Membatalkan Puasa Sunnah, Apakah Boleh Diqadha di Hari yang Lain?

0
14

BincangSyariah.Com – Ketika kita melakukan puasa sunnah, terkadang kita sengaja membatalkan puasa karena alasan tertentu. Misalnya, kita puasa di hari Senin dan karena diajak teman makan, maka kita membatalkannya. Apakah dalam keadaan demikian, kita boleh mengqadha puasa tersebut di hari yang lain, misalnya di hari Selasa?

Menurut para ulama Syafiiyah, membatalkan puasa sunnah hukumnya diperbolehkan. Tidak masalah bagi seseorang yang melakukan puasa sunnah membatalkan puasanya, baik karena ada udzur tertentu atau tidak.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ berikut;

قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله تعالى إذا دخل في صوم تطوع أو صلاة تطوع استحب له إتمامهما لقوله تعالى ولا تبطلوا أعمالكم  وللخروج من خلاف العلماء فإن خرج منهما بعذر أو بغير عذر لم يحرم عليه ذلك ولا قضاء عليه لكن يكره الخروج منهما بلا عذر لقوله تعالي  ولا تبطلو اعمالكم هذا هو المذهب

Imam Al-Syafi’i dan para ashab: Bila seseorang puasa atau shalat sunnah, maka dia dianjurkan untuk menyempurnakannya. Ini berdasarkan firman Allah:Janganlah kamu membatalkan amal-amalmu. Selain itu juga demi agar keluar dari khilafiyah para ulama. Namun bila dia membatalkan puasa dan shalatnya, baik dengan udzur atau tanpa udzur, maka hukumnya tidak diharamkan atasnya, juga tidak perlu qadha. Namun makruh bila dilakukan tanpa udzur karena ayat di atas dan itulah pandangan madzhab.

Mengenai hukum mengqadha puasa sunnah, maka menurut ulama Syafiiyah, hukumnya adalah sunnah, baik membatalkan puasanya karena ada udzur tertentu atau tidak. Karena itu, jika kita melakukan puasa sunnah dan kita membatalkannya, maka kita boleh mengqadhanya di hari-hari yang lain, seperti di hari Selasa dan lainnya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Kifayah Al-Akhyar berikut;

ومن شرع في صوم تطوع لم يلزمه إتمامه ويستحب له الإتمام فلو خرج منه فلا قضاء لكن يستحب وهل يكره أن يخرج منه نظر إن خرج لعذر لم يكره وإلا كره

Orang yang sedang berpuasa sunnah, maka tidak wajib baginya menyelesaikan puasanya. Tetapi ia dianjurkan untuk menyelesaikannya. Jika ia membatalkan puasanya, maka tidak ada kewajiban qadha padanya, tetapi dianjurkan untuk mengqadhanya. Apakah membatalkan puasa sunnah itu makruh? Masalah ini patut dipertimbangkan. Jika ia membatalkannya karena udzur, maka tidak makruh. Tetapi jika tidak ada udzur tertentu, maka pembatalan puasa sunnah hukumnya makruh.

Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan pendapat Imam Al-Rafi’i bahwa mengqadha puasa sunnah adalah dianjurkan, baik membatalkannya karena ada udzur atau tidak. Beliau berkata;

ويستحب قضاؤه سواء خرج بعذر أم بغيره

Dianjurkan untuk mengqadha puasa sunnah, baik dia membatalkannya dengan udzur atau tanpa udzur.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here