Hukum Membaca Hamdalah dan Shalawat Sebelum Qabul Akad Nikah

0
573

BincangSyariah.Com – Pernah terjadi di suatu akad nikah, mempelai laki-laki membaca lafadz hamdalah dan shalawat sebelum mengucapkan lafadz qabul nikah. Apakah hal itu diperbolehkan? (Baca: Salah Menyebutkan Jumlah Mahar dalam Akad Nikah, Apakah Nikah Sah?)

Pada umumnya, ketika mempelai laki-laki hendak mengucapkan lafadz qabul nikah, dia langsung mengucapkan lafadz qabul tersebut tanpa didahului dengan lafadz hamdalah dan shalawat. Mempelai laki-laki biasanya langsung mengucapkan ‘qabiltu nikahahaa (saya terima nikahnya)’ tanpa didahului dengan kalimat hamdalah dan shalawat.

Namun jika ada mempelai laki-laki membaca hamdalah dan shalawat sebelum mengucapkan lafadz qabul, maka hal itu diperbolehkan dan lafadz qabul nikahnya dinilai sah. Bahkan menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, membaca hamdalah dan shalawat sebelum ijab dan qabul nikah hukumnya mustahab atau dianjurkan.

Oleh karena itu, menurut Imam Al-Ghazali, ketika seorang wali hendak mengucapkan lafadz ijab, maka dia dianjurkan untuk membaca hamdalah dan shalawat terlebih dahulu. Misalnya, dia mengucapkan ‘Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘alaa rosuulillah, ankahtuka wa zawwajtuka ibnatii (Segala puji bagi Allah, rahmat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anakku).

Begitu juga mempelai laki-laki, dia dianjurkan terlebih dahulu membaca hamdalah dan shalawat sebelum mengucapkan lafadz qabul. Misalnya, dia mengucapkan ‘Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘alaa rosuulillah, qobiltu nikaahahaa (Segala puji bagi Allah, rahmat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, saya terima nikahnya).

Imam Al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya’ Ulumiddin sebagai berikut;

الثانية ما لا يكثر تكرره وله وقع كعقد النكاح وابتداء النصيحة والمشورة فالمستحب فيها أن يصدر بحمد الله فيقول المزوج الحمد لله والصلاة عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زوجتك ابنتي ويقول القابل الحمد لله والصلاة عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قبلت النكاح

Baca Juga :  Wajibkah Mandi Besar bagi Mualaf?

Kedua, perkara yang tidak banyak terjadi berulang seperti akad nikah, memulai nasehat dan musyawarah. Maka dalam hal itu dianjurkan untuk diawali dengan hamdalah dan shalawat. Karena itu, wali yang mengawinkan hendaknya mengucapakan ‘Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘alaa rosuulillah, zawwajtuka ibnatii (Segala puji bagi Allah, rahmat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, saya kawinkan kamu dengan anakku). Dan, penerima (mempelai laki-laki) hendaknya mengucapkan ‘‘Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘alaa rosuulillah, qobiltun nikah (Segala puji bagi Allah, rahmat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, saya terima nikahnya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here