Meninggal dan Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Bagaimana Menggantinya?

0
1957

BincangSyariah.Com – Puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan, maka wajib mengganti puasa tersebut di hari yang lain, baik meninggalkan karena ada alasan syar’i atau tidak. Selama puasa tersebut belum diganti di hari yang lain, maka statusnya tetap menjadi utang yang tetap harus dibayar sampai kapan pun. Lantas bagaimana jika ada orang yang memiliki utang puasa Ramadan, namun sebelum mengganti puasa tersebut dia meninggal? Apakah puasa tersebut tetap harus diganti?

Orang yang meninggal namun dia memiliki tanggungan puasa yang belum diganti, maka puasa tersebut tetap harus diganti sejumlah hari puasa yang ditinggalkan.

Adapun cara mengganti puasa tersebut bisa dilakukan dengan salah satu di antara dua pilihan berikut:

Pertama, puasa tersebut diganti oleh walinya. Yang dimaksud wali di sini adalah seluruh kerabat, baik kedudukannya sebagai ahli waris biasa atau lainnya.

Seandainya di antara wali ini meminta orang lain untuk mengganti puasa mayit tersebut, maka hukumnya sah. Namun, apabila orang lain mengganti puasa mayit tanpa izin dari wali, maka hukumnya tidak sah.

Dalil yang mendukung puasa diganti oleh wali mayit adalah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Barangsiapa yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa, maka keluarga dekatnya yang mempuasakan dirinya.”

Juga berdasarkan hadis lain riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw., lantas dia bertanya;

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا فَقَالَ : لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ : فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

Baca Juga :  Larangan Puasa pada Pertengahan Kedua Bulan Sya’ban

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia masih memiliki utang puasa sebulan. Apakah aku harus mengganti puasanya atas nama dirinya? Beliau lantas bersabda, ‘Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?’  ‘Iya’, jawabnya. Beliau lalu bersabda, ‘Utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.”

Kedua, memberi makan untuk mengganti puasa si mayit dengan menggunakan harta peninggalannya sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan tanpa puasa di bulan Ramadan.

Makanan tersebut diberikan kepada fakir miskin dengan jumlah satu mud setiap hari tanpa puasa di bulan Ramadan. Di Indonesia, ukuran satu mud sama dengan 0.6 kg atau ¾ kg beras.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here