Meninggalkan Salat Saat Perjalanan, Apakah Boleh Diqada’ dengan Cara Diqasar?

0
2706

BincangSyariah.Com – Saat kita dalam perjalanan, terkadang ada sebab dan kondisi tertentu yang menyebabkan kita tidak sempat melaksanakan salat sehingga salat tersebut harus kita ganti ketika kita sampai di rumah. Saat kita mengqada salat tersebut di rumah, apakah boleh di-qasar mengingat salat yang ditinggalkan adalah salat pada saat kita sedang perjalanan?

Salat yang ditinggalkan saat dalam perjalanan dan kemudian diqada’ pada saat kita sudah sampai di rumah, maka menurut qaul qadim (pendapat lama) dari Imam Syafii, boleh diqada’ dengan cara diqasar. Hal ini karena salat tersebut tetap dinilai sebagai salat safar (perjalanan) sehingga boleh diqada’ ketika di rumah dengan cara diqasar.

Adapun menurut qaul jadid (pendapat baru) dari Imam Syafii, salat tersebut tidak boleh diqada’ dengan cara diqasar. Ia wajib dilakukan secara itmam atau sempurna. Hal ini karena sebab kebolehan mengqasar salat, yaitu safar, sudah hilang. Ini merupakan pendapat yang paling sahih.

Karena itu, jika kita meninggalkan salat saat dalam perjalanan dan kemudian menggantinya ketika sudah di rumah, maka kita sebaiknya melakukannya dengan cara itmam atau sempurna, tanpa qasar. Hal ini karena kita sudah tidak dalam perjalanan lagi saat mengqada’ salat tersebut, sementara alasan dibolehkan mengqasar salat adalah safar atau saat kita dalam perjalanan.

Dalam kitab al-Muhazzab, Imam Syairazi menjelaskan masalah ini sebagai berikut;

وإن فاتته صلاة في السفر فقضاها في الحضر ففيه قولان ، قال في القديم : له أن يقصر لأنها صلاة سفر فكان قضاؤها كأدائها في العدد ……..وقال في الجديد : لا يجوز له القصر ، وهو الأصح لأنه تخفيف تعلق بعذر فزال بزوال العذر ،

“Jika seseorang meninggalkan salat ketika dalam perjalanan dan kemudian mengqadanya ketika sudah sampai tujuan (bukan dalam perjalanan), maka ada dua pendapat dalam masalah ini. Imam Syafii dalam qaul qadimnya mengatakan bahwa dia boleh mengqasar salat tersebut karena salat itu tetap disebut sebagai salat safar. Maka mengqadanya boleh dilakukan sebagaimana ada’nya dalam hitungan jumlanya…Dalam qaul jadid, Imam Syafii berkata bahwa dia tidak boleh mengqasar. Dan ini merupakan pendapat yang paling sahih. Hal ini karena qasar merupakan keringanan yang berkaitan dengan uzur, maka kebolehan qashar bisa hilang dengan hilangnya uzur tersebut.”

Baca Juga :  Bolehkan Orang Bisu Menggunakan Bahasa Isyarat dalam Salat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here