Juga :  Laki-Laki Ini Masuk Surga Padahal Belum Pernah Shalat

Tidak sah seorang yang masih menanggung hadas, baik kecil maupun besar, menjadi imam. Juga tidak sah seorang yang masih terkena najis padanya. Karena keduanya tidak sah shalatnya untuk dirinya sendiri.

  1. Bagus bacaan dan menyempurnakan rukun shalat

Seorang imam hendaknya memperindah bacaan sebatas pada bacaan yang tidak sah shalat kecuali dengannya. Jadi seorang yang bagus bacaan Alqurannya (qari’) tidak sah menjadi makmum bagi mereka yang tidak jelas bacaan Alqurannya (ummiy).

Begitu pula tidak sah imam yang tidak bisa melakukan rukuk, sujud, dan duduk dalam shalat dengan benar.

  1. Imam tidak sedang makmum pada selainnya

Bila kita masuk ke masjid dan menemui jamaah shalat yang berantakan safnya, maka pastikan kita tidak bermakmum pada makmum lainnya. Adapun bermakmum pada makmum lain yang sudah selesai shalat imamnya maka boleh.

  1. Benar dan fasih bacaannya sesuai dengan makhraj

Hal yang cukup sering ditemui adalah mereka yang berusaha memfasih-fasihkan bacaannya namun tidak tahu makhraj yang benar bagi tiap-tiap huruf. Akhirnya mereka menukar huruf sin dengan shad atau dengan tsa’, mengganti dzal dengan zay. Maka tidak sah makmum dengan imam yang demikian. (Baca: Hukum Belajar Ilmu Tajwid untuk Membaca Al-Qur’an)

  1. Shalatnya imam sah menurut mazhab makmumnya

Misalnya seorang pengikut mazhab Hanafi makmum kepada pengikut mazhab Syafii yang sebelum shalat mengalir darahnya dan dia tidak wudu lagi; atau seorang pengikut mazhab Syafii makmum kepada pengikut mazhab Hanafi yang sebelum shalat menyentuh wanita lain (ajnabiyah) dan tidak wudu lagi. Maka shalat keduanya batal. Hal ini demikian karena shalat imamnya menurut makmum tidak sah.

Demikian penjelasan syarat sah imam. Ini semua adalah batasan minimal seorang boleh menjadi imam. Bila terdapat banyak orang yang memenuhi syarat di atas, maka dalam ilmu fikih, imam ditentukan melalui sub-bahasan “siapa yang paling berhak menjadi imam”.

Baca Juga :  Hukum Melakukan Umrah Sebelum Berhaji, Apakah Boleh?

Namun jika seorang tifak memenuhi syarat di atas, hendaknya dia tidak mengajukan diri menjadi imam. Karena yang sering terjadi adalah mereka yang tidak memiliki bacaan tajwid yang benar, makharijul huruf tepat, dan keindahan lantunan bacaan, berusaha mengajukan diri menjadi imam. Bahkan mereka yang tidak dapat membedakan duduk di antara dua sujud dengan duduk tasyahud akhir, misalnya, hendaknya legowo menjadi makmum saja.

Wallahu a’lam

7 KOMENTAR

  1. No.9 masih butuh penjelasan lebih banyak agar org seperti saya ngerti krn contoh yg diberikan kayax masih kabur dikit tks

  2. Sekilas masukan.. Intinya imam dan makmum harus bermazhab yang sama dalam melaksanakan shalat berjamaah.. Misalnya imam berpedoman dengan mazhab syafii, mulai dari syarat/rukun sebelum masuk dalam shalat, begitu juga dengan rukun shalat dan hal” yang membatalkan shalat.. Makmum juga demikian, harus sinkron antara imam dan makmum ( berpedoman pada mazhab yang sama ).. Syukran !!

  3. Sekilas masukan.. Intinya imam dan makmum harus bermazhab yang sama dalam melaksanakan shalat berjamaah.. Misalnya imam berpedoman dengan mazhab syafii, mulai dari syarat/rukun sebelum masuk dalam shalat, begitu juga dengan rukun shalat dan hal” yang membatalkan shalat.. Makmum juga demikian, harus sinkron antara imam dan makmum ( berpedoman pada mazhab yang sama ).. Syukran !!

  4. Sekilas masukan.. Intinya imam dan makmum harus bermazhab yang sama dalam melaksanakan shalat berjamaah.. Misalnya imam berpedoman dengan mazhab syafii, mulai dari syarat/rukun sebelum masuk dalam shalat, begitu juga dengan rukun shalat dan hal” yang membatalkan shalat.. Makmum juga demikian, harus sinkron antara imam dan makmum ( berpedoman pada mazhab yang sama ).. Syukran !!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here