Membaca Shalawat Tidak Khusyuk Apakah Tetap Mendapat Pahala?

0
24

BincangSyariah.Com – Para ulama sepakat bahwa ikhlas merupakan komponen paling penting dalam beribadah kepada Allah. Ia merupakan kunci utama dalam proses penghambaan diri pada Allah SWT. Karena ia berperan sebagai ‘faktor penentu’ dalam menentukan amal seorang hamba akan diterima disisi-Nya atau hanya terbuang sia-sia. Ini juga sebaiknya ketika membaca shalawat. Tapi bagaimana dengan orang membaca shalawat tidak khusyuk, apakah tetap mendapat pahala?

Adab dalam Beribadah

Selain ikhlas, faktor adab dan cara kita beribadah juga sangat menentukan kualitas ibadah dan pahala yang akan diperoleh.

Contoh kecil adalah shalat. Kualitas orang yang dalam shalatnya dilakukan dengan khusyuk dan tidak khusyuk tentu berbeda. Pahala yang didapatkan akan berbeda pula. Lain halnya dengan shalawat, karena amalan shalawat memilik posisi yang istimewa.

Menurut sebagian ulama dalam bershalawat tidak menysaratkan harus ikhlas atau pun khusyuk. Bagaimanapun tingkah dan keadaan kita selama ia masih membaca shalawat, shalawat tersebut diterima Allah dan mendapat pahala.

Hal ini didasari oleh Hal ini didasari pada hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Darda’:

كُلُّ الاَعْمَالِ فِيهَا الْمَقْبُولُ وَالمَرْدُودُ إِلَّا الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَإِنَّهاَ مَقْبُولَةٌ غَيْرُ مَرْدُوْدَةٍ

“Semua amal manusia itu adakalanya ditolak dan adakalanya diterima kecuali shalawat kepadaku, karena itu selalu diterima”

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitabnya Taqrib al-Ushul fî Tashil al-Wushul li-Ma’rifati Rabb wa Al-Rasul pernah mengutip pendapat Habib Abdurrahman bin Musthafa Al-Idrus yang beliau tulis dalam Kitab Mir’at as-Syumus. Beliau berpendapat bahwa tidak ada yang menyangsikan mengenai kepastian diterimanya shalawat, menurut beliau hal ini telah banyak disepakati ulama:

إِنَّهُ يَعْدِمُ الْمُرَبُّوْنَ فِى أَخِرِ الزَّمَان ِوَيَصِيرُ مَا يُوصِلُ إِلَى اللهِ تَعاَلى إِلَّا الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وآله وسلم مَنَامًا وَيَقَظَةً, وَإِنَّ جَمِيعَ الأَعْمَالِ مِنْهَا المَقْبُولُ وَمِنْهَا الْمَرْدُودُ إِلَّا الصَّلاةَ عَلَى النَّبِي صلى الله عليه وآله وسلم فَإِنَّهَا مَقْطُوعٌ بِقَبُولِهَا

“Pada akhir zaman sudah jarang ditemukan sosok yang dapat mendidik, sehingga tidak ada sesuatu yang bisa menghantarkan seseorang kepada Allah kecuali shalawat yang dibaca pada saat tidur dan terjaga. Karena sungguh semua amal manusia adakalanya ditolak dan adakalanya diterima kecuali shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu sudah pasti dikabulkan”

Membaca Shalawat Tidak Khusyuk dan Tidak Ikhlas

Imam Sya’roni pernah menuturkan satu kisah tentang diterimanya shalawat dalam kondisi apapun. Cerita itu beliau tulis dalam kitab kumpulan biografi miliknya; Thabaqât al-Kubrâ. Tepatnya dalam biografi Abul Mawahib As-Syadzili (w. 882H H.). Imam Abul Mawahib disini bukanlah Imam Abul Hasan Syadzili (w. 656 H) pendiri thariqah syadziliyah itu. Beliau merupakan salah seorang murid dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani yang tinggal di Mesir. Beliau sangat masyhur akan kedekatannya dengan Rasulullah saw. Sudah tak terhitung lagi berapa kali beliau bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya.

Suatu ketika Abul Mawahib As-Syadzili bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya tersebut beliau menanyakan perihal apakah pahala berupa sepuluh shalawat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang membaca shalawat itu apakah disyaratkan harus dalam keadaan khusyuk.

Tanpa diduga Rasulullah memberikan jawaban yang sungguh membuat Imam As-Syadzili begitu bahagia.

“Tidak begitu wahai Abul Mawahib, pahala shalawat tersebut akan diberikan kepada siapapun yang bershalawat walaupun ia dalam keadaan lalai sekalipun. Jika ia membaca shalawat dalam keadaan lali, maka pahala yang ia dapat sebesar gunung, para malaikat pun akan mendoakan dan meminta ampun padanya. Adapun jika ia membaca dalam keadaan yang khusyuk maka sungguh pahalanya sangat besar, tak ada yang mengetahui kecuali Allah SWT”  [Abul Mawahib Abdul Wahab bin Ali As-Sya’roni, Thabaqât al-Kubrâ al-Musammât bi Lawâqih al-Anwâr fi Thabaqât al-Akhyar, vol. 2 hlm. 75]

Melihat realita yang demikian maka tak heran jika shalawat merupakan syiar paling mudah dilakukan oleh semua orang. Karena ia tak memerlukan hal-hal rumit yang mungkin bagi orang awam sangatlah sulit, seperti harus menata hati agar ikhlas dan mengamalkan dengan khusyu sebagaimana yang dilakukan . Toh shalawat pasti akan diterima dengan keadaan dan kondisi bagaimanapun. Seperti yang pernah diungkapan oleh Syekh Abul Abbas At-Tijani dalam Jawahirul Ma’ani:

وَلَا وَسِيلَةَ عِنْدَ اللهِ أَعْظَمُ نَفْعًا وَأَرْجَى فِى اسْتِجْلَابِ رِضَا الرَّبِّ عَنِ العَبْدِ فِى حَقِّ العَامَّةِ أَكْبَرُ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِي

“Bagi orang awam, Tidak ada wasilah yang paling besar manfaatnya dan lebih prospek dalam meraih ridha Allah adalah kecuali shalawat pada Nabi Muhammad SAW”

Namun tetap saja, walaupun amalan shalawat sudah pasti diterima Allah dengan segala kondisinya. Seyogyanya kita tetap menjaga etika dan adab dalam membacanya. Karena bagaimanapun yang kita baca adalah shalawat. Tak sepantasnya kita membaca dengan seenaknya.

Menurut  Abi Ibrohim At-Tujibi sebagaimana dikutip Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam Sa’adat ad-Darain beliau menuturkan ketika membaca shalawat atau mendengar shalawat setidaknya ia harus memperhatikan tiga adab ini.

Pertama, ia dianjurkan untuk membacanya secara khusyuk dan merendahkan diri. Kedua, ketika membaca ia harus penuh pengangungan. Ketiga, tenang tidak banyak bergerak. Keempat, membayangkan seolah-olah nabi Muhammad berada dihadapannya. Dengan mengamalkan adab-adab diatas tentunya shalawat yang kit abaca akan mendapat balasan pahala yang luar biasa sebagaimana dinjanjikan oleh Nabi Muhammad SAW.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here