Meninggalkan Puasa Ramadan dengan Sengaja, Apa yang Harus Dilakukan?

4
3810

BincangSyariah.Com – Puasa Ramadan adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim yang berakal sehat dan sudah mencapai usia baligh. Laki-laki dinyatakan baligh jika sudah mengeluarkan sperma atau bermimpi melakukan persetubuhan. Sedangkan bagi perempuan baligh jika ia sudah mengalami menstruasi atau haid.

Namun jika sampai berumur 15 belum mengalami tanda-tanda tersebut, maka ia sudah dianggap baligh. Kewajiban puasa ini sudah termaktub di dalam Alquran surah Albaqarah ayat 183, “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Di dalam hadis riwayat Ibnu Umar ra. ia berkata, “aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Islam dibangun di atas lima dasar: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Namun sayangnya ada dari umat Muslim yang berakal, sehat dan sudah mencapai usia baligh yang tidak mau menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan sengaja.

Lalu, bagaimanakah hukum orang yang  pernah meninggalkan puasa dengan sengaja? Tanpa adanya uzur syar’i karena sakit, perjalanan? Karena puasa adalah kewajiban bagi setiap muslim, maka ia telah dianggap telah melanggar syariat agama. Hendaknya ia melakukan hal-hal sebagaimana berikut:

Pertama, bertaubat kepada Allah. Karena meninggalkan syariat Islam dengan sengaja itu sama saja melakukan dosa kepada Allah dan mempermainkan agama. Sehingga langkah yang pertama harus ia lakukan adalah bertaubat kepada Allah dengan benar-benar menyesali atas apa yang telah ia lakukan, benar-benar berhenti dari menjalankan dosa, dan berniat kuat untuk tidak mengulanginya.

Hal ini karena Allah sungguh menyukai hambanya yang mau bertaubat. Sebagaimana firmannya dalam Alquran surah Albaqarah ayat 222.

Baca Juga :  Tata Cara Duduk Makmum yang Masbuk saat Imam Tasyahud Akhir

ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Kedua, menghitung puasa yang pernah ia tinggalkan dengan sengaja dan segera meng-qadha-nya atau menggantinya di bulan selain Ramadan. Karena sebelum ajal menjemput, baiknya seluruh hutang-hutang kepada Allah Swt. ini hendaknya dibayar dengan segera.

Ketiga, jika ia meninggalkan puasanya dengan sengaja itu belum di-qadha sampai datang bulan Ramadan berikutnya maka selain wajib meng-qadha puasa yang ditinggalkan, ia juga wajib membayar satu mud setiap harinya kepada orang fakir miskin atas penundaan qadha puasa tersebut. Di dalam kitab Fathul Muin karya imam Zainuddin al Malibari disebutkan

ويجب على مؤخر قضاء لشيئ من رمضان حتى دخل رمضان أخر بلا عذر في التأخير بأن خلا عن السفر أو المرض قدر ما عليه مد لكل سنة فيتكرر بتكرر السنين على المعتمد.

“Wajib bagi orang yang menunda qadha karena suatu hal dari puasa Ramadan sampai datang bulan Ramadan berikutnya dengan tanpa adanya uzur sebab perjalanan atau sakit, maka baginya satu mud untuk setiap tahunnya, dan pembayaran satu mud itu diulangi dengan berulangnya tahun, demikian pendapat yang kuat.”

Keempat, selain taubat dan melaksanakan kewajiban yang tertunda tersebut, maka hendaknya ia memperbanyak ibadah-ibadah sunnah seperti shalat malam, shalat rawatib, puasa sunah, dzikir, membaca Alquran dan berdoa kepada Allah.

Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan bagi orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja. Dan hendaknya segera dilaksanakan, karena tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dan memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.

Wallahu A’lam bis Shawab.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here