Hukum Memasang Pembatas Antara Jemaah Laki-laki dan Perempuan dalam Shalat Berjemaah?

0
2020

BincangSyariah.Com – Di Indonesia, hampir seluruh masjid dan mushalla memasang tirai sebagai penghalang dan pembatas antara jemaah laki-laki dan perempuan. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa tirai sebagai penghalang antara jemaah laki-laki dan perempuan ini sebagai sebuah kewajiban. Jika tidak ada tirai antara laki-laki dan perempuan dalam shalat berjemaah, maka dianggap sebagai dosa. Dalam Islam, apakah wajib memasang pembatas antara jemaah laki-laki dan perempuan dalam shalat berjemaah?

Pada dasarnya, memasang tirai sebagai penghalang dan pembatas antara jemaah laki-laki dan perempuan dalam shalat berjemaah tidak wajib. Bahkan di zaman Nabi Saw, tidak ada tirai yang dijadikan pembatas antara jemaah laki-laki dan perempuan. Ini ditunjukkan melalui hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad, dia berkisah;

كَانَ رِجَالٌ يُصَلُّونَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاقِدِي أُزْرِهِمْ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ كَهَيْئَةِ الصِّبْيَانِ وَيُقَالُ لِلنِّسَاءِ لَا تَرْفَعْنَ رُءُوسَكُنَّ حَتَّى يَسْتَوِيَ الرِّجَالُ جُلُوسًا

Dahulu orang-orang laki-laki shalat bersama Nabi Saw dengan mengikatkan sarung-sarung mereka pada leher-leher mereka seperti keadaan anak-anak kecil. Dan dikatakan kepada jemaah perempuan, ’Janganlah kalian mengangkat kepala-kepala kalian sampai orang-orang laki-laki duduk dengan sempurna.

Hadis ini menggambarkan kondisi pakaian sahabat Nabi Saw ketika mereka shalat berjemaah bersama Nabi Saw. Mereka memakai sarung yang diikatkan ke lehernya sehingga ketika mereka sujud akan kelihatan bagian bawahnya. (Baca: Shalat Sendirian Berdiri atau Shalat Berjemaah Duduk, Mana Lebih Utama?)

Karena itu, jemaah perempuan yang shalat di belakang sahabat laki-laki dilarang mengangkat kepalanya dari sujud sampai sahabat laki-laki duduk dengan sempurna. Ini agar jemaah perempuan tidak melihat aurat-aurat sahabat laki-laki karena tidak ada tirai yang menghalangi penglihatan jemaah perempuan pada jemaah sahabat laki-laki.

Baca Juga :  Rukun-rukun Khutbah Jumat

Namun demikian, jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, maka lebih baik dikasih tirai sebagai pembatas antara laki-laki dan perempuan. Bahkan menurut Imam Al-Ghazali, jika terjadi fitnah dan keruskan, maka memberi tirai sebagai penghalang adalah wajib. Imam Al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin sebagai berikut;

ويجب أن يضرب بين الرجال والنساء حائل يمنع من النظر فإن ذلك أيضا مظنة الفساد والعادات تشهد لهذه المنكرات

Wajib untuk menempatkan penghalang antara laki-laki dan perempuan yang dapat mencegah pandangan, sebab hal tersebut merupakan dugaan kuat (madzinnah) terjadinya kerusakan dan norma umum masyarakat memandang ini sebagai bentuk kemungkaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here