Hukum Ibadah Sai Memakai Eskalator

2
967

BincangSyariah.Com – Sai merupakan salah satu rukun dalam rangkaian ibadah haji atau umrah, berdasarkan sabda Nabi saw.:

اسْعَوْا فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ

“Laksanakanlah sai, karena sesungguhnya Allah Swt. mewajibkan sai atas kalian.” (HR. Dar al-Quthni).

Untuk memperoleh keabsahan sai, jamaah haji diwajibkan menempuh perjalanan dari shafa hingga marwah. Sebagaimana penjelasan dalam Nihayah al-Muhtaj:

فإن الواجب استيعاب المسافة التي بين الصفا والمروة كل مرة

“Kewajiban dalam sai adalah menempuh jarak perjalanan antara shafa dan marwah dalam setiap hitungan.”

Perjalan tersebut seringkali menjadi beban bagi mereka yang memiliki fisik lemah. Sebagai solusi akhirnya banyak dari mereka menempuh perjalanan tersebut dengan eskalator sebagai sarana dalam melaksanakan sai. Ulama berbeda pendapat mengenai hukum ibadah sai memakai eskalator. (Baca: Niat dan Doa yang Dibaca ketika Mengerjakan Sa’i)

Ulama Syafiyyah membolehkan sai memakai eskalator. Hanya saja bila tanpa adanya uzur maka tidak mendapatkan keutamaan dalam menempuh perjalanan tersebut.  Hal ini sebab berjalan kaki lebih mencerminklan kerendahan hati dalam beribadah, sebagaiamana penjelasan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu‘:

الافضل أن لا يركب في سعيه الا لعذر كما سبق في الطواف لانه أشبه بالتواضع

“Lebih utama tidak menaiki sesuatu dalam pelaksanaan sai kecuali adanya udzur, seperti halnya thawaf, karena lebih rendah hati (tanpa berkendara).”

Selain itu, Imam al-Syairazi dalam al-Muhadzdzab menjelaskan demikian:

وإن سعى راكبا جاز لما روى جابر قال طاف النبي صلى الله عليه وسلم في طواف حجة الوداع على راحلته بالبيت وبين الصفا والمروة ليراه الناس ويسألوه

“Sai sambil berkendara itu boleh, karena terdapat sebuah hadis riwayat Jabir bahwa Nabi melaksanakan thawaf wada’ dan sai antara shafa dan marwah dengan menaiki kendaraanya supaya para manusia dapat melihat dan bertanya kepadanya.”

Sementara itu, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa berjalan kaki dalam menempuh ibadah sai merupakan kewajiban, sehingga bila seseorang melaksanakan sai dengan tanpa berjalan kaki maka dikenakan  dam, sebab meninggalkan kewajiban. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Nujaim dalam al-Bahru al-Raiq Kanzu al-Daqaiq berikut:

Baca Juga :  Sejarah Lari Kecil dalam Thawaf dan Sai

وقد قدمنا أن المشي فيه واجب حتى لو سعى راكبا من غير عذر لزمه دم

“Kami telah menyampaikan bahwa berjalan kaki dalam sai merupakan kewajiban, sehingga bilamana melaksanakanya dengan berkendara (atau menggunakan fasilitas) tanpa adanya udzur maka wajib dam baginya.”

Pendapat yang lebih ketat disampaikan Imam Abu Saur. Menurutnya, sai sambil berkendara atau menggunakan eskalator belum dianggap cukup dan tetap harus mengulangi sainya tersebut. Hal ini sebagaimana kutipan Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’:

وَقَالَ أَبُو ثَوْرٍ : لَا يجْزِئه ويلْزمه الْإِعاَة

“Abu Saur berpendapat, “Berekndaraan (menaiki eskalator) itu tidak sah dalam ibadah sai, dan wajib mengulanginya.”

Dapat disimpulkan bahwa hanya mazhab Syafiiyah yang membolehkan menggunakan kendaraan atau eskalator bagi orang yang sudah lanjut usia atau lemah secara fisik. Sementara itu, Imam Abu Hanifah mewajibkan bayar dam bagi yang menggunakan fasilitas eskalator sekalipun bagi orang yang berfisik lemah. Imam Abu Tsaur sangat ketat, karena menganggapnya tidak sah, dan harus mengulangi ibadah sai.

Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here