Meneguk Keberkahan Malam Lailatul Qadar

0
710

BincangSyariah.Com- Jika Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti dari bulan-bulan yang lain, maka Lailatul Qadar adalah malam yang selalu dinanti dari malam-malam Ramadhan yang lainnya. Ia selalu menjadi fenomena sentral pada setiap bulan Ramadhan. Ia seolah menjadi magnet superkonduktor (magnet dengan gaya tariknya yang sangat kuat) karena mampu menarik dan meningkatkan kualitas ibadah setiap muslim yang sebelumnya hanya ala kadarnya, menjadi sangat istimewa karena mendengar akan datangnya malam lailatul qadar tersebut.

Surau-surau di kampung akan terlihat semakin ramai karena para masyarakatnya mendengar akan malam tersebut, masjid-masjidpun akan dipenuhi oleh mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keberkahan malam tersebut, bahkan tidak sedikit yang menyengaja menghabiskan malam-malamnya untuk tinggal di masjid supaya tidak terlewatkan begitu saja malam yang sering disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan ini.

Lantas apa sebenarnya Lailatul Qadar? Kapan datangnya dan apa yang harus dilakukan supaya dapat mendapat keberkahan malam Lailatul Qadar tersebut ?

Al-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghayb menyebutkan sedikitnya ada dua pendapat terkait penamaan lailatul qadar.

Pertama, al-qadar diartikan sebagai ketetapan. Jadi disebut sebagai lailatul qadar karena pada malam itu adalah malam penetapan perkara-perkara dan hukum-hukum Allah, sebagaimana ucapan ‘Atha’ dari Ibnu Abbas: “sesungguhnya Allah swt telah menetapkan segala sesuatu dalam setiap tahunnya (hujan, rizki, hidup dan mati seseorang) pada malam ini (lailatul qadar)”. Namun, pendapat ini terbantahkan oleh pendapat yang menyatakan bahwa ketetapan Allah tidak ditentukan pada malam lailatul qadar ini, tapi telah ditetapkan sejak zaman azali.

Kedua, yaitu pendapat dari salah seorang tabi’in, al-Zuhri yang menyebutkan bahwa al-qadar artinya yang agung dan mulia. Ini sebagaimana disebutkan dalam penggunaan kebahasaan,

Baca Juga :  Empat Syarat Air Dikatakan Musta'mal

لفلان قدر عند فلان، أي منزلة وشرف

Seseorang memiliki posisi yang lebih tinggi dari yang lain. Artinya: kedudukan dan kemuliaan. 

Pendapat ini dikuatkan dengan ayat ke-3 surat al-Qadar yang berbunyi bahwa malam ini lebih baik dari seribu bulan, yakni karena betapa agung dan mulianya malam ini. Dalam hal ini, al-Razi menyebutkan bahwa kemulian atau kebaikan malam ini meliputi dua hal,

Pertama adalah kembali kepada fa’il (seorang yang menghidupkan malam tersebut dengan melakukan perbuatan yang sarat akan ketaatan makhluk kepada penciptanya), sehingga hamba tersebut menjadi agung dan mulia karena ketaatannya.

Kedua, adalah kembali kepada fi’il atau perbuatan (keta’atan makhluk kepada penciptaNya) pada malam itu, yaitu ketaatan akan bertambah, yang mana ta’at itu sendiri adalah simbol dari kemuliaan.

Terkait kapan datangnya malam Lailatul Qadar, malam ini tidak diketahui secara pasti tanggal dan waktu tepatnya. Namun, ada beberapa hadis yang menunjukkan secara eksplisit perkiraan datangnya malam yang dinanti-nanti ini. Salah satu riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari Sayyidah ‘Aisyah Ra.,

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Yaitu Rasulullah SAW, tatkala sudah masuk sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar dalam Fath al-Baari menyebutkan bahwa kalimat syadda mi’zarahu maksudnya adalah Rasulullah saw bersiap-siap untuk ibadah dan menambah kadar ibadah beliau dari hari-hari yang lainnya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kalimat syadda mi’zarahu (mengencangkan kainnya) maksudnya adalah Rasul saw tidak menggauli istri-istri beliau pada malam-malam itu. Karena maksud dari al-Mi’zar adalah al-Izaar, yaitu kain yang dipakai untuk bagian bawah badan (sejenis sarung).

Baca Juga :  Hukum Puasanya Orang yang Mengeluarkan Darah

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa kemungkinan malam lailatul Qadar adalah pada sepuluh hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Namun kemudian, timbul pertanyaan, dari sepuluh hari tersebut, manakah hari yang paling memungkinkan terjadinya lailatul qadar?

Para ulama’ berpendapat bahwa yang paling memungkinkan adalah pada malam-malam ganjil, hal ini didukung oleh hadits berikut ini:

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim memasukkan hadits tersebut dalam bab fadhli lailatil qadari wa al-hitsi ‘ala thalabiha (Bab terkait keutamaan lailatul qadar dan anjuran untuk mencarinya), tapi dengan redaksi yang berbeda. Dari penjelasan singkat diatas, dapat diambil hikmah, mengapa Allah tidak memberitahukan tanggal pasti tentang

Hikmah Allah tidak memberitahukan kapan tepatnya lailatul qadar yaitu untuk memotivasi kita semua untuk terus beribadah tanpa harus terpaku pada satu hari saja. Bisa dibayangkan, jika kita semua tahu waktu pasti lailatul qadar, maka banyak diantara kita yang hanya giat ibadah pada tanggal tersebut saja dan tidak giat lagi jika tanggal tersebut sudah lewat.

Kemudian, apa yang harus kita lakukan pada malam-malam tersebut? Rasulullah saw telah mencontohkan bahwa pada malam-malam itu, Rasulullah saw banyak melakukan i’tikaf, sebagaimana hadits dari Aisyah RA, beliau berkata

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان

Rasulullah Saw. beri’tikaf di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.

Imam Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menyebutkan i’tikaf secara bahasa adalah tetap atau diam, maksudnya adalah berdiam diri di dalam masjid dengan sifat-sifat tertentu, yaitu dengan memperbanyak berdzikir dan beristighfar kepada Allah swt. Hukum i’tikaf pada dasarnya adalah sunnah, dan sangat disunnahkan jika dilakukan pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan ( akan menjadi wajib bagi mereka yang bernadzar melakukan i’tikaf) .

Baca Juga :  Bagaimana Proses Turunnya Alquran pada Bulan Ramadan?

Hari ini adalah hari ke-20 kita semua berpuasa di bulan suci ini, itu artinya kita akan memasuki malam ke-21 dari bulan ini, yang mana merupakan moment yang kita tunggu untuk lebih giat dalam beribadah. Oleh karena itu, mari bersama-sama meningkatkan kualitas ibadah kita pada sepuluh hari yang tersisa di bulan suci ini, dan semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapat keberkahan malam Lailatul Qadar ini. Amiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here